Kontemplasi atau Meditasi Sufi

Sasaran dan maksud dari muraqabah/meditasi/rabithah syarif adalah untuk memperagakan kehadiran terus-menerus ke dalam realitas syekh. Semakin seseorang memelihara pelatihan ini, semakin terungkapkan manfaatnya dalam kehidupan sehari-harinya sampai pada titik dia mencapai tataran fana dalam hadirat Syekh. Orang harus tahu betul bahwa syekh adalah jembatan antara ilusi dan realitas dan dia berada di dunia ini hanya untuk tujuan itu. 

Jadi syekh adalah seutas tali yang khas yang diulurkan kepada setiap orang yang mencari kebebasan (dari ilusi), karena hanya syekh yang dapat memberikan layanan sebagai penghubung antara seseorang yang masih terikat kepada dunia dengan Hadirat Ilahi. Agar menjadi fana di hadapan dan keberadaan syekh adalah menjadi fana dalam kenyataan, dalam Hadirat Ilahi, karena memang sesungguhnya di situlah dia berada.


Meditasi Sufi Langkah 1


Bayangkan dirimu berada dihadapan syekh. Sampaikan salammu. Tutup matamu. Pandanglah melalui mata hatimu. Jangan mencari raut muka, melainkan hanya auranya saja, ruhaniah.

Sebagai awal murid dapat memulai praktik muraqabah ini untuk jangka waktu pendek, antara 5 sampai 15 menit, dan secara bertahap menjalaninya menuju jangka waktu yang lebih panjang, bahkan merentang hingga berjam-jam sekali sesi. Yang terpenting adalah bahwa seseorang mempertahankan sebuah praktik yang konsisten untuk mendapatkan manfaat dari praktik tersebut. Jauh lebih baik dan bijaksana untuk bertahap pada sesi yang pendek secara harian daripada disiplin dan praktik yang acak. Sebuah upaya kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan kemajuan luar biasa dalam waktu yang singkat.

Ambillah wudhu dan shalat 2 rakaat (tahiyatul wudhu)
- Ucapkan Kalimat Syahadat (3 kali) : Asy-hadu an laa ilaaha illa-llah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuluh
- Istighfar (100-200 kali) : Astaghfirullah al `Azhiim wa atuubu ilayh
- Surat al-Ikhlash (3 kali): Qul huwa-llaahu ahad/ Allaahu Shamad/ Lam yalid wal lam yuulad/ wa lam yakul-lahuu kufuwan ahad
- Membaca Surat al-Fatiha
- Mencari dukungan dan kehadiran Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani atau wali dengan mengucapkan: Madad ya Sayyidi, Madadul-Haqq (Minimal 200 kali mengulang kalimat dzikir : Madadul-Haqq, Madadul-Haqq)


Meditasi Sufi Langkah 2

Mata tertutup, mohon izin untuk menyambung cahaya beliau kepada hatimu dan cahayamu kepada hati beliau. Bayangkan sebuah kontak dua arah dan kemudian, baca awrad pada langkah 1.

Ketika seseorang duduk bermeditasi dan menutup matanya, dia memfokuskan pikirannya pada satu titik tunggal. Dalam hal ini titik itu biasanya adalah konsep dari mentor spiritualnya; dus dia memfokuskan seluruh kemampuan kesaksiannya memikirkan dengan konsentrasi penuh tentang guru spiritualnya agar mendapatkan gambaran atau citra mentornya pada layar mental, selama dia masih berada dalam status meditasi itu. Sifat, karakteristik dan potensi yang terkait dengan sebuah citra juga dipindahkan pada layar pikiran ketika citra itu terbentuk pada layar mental dan pikiran menerimanya sesuai dengan itu.

Sebagai contoh, seseorang sedang memperhatikan api. Ketika gambaran tantang api itu dipindahlan ke layar pikiran, suhu dan panas api itu terekam oleh pikiran. Seseorang yang hadir dalam sebuah taman menikmati kesegaran dan kesejukan pepohonan dan tanaman dalam taman itu untuk menciptakan gambaran itu semua pada layar pikirannya. Begitu juga ketika gambaran mentor spiritual dipindahkan pada layar pikiran, Ilmu yang Dihadirkan yang beroperasi dalam diri guru spiritual, juga ikut dipindahkan dengan gambaran itu dan pikiran murid secara bertahap menyerap hal yang sama.


Meditasi Sufi Langkah 3

Duduk bersimpuh, yang rapi, tetap bersimpuh, mata tertutup, tangan di tempat, mulut tertutup, lidah ditekuk ke atas, napas terkendali, telinga mendengar al-Quran, Shalawat atau suara sendu. Ruang gelap.

Meditasi, memikirkan tentang mentor spiritual, sebuah upaya untuk memfokuskan dengan konsentrasi pikiran kita kepada seseorang, sehingga citranya dapat dipantulkan secara berulang pada layar pikiran kita, (maka) kita terbebaskan dari keterbatasan indera. Makin sering sebutir pikiran di tayangkan pada layar mental, makin jelas pula formasi (pembentukan) sebuah pola dalam pikiran itu. Dan, pola pikiran demikian ini, dalam istilah spiritualitas disebut ‘pendekatan pikiran.

Ketika kita membayangkan mentor spiritual atau Syaikh, sebagai sebuah hal dari hukum eternal, ilmu Elohistic Attributes yang beroperasi dalam Syaikh dipantulkan pada pikiran kita dengan ulangan yang berkali-kali menghasilkan pencerahan pikiran dari murid dengan cahaya yang berfungsi dalam diri Syaikh dan dilimpahkan kepadanya. Pencerahan hati murid berusaha mencapai tataran atau tahap Syaikhnya. Dalam Sufisme, keadaan ini disebut ‘kedekatan, afinitas’ (nisbat). Cara terbaik dan telah teruji untuk menikmati kedekatan, menurut spiritualitas, adalah hasrat kerinduan dari cinta.

Pikiran Syaikh terus-menerus mentransfer kepada murid spiritualnya sesuai dengan kobaran cinta dan rindu akan Syaikh, yang mengalir di dalam diri murid dan datang suatu saat ketika cahaya beroperasi dalam diri Syaikh yang sesungguhnya adalah pantulan Tampilan Ilahiah yang Indah yang dipindahkan kepada murid spiritual itu. Hal ini memungkinkan murid spiritual untuk membiasakan diri dengan Cahaya Gemilang dan Tampilan Indah. Keadaan ini, dalam istilah sufisme disebut ‘Menyatu dengan Syaikh (Fana fi Shaykh).

Cahaya Syaikh dan Tampilan Indah gemilang yang beroperasi dalam diri Syaikh bukanlah ciri pribadi Syaikh. Sebagaimana halnya murid spiritual, yang dengan perhatian dan konsentrasi penuh dedikasi, menyerap (asimilasi) ilmu dan ciri khas Syaikhnya, maka Syaikh juga menyerap ilmu dan busana Nabi e dengan dedikasi pikiran dan konsentrasi penuh.

Langkah 3a
Posisi duduk : Posisi Teratai (yoga Lotus), Wudhu adalah kunci sukses. Kapal Nabi Nuh as. melawan banjir kelalaian. Kebersihan adalah dekat dengan iman (ilahiah). Ingat bahwa bukanlah saya yang menghitung bahwa saya adalah bukan apa-apa, saya dan aku harus melebur kedalam dia. Syaikhku, Rasulku, menggiring kepada Rabbku.

Dzikir dengan penolakan (laa ilaaha) dan pembenaran (illa Allah), dalam tradisi Masyaikh Naqsybandiah?, menisyaratkan bahwa murid (sang pejalan) menutup matanya, menutup mulutnya, menekan giginya, melekatkan lidahnya ke langit-langit mulutnya, dan menahan (mengatur) napasnya.

Dia harus membaca dzikir itu melalui hatinya, dengan penolakan dan pembenaran, memulainya dengan kata LAA (“Tidak”). Dia mengangkat “Tidak” ini dari titik (dua jari) di bawah pusar kepada otaknya. Ketika mencapai otaknya kata “Tidak” mengeluarkan kata ILAAHA (“sesembahan”), bergerak dari otaknya ke bahu Kanan, dan kemudian ke bahu Kiri di mana dia menabrak hatinya dengan ILLALLAH (“kecuali Allah”). Ketika kata itu mengenai hatinya energi dan panasnya menjalar/memancar ke sekujur tubuhnya. Sang pejalan yang telah menyangkal semua yang berada di dunia ini dengan kata-kata LAA ILAAHA, membenarkan dengan kata-kata ILLALLAH bahwa semua yang ada telah dilenyapkan di Hadirat Ilahi.

Langkah 3b

Posisi Mulut dan Lidah
Menutup matanya, menutup mulutnya, menekan giginya, melekatkan lidahnya pada langit-langit mulutnya, dan menahan napas. (Secara perlahan-lahan memperlambat napas dan getaran jantungnya).


Tangan membawa rahasia yang dahsyat, mereka itu seperti antena parabolamu, pastikan bahwa mereka itu bersih dan berada dalam posisi yang semestinya. Jadi ketika kamu memulai dengan tangnmu itu, menggosok-gosoknya, ketika mencucinya dan menggosok gosoknya untuk mengaktifkan mereka, itu adalah tanda dari (angka) 1 dan 0, dan kamu sedang mengaktifkan proses kode yang diberikan Allah I melalui tangan itu. Kamu mengaktifkan mereka.

Mereka memiliki titik sembilan peluru yang terdiri dari keseluruhan sistem, seluruh tubuh. Ketika kamu menggosok jari-jari itu, sesungguhnya kamu mengaktifkan 99 Asma-ul husna Allah Maha Tunggal.

Dengan mengaktifkan mereka, kamu mengaktifkan 9 titik dalam tubuhmu.

Dan ketika mengaktifkan mereka, itu adalah seperti menghidupkan receiver (pada radio/tv), energi mengalir masuk, itu mulai berfungsi untuk dapat menerima, memecahnya dalam bentuk kode digital yang dipancarkan keluar seperti gambar atau suara sebagaimana kita kenal di zaman ini (radio dan tv).

Demikian juga halnya dengan tangan yang saling mengelilingi, itulah mengapa ketika kita menggosok-gosokkan dan membuka mereka, mereka mulai bertindak seperti lingkaran satu terhadap lainnya, menampung apapun energi yang datang, dan mereka ini mengelolanya. Lihatlah pada bagian Rahasia Tangan.


Meditasi Sufi Langkah 4

- Posisi Tangan : Jempol dan telunjuk memperagakan posisi “Allah Hu” untuk kuasa/kekuatan terbesar. Tangan diberi kode dengan kode angka, tangan kanan “18″, tangan kiri “81″ masing-masing dijumlahkan keduanya menjadi 9 dan dua 9 menjadi 99. Tangan diberi karakter dengan Asma-ul husna Allah. Dan nama ke-99 dari Rasul adalah Mustafa.. (lebih banyak lagi di depan)
- Bernapas dengan Sadar (“Hosh dar dam”)


Hosh artinya “pikiran” Dar artinya “dalam” Dam artinya “Napas” Itu artinya, menurut Mawlana Abdul Khaliq al-Ghujdawani, bahwa : “Misi paling penting bagi pejalan dalam thariqat ini adalah menjaga napasnya, dan dia yang tidak dapat menjaga napasnya, akan dikatakan tentang orang itu, ‘dia telah tersesat/kehilangan dirinya.”

Syah Naqsybandi  berkata : “Thariqat ini dibangun di atas (dengan pondasi) napas. Jadi adalah sebuah keharusan untuk semua orang menjaga napasnya di kala menghirup dan membuang napas, dan selanjutnya untuk menjaga napasnya dalam jangka waktu antara menghirup dan membuang napasnya.”

“Dzikir mengalir dalam tubuh setiap makhluk hidup oleh keharusan (kebutuhan) napas mereka bahkan tanpa kehendak sebagai sebuah tanda/peragaan ketaatan, yang adalah bagian dari penciptaan mereka. Melalui napas mereka, bunyi huruf “Ha” dari Nama Ilahiah Allah dibuat setiap kali membuang dan menghirup napas dan itu adalah sebuah tanda dari Jati Diri (Dzat) Gaib yang berfungsi untuk menekankan Kekhasan Allahu Shamad. Maka adalah penting untuk hadir dengan napas seperti itu, agar supaya menyadari (merasakan) Jati Diri (Dzat) Maha Pencipta.”

Nama ‘Allah’ yang meliputi sembilan puluh sembilan Asma-ul husna terdiri atas empat huruf : Alif, Lam, Lam dan Ha yang sama dengan suara napas – (ALLAH ). Kaum Sufisme mengatakan bahwa Dzat Allah I yang paling gaib mutlak dinyatakan oleh huruf terakhir itu yang dibunyikan dengan vokal Alif, “Ha”. Ini mewakili Gaib Absolut Dzat-Nya Allah Maha Tunggal.

Memelihara napasmu dari kelalaian akan membawa mu kepada Hadirat sempurna, dan Hadirat sempurna akan membawamu kepada Penampakan (Visi) sempurna, dan Penampakan sempurna akan membawamu kepada Hadirat (Manifestasi) Asma-ul husna Allah I yang sempurna. Allah I membimbingmu kepada Hadirat Asma-ul husna-Nya, karena dikatakan bahwa, “Asma Allah I adalah sebanyak napas makhluk”.

Hendaknya diketahui oleh semua orang bahwa melindungi napas terhadap kelalaian sungguh sukar bagi para pejalan. Maka mereka harus menjaganya dengan memohon ampunan (istighfar) karena memohon ampunan akan membersihkannya dan mensucikannya dan mempersiapkan sang pejalan untuk (menjumpai) Hadirat Benar (Haqq) Allah I di setiap tempat.


Meditasi Sufi Langkah 5
 
Bernapas :
- Menghirup melalui hidung – Dzikir = “Hu Allah”, bayangkan cahaya putih memasuki tubuh melalui perut.
- Menghembus  melalui hidung – Dzikir = “Hu”, bayangkan hitamnya karbon monoksida, semua perbuatan dosamu dikuras/didorong keluar dari dirimu.

“Pejalan yang bijak harus menjaga napasnya dari kelalaian, seiring dengan masuk dan keluarnya napas, dengan demikian menjaga hatinya selalu dalam Hadirat Ilahi; dan dia harus menghidupkan napasnya dengan ibadah dan pengabdian dan mempersembahkankan pengabdiannya itu kepada Rabbnya dengan segenap hidupnya, karena setiap napas yang dihisap dan dihembuskan dengan Hadirat adalah hidup dan tersambung dengan Hadirat Ilahi. Setiap napas yang dihirup dan dihembuskan dengan kelalaian adalah mati dan terputus dari Hadirat Ilahi.”

Untuk mendaki gunung, sang pejalan harus melintas dari dunia Bawah menuju Hadirat Ilahi. Dia harus melintas dari dunia ego keberadaan sensual (sensasi) menuju kesadaran jiwa terhadap Al Haqq.

Untuk membuat kemajuan dalam perjalanan ini, sang pejalan harus membawa gambaran Syaikhnya (tasawwur) ke dalam hatinya karena itu adalah cara paling kuat untuk melepaskan diri dari cengkeraman sensualnya. Dalam hatinya Syaikh menjadi cermin dari Dzat Absolut. Jika dia berhasil, kondisi penisbian diri (ghayba) atau “absensi” dari dunia sensasi muncul dalam dirinya. Sampai kepada tahap bahwa keadaan ini menguat dalam dirinya dan keterikatannya kepada dunia sensasi melemah dan menghilang, dan fajar dari Level Hilang Mutlak- Tidak Merasa- Selain Allah I mulai menyinari dirinya.

Derajat tertinggi dari maqam ini disebut fana’. Demikianlah Syah Naqsyband k berkata, “Jalan terpendek kepada sasaran kita, yaitu Allah I mengangkat tabir dari Dzat Wajah-Nya Yang Ahad yang berada dalam semua makhluk ciptaan-Nya. Dia melakukan itu dengan (melalui) maqam ghayba dan fana’, sampai Dzat Agung (Majestic Essence) menyelimutinya dan melenyapkan kesadarannya akan segala sesuatu selain Dia. Inilah akhir perjalanan untuk mencari Allah I dan awal dari perjalanan lainnya.”

“Pada akhir Perjalanan Pencarian dan Level Ketertarikan datanglah Level Perendahan Diri dan Penihilan. Sasaran ini adalah untuk segenap ummat manusia sebagaimana disebut Allah I dalam al-Qur’an, ‘Aku tidak menciptakan Jinn dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.’ Beribadah di sini berarti Ilmu Sempurna (Ma`rifat).”


Meditasi Sufi: Langkah 6

Mengenakan Busana Syaikh:
3 tahap perjuangan yang berkesinambungan : Memelihara Cintanya (Muhabbat), memelihara Kehadirannya (Hudur), dan melaksanakan Kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).

Kita memiliki cinta kepadanya, jadi kini kenakanlah Cahayanya dan selanjutnya bayangkan segala sesuatunya dari titik (sudut) ini, dengan busana yang kita kenakan itu. Ini adalah penopang hidup kita. Kamu tidak boleh makan, minum, shalat, dzikir atau melakukan apapun tanpa membayangkan bayangan Syaikh pada kita. Cinta ini akan menyatu dengan Hadirat Ilahi, dan ini akan membuka pintu Penihilan ke dalam-Nya.

Semakin seseorang menjaga ingatan untuk mengenakan busana dengan dia (Syaikh) semakin meningkatlah proses penihilan itu berlangsung. Kemudian penuntun itu akan meninggalkan dirimu di hadirat Rasul Allah Sayyidina Muhammad ?. Di mana sekali lagi kamu akan menjaga cinta kepada Rasul? (Muhabbat), menjaga Hadiratnya (Hudur). 

Laksanakan kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).

Fana fi Syaikh?,  Rasulullah?,  Allah?...

Penihilan Fana

Dalam keadaan spirit murid menyatu dengan spirit Syaikhnya, kemampuan Syaikh akan diaktifkan dalam diri muridnya, karena itu Syaikh menikmati kedekatan Nabi ?. Dalam situasi ini, dalam istilah sufisme disebut Penyatuan dengan Rasul? (Fana fi Rasul). Ini adalah pernyataan Nabi?, “Aku seorang manusia seperti kamu, namun aku menerima wahyu’. Jika pernyataan ini dicermati, kita melihat bahwa kemuliaan Nabi? terakhir ini adalah bahwa beliau menerima wahyu dari Allah?, yang mencerminkan Ilmu-ladduni, ilmu yang diilhamkan langsung oleh Allah ?, Pandangan yang Indah dari Allah? dan Cahaya Gemilang ke dalam hati Nabi?.

Dalam keadaan ‘Penyatuan dengan Nabi?’ seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengenali ilmu Nabi Suci?. Kemudian datanglah saat paling berharga, saat yang ditunggu-tunggu, ketika ilmu dan pelajaran ditransfer dari Nabi Suci? kepadanya sesuai dengan kapasitasnya.

Murid itu menyerap karakter Nabi Suci? sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya dan karena kedekatannya dengan Nabi Suci? dan dukungannya dia dapat mencapai keadaan ketika dia mengenali Rabbil Alamin, ketika Dia menguraikan dalam al-Quran, Ya, sesungguhnya Engkau adalah Rabbi! Kedekatan ini, dalam sufisme disebut Penyatuan dengan Allah?’ (Fana fi-llah) atau singkatnya wahdat. Setelah itu, jika seseorang dikaruniai dengan kemampuan, dia akan membuat eksplorasi di daerah yang tentangnya cerita (narasi) tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjelaskannya, karena kepekaan dan kehalusan situasinya.


Meditasi Sufi: Langkah 7


Menjadi sesuatu yang tidak ada, kendaraan sebening kristal untuk siapa pun yang ingin mengisi keberadaanmu dari Allah SWT. Malikul Mulk.

Dalam keadaan ‘Penyatuan dengan Nabi Suci saw  seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara bertahap, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengenali ilmu dari Nabi Suci SAW.

Kupandang Cahaya sehingga Aku menjadi Cahaya
In the name of Thy Lord
The Most Gracious
The Most Merciful
All praised is due to Allah
The Lord of the World
May Salvation and Peace be
For all time Sayyidina Muhammad SAW


Seiring dengan berputarnya roda waktu dan kehidupan, maka seiring itu juga seorang yang fakir ini selalu mendapatkan sejuta bahkan semiliar petunjuk, kenikmatan, serta kesempatan untuk terus hidup di bumi-Nya yang begitu hiruk pikuk dan penuh huru-hara.

Berangkat dari pengalaman-pengalaman yang telah ditempuh dan dilaluinya di berbagai belahan dunia ini, seperti Australia, Singapura, Malaysia, Saudi Arabia, dan sebagainya, tebersit niat untuk mewujudkan satu rangkaian cerita yang mudah-mudahan dari semua itu bisa menyumbangkan setetes sumbangan moral dan pengetahuan bagi kalangan yang sedang dilanda kerisauan dan kegelisahan sebagai imbas dari kehidupan yang terasa begitu berat pada saat ini.

Banyak dari kita yang mengalami “sakit” baik fisik, spirit, maupun keduanya sekaligus dan perlu mendapatkan pertolongan penyembuhan secepatnya. Semua tempat mendapatkan jatahnya masing-masing untuk kedatangan tamu istimewa yang bertitelkan malapetaka, musibah, wabah, dan penyakit. Lalu, tercetuslah pemikiran bahwa dari 10 jiwa yang hidup harus ada 1 orang yang bisa menangani, bahkan menyembuhkan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Malangnya lagi, sebagian besar dari kita sangat miskin untuk mendatangi tempat-tempat yang penuh keberkahan itu. Jika sudah begitu apakah kita mau gigit jari saja sambil menunggu keberuntungan yang datang dari langit? Kemudian penyakit itu dapat disembuhkan dengan sendirinya?

Kembali kepada wacana pembicaraan di atas, si fakir hendak berbagi cerita dan pengalaman. Dari sini, diharapkan bisa memberikan suatu pencerahan dan pengertian yang otentik tentang syarat-syarat yang harus ditempuh bagi seseorang yang ingin menjadi penyembuh agar menjadi cahaya dan berkah untuk lingkungannya sendiri karena sebenarnya tidaklah begitu sulit untuk menjadi penyembuh itu. Syaratnya sangat mudah, yaitu kalau kita mau dan bersungguh-sungguh untuk menyelaminya, mudahkan?

Everyone can be a healer! Syaratnya hanya satu, berniat dan bersungguh-sungguh di dalamnya.

Karena pada hakikatnya, Dia-lah yang menyembuhkan. Bukan si A ataupun si B. “Isyfii wa anta syaafii, laa syifaaan illaa syifaauk”. Wahai yang menyembuhkan, Engkaulah yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu. Sebagai manusia, kita hanya diperintahkan untuk berikhtiar. Setelah itu, Dia-lah yang akan menentukan serta membalas sebesar apa hasil jerih upaya kita.

Perlu kita ketahui juga bahwa ada orang-orang yang telah dikaruniai-Nya kekuatan-kekuatan supranatural sejak lahir yang bisa termanfaatkan ke dalam hal-hal spiritual; di antaranya pengobatan. Entah dia seorang Muslim, Nasrani, Yahudi, Budha, Hindu, ataupun Majusi.
Bahkan, orang yang sudah terang-terangan mengingkari adanya Tuhan Sang Pencipta pun bisa memiliki kelebihan-kelebihan itu. Hal ini disebabkan kemampuan/kelebihan pada bidang spiritual itu hanyalah suatu kelebihan/kepandaian biasa. Sama halnya dengan orang yang telah dikaruniai-Nya kelebihan pada otaknya sehingga dia bisa menjadi seorang ilmuwan, kelebihan pada ototnya sehingga dia bisa menjadi seorang atlit yang kuat, kelebihan pada hartanya sehingga dia bisa menjadi seorang hartawan atau kelebihan pada kulit dan tubuhnya sehingga dia bisa menjadi orang yang rupawan. Semua hal itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan iman dan amal soleh seseorang.

Sebagai contoh kasus, saya pernah tinggal di Sydney, Australia. Suatu waktu, saya mendapatkan perintah dari guru Spiritual saya yang menguasai seluruh kekuatan spiritual di Benua Australia (insya Allah Wali Qutubnya Australia) untuk melakukan dakwah kepada orang-orang non muslim dengan menggunakan bahasa/ucapan di dalam hati saja. Semula, saya merasa aneh dengan perintah itu. Namun, saya harus patuh kepada seseorang yang telah membawa saya terbang bebas secara spiritual ke dimensi alam lain. Kemudian, guru spiritual saya memerintahkan saya berjalan-jalan di sepanjang jalan di kota Sydney. Dengan memakai pakaian kebesaran dan pakaian keseharian saya (sorban, jubah, dan tongkat), saya pun mulai menelusuri jalan-jalan di kota Sydney sambil berusaha untuk memahami makna dari perintah itu. Hari-hari terus berlalu, bahkan minggu dan bulan pun telah saya lalui. Namun, tidak ada jawaban yang pasti dari perintah ini (berdakwah dengan bahasa hati), melainkan hanyalah cemoohan serta ejekan dari bule-bule Australia yang melihat saya sedang berjalan. Akan tetapi, ada juga orang-orang bule yang memberikan rasa hormat kepada saya, meskipun saya berpenampilan seperti ini. Saya hampir putus-asa dan hampir tidak mematuhi perintahnya.

Pada saat yang sama, saya pun sangat rindu untuk bisa bertemu lagi dengan guru spiritualku itu yang tinggalnya entah di mana. Melalui dirinya terpancar kekuatan spiritual yang sangat dahsyat. Dia hanya datang dan pergi begitu saja. Saya hanya bisa menemuinya lagi dengan satu syarat, jika saya sudah mendapatkan jawaban rahasia dari perintahnya itu. Saya hanya memanggil namanya. Kalau dia berkenan memenuhi panggilan saya, tiba-tiba dia akan muncul di sekitarku dengan senyumannya yang khas.

Siang itu, setelah salat zuhur di daerah Auburn, ketika saya sedang berjalan sambil berdakwah di dalam hatiku dengan mengucapkan, 'Yaa ayyuhannaas Quuluu Laa ilaaha Illallaah Tuflihuun'  Wahai umat manusia, ucapkanlah 'Laa ilaaha illallaah' engkau akan mendapatkan kesuksesan. Tiba-tiba, seorang pemuda bule yang tidak berbaju dengan rambut dipikok dan memakai celana gantung setengah lutut datang menghampiri saya dari arah belakang sambil berkata, “Hey mate! You want to convert all the people by the way of speaking through your heart using the Power of your Spirituality?” Lalu, dia menatap saya dan tersenyum kepada saya. Saya pun menjawabnya, “Yes of course! I want all the People embrace to Islam.” Lalu, orang itu pergi meninggalkan saya.

Kejadian itu terasa seperti hujan yang turun dari surga menyirami saya. Begitu puas, saya menjadi mengerti akan segala rahasia dari makna perintahnya. Saya merasa sangat kecil dan merasa sangatlah tidak pantas untuk menyombongkan diri dengan hafalan 30 juz Al-Quran saya, seluruh kehidupan zuhud saya, dan semua kemampuan-kemampuan saya di dalam hal spiritual. Tidak lama dari itu, Guru Spiritual saya muncul dan hadir di hadapan saya sambil menatap saya. Tatapannya penuh makna dan hanya bisa diterjemahkan melalui bahasa hati. Lalu, dia berkata, “My Son, my duty to you is over until here.” Kemudian, dia memeluk saya dan meninggalkan saya.

Dari cerita di atas, kita bisa mengambil satu pelajaran bahwa kekuatan-kekuatan spiritual itu pun telah dimiliki oleh pemuda Australia tadi. Padahal, pemuda itu belum tahu apakah agama dan kebiasaan-kebiasaan dari perbuatannya. Sehingga dia bisa mendengarkan kata-kata yang diucapkan di dalam hati. Padahal, kemampuan seperti itu hanya bisa dimiliki oleh ahli-ahli ibadah yang telah dengan sukses beribadah kepada-Nya secara ikhlas dan istiqamah selama minimal 40 tahun tanpa pernah gagal sekalipun di dalamnya.

Selain pengalaman itu, saya juga sering mengalami tekanan-tekanan/serangan-serangan dari orang-orang yang mempunyai kekuatan-kekuatan spiritual itu, baik di kereta api, bis, jalan-jalan dan di mana pun. Pernah ada seorang pemuda tampan berkebangsaan Prancis menatap saya di dalam sebuah kereta sambil memancarkan tenaga-tenaga spiritualnya seraya berkata, “I am stronger than you!”

Selain itu, saya telah banyak menemukan orang-orang, seperti paranormal terkenal, penyulap kelas dunia yang memiliki kekuatan-kekuatan spiritual itu. Itulah sebab-sebab mereka bisa menggunakan tenaga-tenaga spiritualnya untuk melihat hal-hal yang belum terjadi di masa depan tanpa bantuan jin sekalipun!

Di Indonesia sendiri, saya banyak menemukan orang-orang yang memiliki kekuatan spiritual itu. Entah dia pedagang, tentara, santri, ustadz, ataupun pegawai bank, but they don’t know that they have. Perlu kita garis bawahi, mereka memiliki kekuatan-kekuatan spiritual itu, merupakan karunia sejak lahir (turunan) atau mereka mengamalkan beberapa bacaan-bacaan tertentu. Dan ada juga yang telah memilikinya sejak lahir, lalu dipoles lagi (ditambah kekuatannya lagi) dengan mengamalkan beberapa bacaan serta ritual-ritual ibadah lainnya.

Akan tetapi, kita pun harus menggarisbawahinya lagi dengan sangat hati-hati. Bacaan-bacaan dan ritual-ritual ibadah dari sumber ilmu yang manakah yang telah dikerjakan? sumber ilmu putih ataukah sumber ilmu hitam? Kedua hal tersebut sama-sama memberikan kekuatan-kekuatan spiritual yang dapat bertambah besar. Seorang kyai dan seorang dukun sama-sama bisa menyembuhkan, tetapi berbeda sumber keilmuannya. Kalau kita datang ke seorang kyai atau paranormal yang bersumber ilmu putih, hal itu bisa memberikan berkah. Akan tetapi, kalau kita datang ke dukun atau paranormal yang bersumberkan ilmu hitam, hal itu akan menimbulkan bencana dan malapetaka di antaranya salat kita tidak akan diterima-Nya selama 40 hari.

Oleh karena itu, kita jangan terlalu mudah terpesona dengan kemampuan seseorang di dalam meramal, melihat hal-hal gaib, menyembuhkan, ataupun melakukan hal-hal yang di luar jangkauan dan kemampuan manusia biasa pada umumnya. Hendaknya, kita bisa sedikit kritis terhadap sumber ilmu yang telah dipelajari dan dimiliki orang itu supaya kita mendapatkan kesembuhan dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Mulailah segera dari sekarang dengan bersungguh-sungguh agar Anda bisa menjadi cahaya pelita bagi keluarga, tetangga, teman-teman, serta sanak famili Anda.

Jika Anda masih kosong melompong, dengan beramal secara serius dan ikhlas insya Allah, akan mulai tumbuh bibit-bibit kekuatan. Seiring berjalannya waktu kekuatan-kekuatan itu akan semakin besar dan dashyat. Hal ini akan membuat Anda dipersilakan untuk melakukan praktik-praktik pengobatan. Apalagi jika Anda telah memiliki kekuatan-kekuatan spiritual itu sejak lahir. 

Dengan sedikit pengetahuan dan polesan dari buku ini, serta niat yang sungguh-sungguh, insya Allah Anda mampu memberikan manfaat-manfaat serta pertolongan-pertolongan kepada mereka yang sangat membutuhkan uluran tangan dari orang-orang yang telah diciprati sedikit kekuatan dari ke-Maha Besaran-Nya. Sehingga Anda akan menjadi cahaya di atas cahaya, sehingga orang-orang yang ada di sekitar Anda pun akan menjadi cahaya karena pengaruh pandangan yang terbiaskan dari pancaran keagungan serta kesejukan cahaya Anda. Mereka akan mengatakan setulus hati mereka; kupandang cahaya sehingga ku menjadi cahaya.

Akhir kata, izinkanlah si Fakir ini untuk memohon maaf jika banyak kata-kata yang kurang pantas dan tidak berkenan di hati. Tetapi itulah sejengkal pengetahuan dan pengalaman spiritual yang bisa saya sampaikan kepada para pembaca yang budiman.

Sebenarnya Sukma sejati, sukma jati, guru sejati atau guru murshid sama saja…cuma sebutannya saja yang berbeda...ada juga yang menyebutnya dengan Nur Muhammad yang disebut Ruh idhlafi yang merupakan Hakikat Sukma dan ini merupakan kehendak dari Dzat Yang Maha Suci.

Nur Muhammad adalah hakikat sukma yang diakui keadaan Dzat dan merupakan perbuatan Atma dan menjadi Wahana dalam Alam Arwah (Martabat 7) dan dari Nur Muhammad inilah yang menimbulkan Unsur-unsur Kehidupan yang menjadi Asal muasal Kehidupan.

Sukma sejati adanya pada kedalaman pribadi yang di pegang oleh Sang Pribadi, melalui proses pengenalan diri sendiri maka muncullah cermin memalukan yang memberikan kenyataan kesadaran bahwa kotornya diri kita dan melalui proses selanjutnya maka kita bisa mulai mencari dan menemukan Sang Sukma sejati atau Adam Makna sama saja.

Dan dalam proses menemukan yang di butuhkan adalah totalitas Kesadaran, Keikhlasan, Ketulusan dan Kebulatan Tekad hanya untuk MencintaiNya seutuhnya, tanpa ketakutan akan neraka atau keinginan akan sorga yang ada hanya Dia.

Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4, ini sesuatu yang berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.

Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena untuk menemukan Penguasa Sukma (sukma sejati) melalui proses dan halangan yang cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.

Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.

Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4, ini sesuatu yang berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah disempurnakan atau di tundukkan oleh 'Sang Penguasa Sukma'.

Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena untuk menemukan 'Penguasa Sukma' (sukma sejati) melalui proses dan halangan yang cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.

Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.

Kenapa saya sebut sebuah perjalanan. Karena ini semua harus kita jalani sendiri, dengan mulai dari sebuah keraguan, pencarian, penemuan, pemahaman, kesadaran dan penyatuan dalam sebuah cinta kasih yang tulus, dengan pengorbanan yang tak terkira untuk sampai kesana, untuk sampai ke pantai dan melihat samudera untuk melihat dimana semua sungai bermuara (kembali).

Bagaimana pertama kali kita akan dihadang oleh nafsu 4 perkara. Mula-mula sinar lutam, sinar merah, sinar kuning, sinar putih.

Berakhirnya perjalanan. Pada zaman karamatullah kelak, waktunya maqamijabah, yakni terkabulnya segala sesuatu, segala apa yang dikehendaki terlaksana, karena lenyapnya Mutdah yang merupakan Dzat hamba, tinggallah Wajah yaitu Dzat Tuhan yang bersifat kekal.

Menuju cinta sejati adalah sebuah perjalanan yang penuh pengorbanan, saat hidup dikuasai rahsa maka nafsu menguasai jiwa, dan kita tidak akan mendapatkan atau menemukan apa-apa semuanya hanya semua, tidak abadi dan kekal.

Betul sekali bahwa orang tua, anak istri dan semua yang kita dengan, lihat, rasa dan cium semuanya hanyalah pinjaman dan akhirnya toh harus kembali ke asal. Itulah yang dinamakan Kesadaran.

Jalan bertemu suksma sejati adalah dengan menemukan Kesadaran dengan membersihkan jiwa, mengendalikan nafsu 4 menembus 3 cahaya akhir. 
-  Pertama  : ikhlas, 
-  Kedua     : rela pada hukum kepastian Allah, 
-  Ketiga     : agar merasa tidak memiliki apa-apa, 
- Keempat : harap berserah diri pada kehendak Allah Taala, tidak ada yang menyerupainya, kecuali anda tahu tempatnya, disinilah kadang diperlukan pembimbing, karena kadang banyak yang serupa atau menyerupai, tapi bukanlah yang sebenarnya.

Dalam kehidupan ini faktor yang sering dilupakan kita sebagai manusia yang kadang mentang-mentang sebagai khalifah (pemimpin) dan merupakan Tajjali (perwujudan) dari Sang Maha Sempurna, adalah dari mana kita ”berasal” dan bagaimana kita ”kembali ke asal“.

Sehingga kadang kita melupakan bahwa bahwa kita terdiri dari 2 bagian yaitu yang bernama “Jasad” (raga )dan “Ruh” (jiwa) dan dalam menempuh hidup dan kehidupan, biasanya kita lebih banyak termakan dogma dari sebuah kehidupan yang mengandalkan atau menampilkan baju dari masing-masing sehingga hakikat atau makna dari dalam bajunya jarang tersentuh.

Bagaimana Jasad atau raga itu adalah sebagai baju dari Ruh atau jiwa, jiwa menemukan raga begitu di dunia. Dahulu disana tiadalah memerlukan baju atau apapun, raga memerlukan makanan, minuman dan kebutuhan lainnya untuk bertahan di dunia, sedangkan jiwa merindukan tempatnya yang dahulu, dimana tidak memerlukan apapun di alam adam makdum.

Bagaimana sebuah raga begitu memerlukan perjuangan untuk bertahan hidup di dunia sehingga akhirnya kadang berbenturan dengan keinginan ruh yang tidak merindukan apa-apa, tetapi ruh tanpa raga adalah bukan siapa-siapa karena Keagungan Perwujudan Dzatullah tidak akan terlihat.

Demi menjaga keseimbangan haruslah kita mempertimbangkan tentang keduanya, bagaimana begitu kita berwujud sudah berbekal 4 nafsu inti, lawwammah, amarah, sufian dan muthmainah, yang apabila bicara seharus-harusnya adalah kita harus mematikan dalam wacana mematikan nafsu 4 perkara : Mati nafsunya, setiap nafsu akan merasakan maut. Mati rohnya, maksudnya yang hilang rahsanya. Mati ilmunya, maksudnya yang mati atau yang berjurang imannya. Mati hatinya, maksudnya yang mati ucapannya dengan lisan.

Dan yang melandasi hukumnya adalah ; Jalan untuk kesempurnaan Pati itu adalah Hidayatullah yang menandakan tempat yang telah diatur, serta hakikat hidup yang berada pada manusia. Kedudukan Pati petunjuk Allah taala, selamat dalam keadaan jati maksudnya bijaksana terhadap kesempurnaan sangkan paran. Bertemunya Pati itu tawakal maksudnya berserah diri kepada Allah taala, adapun bertemunya apti itu iradat Allah. Perkara Pati perbuatan Allah maksudnya merapakan kesempurnaan Dza yang bersifat Esa.

Janganlah kita terpaku pada sebuah nama atau sebutan, karena pasti akan menimbulkan perbedaan bahkan kekacauan dan berujung kehancuran.

Dalam khasanah jawa disebut sukma sejati dan sejatining sukma, dalam khasanah islam disebut ruh idhafi atau nur muhammad atau ruh al Quds (ruh suci), dalam nasrani di sebut ruh kudus, dalam hindhu atma.

Dalam perjalanannya kenapa disebut guru sejati atau guru mushid adalah pada saat kita mencari sesuatu yang murni atau sejati, abadi...bahwa kita harus menyadari bahwa DzatNya ada pada sifat hidup kita dan yang pantas kita jadikan guru adalah hanya itu, bukan yang lain yang sama dengan kita yang akan menjadi tanah lagi atau bahkan dari bangsa dilura manusia.

Dalam khasanah yang berbeda keberadaan sukma sejati tidak bisa dilepaskan dari asal mula Tuhan menciptakan Ruh suci ini dalam bentuk makhluk untuk meneruskan penzhahiran yang [paling sempurna dalam peringkat Alam Ketuhanan Dzat Yang Maha Tinggi. Dan Tuhan menhendaki ruh itu turun ke alam fana ini di peringkat paling rendah, yaitu alam Ajsam (alam kokret) yang tujuan utamanya adalah untuk memberi pelajaran kepada Ruh suci itu dan untuk mengetahui pengalamannya dalam mencari jalan kembali kepada Tuhan.

Dan dalam perjalanannya dari tingkat yang paling tinggi sampai ke tingkat paling rendah, ruh suci menempuh berbagai alam atau peringkat, mulai dari semula turun ke peringkat Akal Semesta atau Kesatuan atau Hakikat Muhammad.

Dan Ruh suci ini dihantarkan ke tempat yang paling rendah agar ia mencari jalan ke asalnya yaitu berpadu atau berdampingan denagn Tuhan seperti ketika ia berada dalam pakaian daging, darah, dan tulang itu. Melalui hati yang ada dalam badan kasar ini, wajar bila ia menanam benih rasa kesatuan dan keesaan, dan ia akan berusaha menyuburkan rasa berpadu dan berdampingan dengan Tuhan yang menciptakannya.

Dalam bumi hati itu ruh suci menanam benih keyakinan yang telah dibekalkan kepadanya oleh Tuhan dari alam Maha Tinggi dan benih itu diharapkan menjadi pokok keyakinan yang akan menghasilkan buah-buahan yang rasanya kelak akan membawa Ruh itu kembali naik ke tingkat demi tingkat hingga sampai ke hadirat Tuhan.

Penciptaan badan agar sukma sejati (ruh) dapat masuk dan menetap didalamnya, dan setiap ruh mempunyai nama tersendiri, dan Tuhan menyusun ruang-ruang dalam badan dan meletakkan ruh manusia diantara daging dan darah, dan meletakkan ruh suci ditengah hati manusia suatu ruang yang indah dan halus untuk menyimpan rahasia antara Tuhan dan hambaNya.

Ruh-ruh itu berdiam diberbagai bagian anggota badan dengan tugas masing-masing. Keberadaannya seolah-olah berlaku sebagai pembeli dan penjual bermacam barang yang mendatangkan berbagai hasil. Perniagaan semacam inilah yang mendatangkan bentuk rahmat dan berkat dari Tuhan.

Seharusnya manusia mengetahui kebutuhan dalam ruhaninya masing-masing, seharusnya tidak mengubah apa yang sudah ditetapkan atau ditakdirkan Tuhan kepadanya.

Dada adalah tempat bersemayamnya ruh dalam diri setiap insan manusia, tempat yang berhubungan dengan panca indera ini bertugas mengatur segala hal yang berkaitan dengan masalah syariat, karena dengan ini Tuhan mengatur keharmonisan alam nyata. Ruh tidak pernah mengingkari perintah Tuhan, tidak mengatakan tindakannya itu sebagai tindakannya sendiri, tetapi lebih karena ia tidak mampu bercerai dengan Tuhan.

Tuhan memberikan beberapa kelebihan bagi manusia yang memiliki ruhani yang tinggi pula; pertama, kemampuan melihat bukti-bukti wujud keberadaan Tuhan didunia yang manifestasikan dalam sifat-sifat Tuhan, kedua kemampuan melihat hal yang jamak dalam sesuatu yang tunggal dan sebaliknya dimata orang awam, ketiga kemampuan melihat hakikat dibalik alam nyata dan keempat…perasaan dekat dengan Tuhan. Inilah ganjaran karena keikhlasan dan ketulusan mencintaiNya dan berbuat semata-mata karena Dia.

Namun inipun masih berkaitan dengan alam kebendaan, begitu pula hal-hal yang dianggap luar biasa oleh sebagian orang seperti berjalan diatas air, terbang diudara, mendengar suara-suara gaib, membaca sesuatu yang berada dibenak orang lain, dll…ini masih berpijak pada kebendaan atau alam nyata.

Hendaknya dalam beramal shalih manusia tidak seperti “Pedagang” yang selalu dalam melakukan sesuatu haruslah ada untungnya, apalagi ini dengan Tuhan.


Ruh dalam Hati

Hati adalah tempat bergeraknya ruh, dan ilmu yang mengulas tentang gerakan hati disebut ilmu thariqah. Kerjanya berkaitan dengan 4 nama Allah. Sebagaimana dengan 12 nama Dzat…4 nama ini tidak berhuruf dan tidak berbunyi, sehingga nama-nama itu tidak dapat diucapkan.
Pada setiap peringkat (dari 4 tingkatan) yang dilalui oleh ruh terdapat 3 buah nama yang berbeda. Dan dengan cara ini Tuhan dapat memegang hati kekasihNya yang sedang dalam perjalanan cinta menuju kepadaNya.

Ada 7 titik, yang 3 merupakan titik inti dan yang 4 adalah pendamping dan apabila diolah nantinya akan akan berhubungan dengan 9 lubang di badan kita.

Cara pengolahannya ada beberapa cara :
1. Dengan berpuasa lahir dan batin, bukan berpuasa hanya puasa lahir tapi batin juga karena lahir hanya menggembleng lahir saja (jasmani ), tetapi batin akan meggembleng lahir dan batin.
2. Meditasi, dengan pengolahan nafas secara benar dan teratur, kontinyu, karena nafas adalah tali jiwa.
3. Dengan adanya pembukaan titik melalui orang lain yang bisa membukanya…..tetapi biasanya ini kurang membuat kita lebih matang dan kurang bisa mengolahnya dengan baik nantinya….karena kendala setelah itu akan banyak.


Dalam islam, kalimat La ilaaha illallaah itu melahirkan 12 nama Allah, setiap nama tercantum pada setiap hurufyang menyusun kalimat tersebut. Dan Allah akan memeberikan nama kepada setiap huruf dalam proses kemajuan hati seseorang itu.

1.  Lailaha illallaah : Tiada Ilah kecuali Allah
2.  Allah : Nama Dzat
3.  Huwa : Dia
4.  Al-Haqq : Yang Benar
5.  Al-Hayy : Yang Hidup
6.  Al-Qayyum : Yang berdiri sendiri kepadaNya segala sesuatu bergantung
7.  Al-Qahar : Yang Maha Berkuasa dan Perkasa
8.  Al-Wahab : Yang Maha Pemberi
9.  Al-Fattah : Yang Maha Pembuka
10. Al-Wahid : Yang Satu
11. Al-Ahad : Yang Maha Esa
12. As-Shamad : Sumber, puncak segala sesuatu


Hati adalah tempat bergeraknya ruh dan ruh selalu memandang ke alam ‘ Malakut’ yang identik dengan kebaikan, dan dialam ini ruh dapat melihat surga alam malakut beserta para penghuninya, cahaya, dan para malaikat yang ada didalamnya.

Dan dialam inilah ruh ruh bergerak dan melakukan percakapan-percakapan tanpa kata dan suara, dan dalam percakapan itu pikiran akan selalu berputarmencari rahasia-rahasia atau makna dalam batin.

Ruh yang bergerak akan melalui berbagai tingkatan dalam perjalanannya. Dan tempat ruh yang telah mencapai tingkatan tinggi adalah di tengah hati, yaitu Hati bagi Hati.

Yang sangat berhubungan dengan Sukma Sejati adalah bagaimana kita mengetahui dan memahami tentang “Rasa Sejati”....bagaimana pembentukan rasa sejati adalah sebagai berikut :

Eka Kamandhanu, artinya kandungan berumur satu bulan mulai bersatunya kama laki-laki dan perempuan.

Dari detik ke detik, kama tersebut menggumpal dan merajut angan-angan untuk mencipta embrio. Kama tersebut menyatu padu dalam kandungan ibu menjadi benih unggul dan keadaan benih belum begitu kelihatan besar dalam perut ibunya. Saat itu biasanya wajah ibu berseri-seri karena itu sering dinamakan Eka Padmasari artinya sari-sari bunga sedang berkumpul dalam kandungan ibu, dalam keadaan penuh kegembiraan. Pada saat ini hubungan seksual masih diperbolehkan, bahkan dimungkinkan hubungan akan semakin hangat karena kedua pasangan tengah akan menikmati anugerah Tuhan yang sebelumnya telah dinanti-nantikan. Detik keberhasilan hubungan seksual ini akan menjadi spirit hidup sebuah pasangan.

Dwi Panunggal, umur kandungan dua bulan. Pada saati ini juga boleh melakukan hubungan seks. Dalam istilah jawa disebut nyepuh ibarat seorang empu sedang membuat keris, semakin banyak nyepuh artinya menambah kekuatan magis keris, keris akan semakin ampuh. Juga hubungan seks pada waktu hamil muda akan semakin hangat dan menarik kedua pasangan, biasanya seorang wanita pada tahap ini ingin jalan-jalan pagi, ingin plesir ke tempat yang sejuk, indah dan mempesona, karena itu disebut pula dwi amratani, artinya rata kemana-mana, bepergian kemana-mana sebagai ungkapan kesenangan dan juga sambil memikirkan nama yang mungkin akan diberikan kepada anaknya kelak.

Tri Lokamaya, artinya umur benih tiga bulan kandungan, dan benih masih berada dalam alam maya. Benih belum ada roh yang ditiupkan, karena itu suasananya gondar-gandir atau gawat. Jika hubungan seks tidak hati-hati kemungkinan besar benih tadi bisa gugur dan terjadi pendarahan. Maka ada baiknya mengurangi kuantitas hubungan seks, dan menghindari percekcokan atau sering marah-marah, karena secara psikologis akan mengakibatkan benih gugur karena merasa panas, ini artinya hubungan yang harmonis dalam keluarga amat menentukan kondisi benih yang dikandungan. Pada saat ini sikap selalu bersolek diri seseorang pasangan sangat menentukan. Karena itu candra benih tiga bulan sering dinamakan trikawula busana, artinya wanita sudah berpikir masalah pakaian seperti daster, pakaian bayi, dll, hal ini memungkinkan wajah wanita akan lebih berseri-seri bagai bulan purnama dan lebih cantik jelita.

Catur Anggajati, benih berumur empat bulan mulai terbentuk organ-organ tubuh secara lengkap. Benih unggul telah berbentuk manusia. Karena itu telah menghisap sari-sari makanan melalui sang ibu, umur seperti ini juga sudah ditiupkan roh sehingga benih telah hidup, sebagai tandanya sering bergerak. Karena itu hubungan seks yang berlebihan kurang baik pada saat ini, bahkan hubungan seks atas bawah akan berbahaya bagi benih dalam kandungan. Saat ini pula benih mulai merekam denyut hidup kedua pasangan. Karenanya kedua pasangan jangan berbuat hal-hal yang tidak baik atau terjadi penyelewengan akan berbahaya bagi benih bayi tersebut. Candra benih berumur empat bulan disebut catur wanara rukem, artinya tingkah laku ibu akan seperti kera yang sedang diatas pohon rukem, dia mulai nyidam buah-buahan yang asam dengan cara lotisan dan akan sangat aneh-aneh sehingga membutuhkan kesabaran bagi pasangan, kadang kurang wajar. Ia mendapat tambahan otak, karena itu sudah punya keinginan.

Panca Yitmayajati, artinya benih berumur lima bulan, dan benar-benar telah hidup, dan hubungan seks harus dilakukan lebih hati-hati, agar memperhatikan posisi sehingga tidak merugikan benih, dan pasangan harus telah tumbuh keberanian untuk menghadapi resiko lahirnya seorang bayi nanti. Karenanya candra benih berumur lima bulan sering dinamakan panca sura panggah, ada keteguhan dan keberanian menghadapi rintangan apapun ketika pasangan hamil lima bulan, tentu saja dari aspek materi jelas memerlukan persiapan berbagai hal. Mendapatkan tambahan otot mulai bergerak erlahan-lahan.

Sad Lokajati, benih berumur enam bulan semakin besar, karena itu kedua pasangan harus lebih berhati-hati. Karena itu candra benih dinamakan sad guna weweka, artinya mulai bersikap hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, jika diantara pasangan ada yang berbuat kasar, mencaci maki apalagi berbuat keji akan mengakibatkan benih yang dikandung tidak baik, bahkan suami dilarang membunuh binatang karena secara insting benih sudah dapat merekam keadaan sekelilingnya. Mendapatkan tambahan tulang karena itu ia bisa naik turun, jungkir balik.

Sapta Kawasajati, umur benih tujuh bulan telah lengkap semua organ dan cipta, rasa, serta karsa, karena itu apabila ada bayi yang lahir pada umur tujuh bulanpun dimungkinkan. Dalam tradisi jawa sering dilakukan ritual mitoni dengan maksud memohon agar bayi yang akan lahir diberi kelancaran, dan pada waktu ini hubungan seks dilarang sama sekali, kalaupun dilakukan harus diperhatikan secara ekstra hati-hati ( posisi diperhatikan ). Karena candra bayi tuuh bulan adalah sapta kulilawarsa artinya seperti burung yang terguyur air hujan, merasa letih. Lelah, dan sedikit pucat, kurang bergairah dan perlu pengertian dari pasangan. Dan ia memperoleh tambahan rupa, dan mendapat tambahan Kodrat dari Allah Ta’ala sperti rambut, darah dan daging.

Astha Sabdajati, benih berumur delapan bulan biasanya siap lahir, siap menuju dunia besar setelah bertapa dalam kandungan. Bayi hampir weruh padange hawa, ingin menghirup udara dunia yang sesungguhnya. Saat ini hanya timbul sikap pasrah untuk menghadapi perang sabil. Candra bayi adalah astha sacara-cara, artinya terjadi sikap berserah diri dengan cara apapun bayi akan lahir ibunya telah siap sedia bahkan siap berkorban jiwa raga. Manakala bayi umur delapan bulan belum mapan posisinya, tentu sang ibu akan gelisah. Untuk itu ada gugon tuhon juga agar ibu dilarang makan buah yang melintang posisinya, seperti kepel, agar posisi bayi tidak melintang yang akan menyulitkan kelahiran. Calon anak sudah dapat mengoperasikan saudara yang empat, sbb;

Pertama : kakawah (air ketuban)
Kedua   : bungkus
Ketiga  : ari-ari
Keempat : darah

Kakawah artinya menjadi pengasih, bungkus menjadi kekuatan, darah menjadi waliyas mati, harus diketahui bahwa Kakawah itu adalah malaikat Jibril, bungkus adalah Mikail, ari-ari adalah Malaikat Israfil, dan darah adalah malaikat Izrail.

Jibril pada kulit, Mikail pada tulang, Israfil pada otot, Izrail pada dagingakhirnya selamatlah sentosa, semua itu tidak kelihatan karena Kodrat Allah.

Nawapurnajati, bayi telah mendekati detik-detik lahir, yaitu sembilan bulan, dan tentu yang tepat sembilan bulan sangat jarang. Pada saat itu memang keadaan bayi dan ibunya sangat lelah, karena itu candra suasana disebut nawa gralupa artinya keaaan sangat lemas, tak berdaya, seperti orang lapar dan dahaga. Apalagi setelah sembilan bulan sepuluh hari dengan candra khusus dasa yaksa mati, artinya seperti raksasa mati terbunuh ksatria-seorang ibu setelah melahirkan bayi. Oleh karena itu hubungan seksual sangat dilarang, paling tidak kurang lebih 40 hari seorang suami harus berpuasa.

Sembilan langkah tersebut diatas di harapkan pasangan suami istri dapat menjalankan sesirik 
( prihatin ), ibarat sedang bertapa gaib. Segala tingkah laku akan menjadi cerminan hidup anak yang masih dalam kandungan. Itulah sebabnya sikap dan perilaku dijaga baik-baik dengan tujuan manembah dan karyenak tyasing sesama, maksudnya hubungan vertikal selalu harus terus menerus dan hubungan dengan sesama mahkluk agar jangan sampai berbuat diluar kewajaran. Ada empat yang dianugerahkan Allah Ta’ala dengan KodratNya ;

Pertama : Budi
Kedua   : Rahsa
Ketiga  : Angan-angan
Keempat : Hidup

Enget-enget anggite kang nulis, perdhu iku sajroning niyat, lafat Allahu anggite, lafal Hu tibanipun, lafal Akbar nyatane singgih yekti, lafal ingkang tetiga, anyipta sajrone werdaya, perdu iku tibane dipun uning, den waspada tingalira.
Terjemahan :
Ingat-ingatlah karya penulis, tentang hal yang wajib dalam niat, lafal Allahu itu tempatnya,lafal Hu jatuhnya,  lafal Akbar kenyataan sejati, lafal yang tiga itu ciptalah dalam hati, itulah wajib yang harus diingat, dan waspadailah konsentrasimu.

Yogya sami angawruhana kaki, anedyaa tingal jrone shalat, sirnane shalat westane, sekawan kathahipun, kawrughana sawiji-wiji, dhingin iku munajat, kalih ikramipun, jangkep ingkang kaping tiga, iku arane ingkang tubadil, lan mikraj kaping sekawan.
Terjemahan :
Segeralah kau ketahui Nak, konsentrasi dalan shalat yaitu, dinamakan lenyapnya shalat, jumlahnya ada empat hal ketahuilah satu-persatu, pertama munajat, kedua disebut ihram, ketiga tubadil dan kempat mikraj.

Tegesira kang munajat iku, wewacane wau ingkang shalat, sajrone salat mangke, ywa ngrasa aturipun, sapocapan kelawan Gusti, sebarang den apalna, cipta jroning kalbu, Pangeran ingkang miyarsa, tingalna adhepe marang Hyang Widhi, dene takbirira.
Terjemahan :
Artinya munajat adalah, seluruh bacaan dalam shalat, dalam shalat, jangan merasa itu ucapanmu (karena engkau) satu ucapan dengan Tuhan, semuanya hafalkanlah, hening ciptakan dalam kalbu, Tuhan yang mendengar, konsentrasilah (bahwa) Tuhan ada di depanmu, (ketika) engkau takbir.

Nulya lajeng maca wajah, ngadhepaken Pangerane, ingkang asih aduduhe, ngabekti mring Hyang Agung, wajah puniku sunat sayekti, Fatihah ika perdhu, Bismillahipun iku, namane Hyang kang Mahamurah aneng donya, ingkang asih tembe akhir, teka ari kiyamat.
Terjemahan :
Kemudian bacalah wajah (doa iftitah), untuk menghadapkan diri dengan Tuhan Yang Maha Pengasih, (dan yang memberi) petunjuk, (dan pernyataan) pengabdian kepada Tuhan, wajah itu hanya sunah, Surat Al Fatihah yang wajib, lalu bacalah Bismillah (menyebut), nama Tuhan yang Maha Pemurah dan pengasih, di dunia dan sampai akhir kelak, di Hari Kiamat.

Ikram iku jenenge lumiring, kalimputan dhateng sipat jamal, tan kena mengeng tingale, bisa jamal puniku, iya iku sipate Gusti, maknane iku indah, Adi Maha Luhur, datan ana kang memadha, ingkang asih ngasihaken sajroning ati, ngasihi mring kawula.
Terjemahan :
Ihram itu adalah terliputi kepada sifat jamal, tak boleh berubah konsentrasinya, jamal itu adalah sifat Tuhan, yang maknanya indah, adi dan Mahaluhur, tak ada yang menyamai, Maha Pengasih dan mengasihi dalam hati, setiap manusia.

Tegesira kang aran tubadil, angareksa barang tingkahira, kenyataan sakabehe, sampun kena luput iku, angrasani Hyang Agung, lir damar lan surya kaki, dadi karone tunggal, tan dadi roh iku sembah kang utama, apan mikraj iku tegese kaki, tan rumangsa tingkahnya.
Terjemahan :
Artinya tubadil,  menyadari segala tingkahnya, (dan) kenyataan semuanya, jangan sampai salah, membecarakan Tuhan Yang Maha Agung, bagaikan lampu dan cahaya, Nak, keduanya satu, tidak menjadi ruh itu sembah utama, lalu mikraj artinya, Nak, tidak merasa terhadap segala tingkahnya.

Lawan mikraj tegese puniki, napinira tan nora kuwasa, apan pangucape mangke, kwasa jeneng suwung, saosike saking Hyang Agung, kabeh saking Pangeran, obah osikipun, kawula pan nora karya, saosike upama lir sarah keli, manut kanthine toyan.
Terjemahan :
Mikraj itu artinya,  kekosongandirimu tidak berkuasa, segala ucapanya adalah kuasa (tetapi) kosong, seluruh geraknya dari Allah, semua dari Allah, gerak tindakannya, karena hamba tak bisa membuat gerak dan tindakan itu hanya bagaikan sampah yang hanyut, ikut perjalanan air.

===============
Oleh: as-Sayyid Nurjan Mirahmadi
Alih bahasa : Syekh Soetono

0 komentar:

Posting Komentar