Wejangan, Larangan dan Ajaran Syekh Siti Jenar


Wejangan dan Larangan Syekh Siti Jenar 
1. Sudah diketahui secara umum bahwa wejangan (ajaran-ajaran) Syekh Siti Jenar dirumuskan dalam ajaran Sasahidan. Adapun yang menjadi sesuatu yang harus dicegah oleh para pengikut dan pengamal ajarannya adalah (Sabda Sasmaya, hlm. 45, 47) :
- Tidak boleh memiliki daya atau keinginan yang buruk dan jelek.
- Tidak boleh berbohong.
- Tidak boleh mengeluarkan suara yang jorok, buruk, saru, tidak enak didengar dan menyakiti orang.
- Tidak boleh memakan daging (darat, udara maupun air).
- Tidak boleh memakan nasi, kecuali terbuat dari bahan jagung.
- Tidak boleh berkhianat kepada sesama manusia.
- Tidak boleh minum air yang tidak mengalir.
- Tidak boleh membuat dengki dan iri hati.
- Tidak boleh membuat fitnah.
- Tidak boleh membunuh seluruh isi jagat.
- Tidak boleh memakan ikan atau daging dari hewan yang rusuh, tidak patut, tidak bersisik atau tidak berbulu.


2. “Manusia yang sejati itu ialah ia yang mempunyai hak dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, serta berdiri mandiri diri pribadi. Sebagai hamba ia menjadi sukma, sedang Hyang sukma menjadi nyawa. Hilangnya nyawa bersatu padu dengan hampa dan kehampaan ini meliputi alam semesta.”

3. “Adanya Allah karena dzikir, sebab dengan berdzikir orang menjadi tidak tahu akan adanya zat dan sifat-sifatnya. Nama untuk menyebut Hyang Manon, yaitu Yang Maha Tahu, menyatukan diri hingga lenyap dan terasa dalam pribadi. Ya Dia ya Saya. Maka di dalam hati timbul gagasan, bahwa ia yang berdzikir menjadi zat yang mulia. Dalam alam kelanggengan yang masih di dunia ini, di manapun sama saja, hanya manusia yang ada…Allah yang dirasakan adanya waktu orang berdzikir, tidak ada, jadi gagasan yang palsu, sebab pada hakikatnya adanya Allah yang demikian itu hanya karena nama saja.” ”…nama Tuhan itu berasal dari manusia.” 
4. “Manusia yang melebihi sesamanya, memiliki duapuluh sifat, sehingga dalam hal ini antara agama Hindu-Budha Jawa dan Islam sudah campur. Di samping itu rupa dan nama sudah bersatu. Jadi tiada kesukaran lagi untuk mengerti akan hal ini dan semuanya sangat mudah dipahami.” 
5. “Manusia hidup dalam alam dunia ini hanya menghadapi dua masalah yang saling berpasangan, yaitu baik buruk berpasangan dengan kamu, hidup berjodoh dengan mati, Tuhan berhadapan dengan hamba-Nya.”
6. “Orang hidup tiada merasakan ajal, orang berbuat baik tiada merasakan berbuat buruk dan jiwa luhur tiada bertempat tinggal. Demikianlah pengetahuan yang bijaksana, yang meliputi cakrawala kehidupan, yang tiada berusaha mencari kemuliaan kematian, hidup terserah kehendak orang masing-masing.” 
7. “Menurut ajaran Siti jenar dulu, keadaan hidup itu berupa bumi, angkasa, samudera dan gunung seisinya, semua yang tumbuh di dunia, udara dan angin yang tersebar di mana-mana, matahari dan bulan menyusup di langit dan keberadaan manusia sebagai makhluk yang terutama.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 8).
8. “Allah bukan johar manik, yaitu ratna mutu manikam, bukan jenazah dan bukan rahasia yang gaib. Syahadat itu kepalsuan.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh II Asmarandana, 9).
9. “Akhirat itu di dunia ini tempatnya. Hidup dan matipun hanya di dunia ini.”

10. “Bayi itu berasal dari desakan. Setelah menjadi tua menuruti kawan. Karena terbiasa waktu kanak-kanak berkumpul dengan anak, setelah tuapun berkumpul dengan orang-orang tua. Berbincang-bincanglah mereka tentang nama yang sunyi hampa, saling bohong-membohongi, meskipun sifat-sifat dan wujud mereka bicarakan itu tidak mereka ketahui.”


11. “Saya di sini membuka hutan, bercocok tanam di huma untuk penghidupan atas kehendak Hyang Manon, Yang Maha Tahu. Jika tanaman saya memberi hasil jagung, kentang dan ketela saya makan bersama Hyang Agung, Yang Maha Agung, yang memberi perintah kepada saya.” “Tatkala saya mencangkul, saya bersama Gusti Tuhan. Ketika saya mengambil hasil cocok tanaman saya, saya bersama Pengeran Tuhan. Sekarang ada sesama orang memanggil saya ke Bintara. Di sini ada apa selain Pangeran dengan nama-Nya, yang serambutpun tiada terpisahkan.” “Jika saya dipanggil ke Demak, sesungguhnya saya menolak, tidak mau jika tidak bersama dengan Yang Mengasuh Jiwa Raga Saya. Sekalipun saya mau, akan tetapi Yang Maha Kuasa tidak mau, bagaimana saya dapat berjalan?” 


12. “Takdir tiada kenal mundur, sebab semuanya itu ada dalam kekuasaan Yang Murba Wasesa, Yang Menguasai segala kejadian.” “Orang mati tiada merasa sakit. Yang merasa sakit itu hidup yang masih mandiri dalam raga. Apabila jiwa saya selesai menjalankan tugasnya, dia akan kembali ke alam aning anung, alam yang tenteram bahagia, aman damai dan abadi. Oleh karena itu saya tidak takut akan bahaya apapun.” 


13. “Menurut pendapat saya, yang disebut ilmu itu ialah segala sesuatu yang tidak kelihatan oleh mata. Umpamanya, Demak dari sini tidak tampak, akan tetapi Demak itu ada. Itulah yang disebut ilmu. Adapun pernyataan yang kedua, di mana tempat hidup itu, jawabannya, hidup itu uninong ananung. Pertanyaan yang ketiga, siapa yang mengajak tidur, jawabannya menurut saya, yang mengajak tidur itu tirta nirmaya.” “Yaitu air hayat kata Arabnya. Air hidup itulah yang dulu dicari Sang Sena dan disebut air prawita dalam bahasa Hindu-Budha. Adapun tempatnya di uning unong uninong aning.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 16-17).


14. Sesungguhnyalah, saya ini orang mati setiap hari kematian saya berkurang. Berapa lamakah kiranya saya mati di dunia ini. Masih lama lagi hidup saya nanti. Saya tentu kembali hidup. Mati kaya akan dosa dan siksaan neraka yang banyak saya alami ini. Balik kalao besok apabila saya sudah hidup, tiada terhitung kebahagiaan yang saya alami, langgeng untuk selama-lamanya.”


15. “…yang mengatakan sekarang hidup, besok disebut mati, itu ucapan santri yang terkutuk, mabuk tobat mengharap-harapkan sesuatu yang belum pasti.” 


16. “Mana ada Hyang Mahasuci? Baik di dunia, maupun di akhirat sunyi. Yang ada saya pribadi. Sesungguhnya besok saya hidup seorang diri tanpa kawan! Di situlah Dzatu’llahu mesra bersatu menjadi saya!”
”Karena saya di dunia ini mati, luar dalam saya sekarang ini, yang di dalam hidupku besok, yang di luar kematianku sekarang.” 


17. “Orang yang ingin pulang ke alam kehidupan tidak sukar, lebih-lebih bagi murid Syekh Siti Jenar, sebab ia sudah paham dan menguasai sebelumnya. Di sini di tahu rasanya di sana, di sana ia tahu rasanya di sini.”
“…Yang disebut mati itu keinginan pribadi. Perihal pulangnya Syekh Siti Jenar ke alam kehidupan, saya bermaksud menyusulnya, hidup bersama dia dalam alam yang tiada terbayangkan. Sebentarlagi saya akan pulang.”


18. “Tiada bimbang akan manunggalnya sukma, sukma dalam keheningan, tersimpan hati sanubari, terbukalah tirai, tal lain antara sadar dan tidur, ibarat keluar dari mimpi, menyusui rasa jati.”.


Dunia Alam Kematian
- “Sembahyang itu siang malam tiada putusnya ia lakukan.  Ketahuilah keluarnya napasku menjadi puji. Maksudnya napasku menjadi shalat. Karena tutur penglihatan dan pendengaran disuruh melepaskan dari angan-angan, jadi kalau kamu shalat masih mengiaskan kelanggengan dalam alam kematian ini, maka sesungguhnyalah kamu ini belum benar .”

- “Jika kamu bijaksana mengatur tindakanmu, tanpa guna orang menyembah Rabbu’l ‘alamien, Tuhan sekalian alam, sebab di dunia ini tidak ada Hyang Agung. Karena orang melekat pada bangkai, meskipun dicat dilapisi emas, akhirnya membusuk juga, hancur lebur bercampur dengan tanah. Bagaimana saya dapat bersolek?”

- “Banyak orang sembahyang tidak memperoleh apa-apa, baik di sana, maupun di sini. Nyatanya kalau ia sakit, ia menjadi bingung. Jika tidur seperti budak, disembarang tempat. Jika ia miskin, mohon agar menjadi kaya tidak dikabulkan. Apalagi bila ia sakaratul maut, matanya membelalak tiada kerohan. Karena ia segan meninggalkan dunia ini. "

- “Berdzikir dalam keadaan kosong dari kenyataan yang sesungguhnya, membayangkan adanya rupa Dzatu’llahu, kemudian ada rupa dan inilah yang ia anggap Hyang Widi.”

- “Apakah ini bukan barang sesat? Buktinya kalau ia memohon untuk menjadi orang kaya tidak diluluskan. Sekalipun demikian saya disuruh meluhurkan Dzat’llahu yang rupanya ia lihat waktu ia berdzikir, mengikuti syara’ sebagai syari’at, Ke mesjid berlenggang mengangguk-angguk, memuji Pangeran yang sunyi senyap, bukan yang di sana, bukan yang di sini.”

- “Ketahuilah dunia ini alam kematian, sedang akhirat alam kehidupan yang langgeng tiada mengenal waktu. Barang siapa senang pada alam kematian ini, ia terjerat goda, terlekat pada surga dan neraka, menemui panas, sedih, haus, dan lapar”. 


Dzikir Sejati
“Banyak orang yang gemar dengan ksejatian, tapi karena belum pernah berguru maka semua itu dipahami dalam konteks dualitas. Yang satu dianggap wjud lain. Sesungguhnya orang yng melihat sepeti ini akan kecewa. Apalagi yang ditemui akan menjadi hilang. Walaupun dia berkeliling mencari, ia tidak akan menemukan yang dicari. Padahal yang dicari, sesungguhnya telah ditimang dan dipegang, bahkan sampai keberatan membawanya. Dan karena belum tahu kesejatiannya, ciptanya tanpa guru menyepelekan tulisan dan kesejatian Tuhan."

“Walaupun dituturkan sampai capai, ditunjukkan jalannya, sesungguhnya dia tidak memahaminya karena ia hanya sibuk menghitung dosa besar dan kecil yg diketahuinya. Tentang hal kufur kafir yang ditolaknya itu, bukti bahwa ia adalah orang yang masih mentah pengetahuannya. Walaupun tidak pernah lupa sembahyang, puasanya dapat dibangga-banggakan tanpa sela, tapi ia terjebak menaati yang sudah ditentukan Tuhan.

Sembah puji dan puasa yang ditekuni, membuat orang justru lupa akan sangkan paran (asal dan tujuan). Karena itu, ia lebih konsentrasi melihat dosa besar-kecil yang dikhawatirkan, dan ajaran kufur kafir yang dijauhi justru membuat bingung sikapnya. Tidak ada dulu dinulu. Tidak merasa, tidak menyentuh. Tidak saling mendekati, sehingga buta orang itu. Takdir dianggap tidak akan terjadi, salah-salah menganggap ada dualisme antara Maha Pencipta dan Maha Memelihara.

Jika aku punya pemikiran yang demikian, lebih baik aku mati saja ketika masih bayi. Tidak terhitung tidak berfikir, banyak orang yang merasa menggeluti tata lafal, mengkaji sembahyang dan berletih-letih berpuasa. Semua itu dianggap akan mampu mengantarkan. Padahal salah-salah menjadikan celaka dan bahkan banyak yang menjadi berhala."

"Pemikiran saya sejak kecil, Islam tidak dengan sembahyang, Islam tidak dengan pakaian, Islam tidak dengan waktu, Islam tidak dengan baju dan Islam tidak dengan bertapa. Dalam pemikiran saya, yang dimaksud Islam tidak karena menolak atau menerima yang halal atau haram.

Adapun yang dimaksud orang Islam itu, mulia wisesa jati, kemuliaan selamat sempurna sampai tempat tinggalnya besok. Seperti bulu selembar atau tepung segelintir, hangus tak tersisa. Kehidupan di dunia seperti itu keberadaannya.”

“Manusia, sebelum tahu makna Alif, akan menjadi berantakan....Alif menjadi panutan sebab uintuk semua huruf, alif adalah yang pertama. Alif itu badan idlafi sebagai anugerah. Dua-duanya bukan Allah. Alif merupakan takdir, sedangkan yang tidak bersatu namanya alif-lapat. Sebelum itu jagat ciptaan-Nya sudah ada. Lalu alif menjadi gantinya, yang memiliki wujud tunggal. Ya, tunggal rasa, tunggal wujud. Ketunggalan ini harus dijaga betul sebab tidak ada yang mengaku tingkahnya. ALif wujud adalah Yang Agung. Ia menjadi wujud mutlak yang merupakan kesejatian rasa. Jenisnya ada lima, yaitu alif mata, wajah, niat jati, iman, syari'at.”

“Allah itu penjabarannya adalah dzat Yang Maha Mulia dan Maha Suci. Allah itu sebenarnya tidak ada lain, karena kamu itu Allah. Dan Allah semua yang ada ini, lahir batin kamu ini semua tulisan merupakan ganti dari alif, Allah itulah adanya.”

“Alif penjabarannya adalah permulaan pada penglihatan, melihat yang benar-benar melihat. Adapun melihat Dzat itu, merupakan cermin ketunggalan sejati menurun kepada kesejatianmu. Cahaya yang keluar, kepada otak keberadaan kita di dunia ini merupakan cahaya yang terang benderang, itu memiliki seratus dua puluh tujuh kejadian. Menjadi penglihatan dan pendengaran, napas yang tunggal, napas kehidupan yang dinamakan Panji. Panji bayangan dzat yang mewujud pada kebanyakkan imam. Semua menyebut dzikir sejati, laa ilaaha illallah.” 


Kematian di Mata Sunan Geseng

“Banyak orang yang salah menemui ajalnya. Mereka tersesat tidak menentu arahnya, pancaindera masih tetap siap, segala kesenangan sudah ditahan, napas sudah tergulung dan angan-angan sudah diikhlaskan, tetapi ketika lepas tirta nirmayanya belum mau. Maka ia menemukan yang serba indah.”

“Dan ia dianggap manusia yang luar biasa. Padahal sesungguhnya ia adalah orang yang tenggelam dalam angan-angan yang menyesatkan dan tidak nyata. Budi dan daya hidupnya tidak mau mati, ia masih senang di dunia ini dengan segala sesuatu yang hidup, masih senang ia akan rasa dan pikirannya. Baginya hidup di dunia ini nikmat, itulah pendapat manusia yang masih terpikat akan keduniawian, pendapat gelandangan yang pergi ke mana-mana tidak menentu dan tidak tahu bahwa besok ia akan hidup yang tiada kenal mati. Sesungguhnyalah dunia ini neraka.”

“Maka pendapat Kyai Siti Jenar betul, saya setuju dan tuan benar-benar seorang mukmin yang berpendapat tepat dan seyogyanya tuan jadi cermin, suri tauladan bagi orang-orang lain. Tarkumasiwalahu (Arab asli : tarku ma siwa Allahu), di dunia ini hamba campur dengan kholiqbta, hambanya di surga, khaliknya di neraka agung.”

“Menurut ajaran guruku Syekh Siti Jenar, di dunia ini alam kematian. Oleh karena itu, dunia yang sunyi ini tidak ada Hyang Agung serta malaikat. Akan tetapi bila saya besok sudah ada di alam kehidupan saya akan berjumpa dan kadang kala saya menjadi Allah. Nah, di situ saya akan bersembahyang.”

“Jika sekarang saya disuruh sholat di mesjid saya tidak mau, meskipun saya bukan orang kafir. Boleh jadi saya orang terlantar akan Pangeran Tuhan. Kalau santri gundul, tidak tahunya yang ada di sini atau di sana. Ia berpengangan kandhilullah, mabuk akan Allah, buta lagi tuli.”


Jawaban Tentang Semesta, Tuhan dan Roh

“Pertanyaan pertama : Pertanyaan, bahwa Allah menciptakan alam semesta itu adalah kebohongan belaka. Sebab alam semesta itu barang baru, sedang Allah tidak membuat barang yang berwujud menurut dalil : layatikbiyu hilamuhdil, artinya tiada berkehendak menciptakan barang yang berwujud. Adapun terjadinya alam semesta ini ibaratnya : drikumahiyati : artinya menemukan keadaan. Alam semesta ini : la awali. Artinya tiada berawal. Panjang sekali kiranya kalau hamba menguraikan bahwa alam semesta ini merupakan barang baru, berdasarkan yang ditulis dalam Qur'an .”

“Pertanyaan yang kedua : Paduka bertanya di mana rumah Hyang Widi. Hal itu bukan merupakan hal yang sulit, sebab Allah sejiwa dengan semua zat. Zat wajibul wujud itulah tempat tinggalnya, seumpamanya Zat tanahlah rumahnya. Hal ini panjang sekali kalau hamba terangkan. Oleh karena itu hamba cukupkan sekian saja uraian hamba.”

“Selanjutnya pertanyaan ketiga : berkurangnya nyawa siang malam, sampai habis ke manakah perginya nyawa itu. Nah, itu sangat mudah untuk menjawabnya. Sebab nyawa tidak dapat berkurang, maka nyawa itu bagaikan jasad , berupa gundukan, dapat aus, rusak dimakan anai-anai. Hal inipun akan panjang sekali untuk hamba uraikan. Meskipun hamba orang sudra asal desa, akan tetapi tata bahasa kawi hamba mengetahui juga, baik bahasa biasa maupun yang dapat dinyanyikan. Lagu tembang sansekerta pun hamba dapat menyanyikan juga dengan menguraikan arti kalimatnya, sekaligus hamba bukan seorang empu atau pujangga, melainkan seorang yang hanya tahu sedikit tentang ilmu.”

“Itu semua disebabkan karena hamba berguru kepada Syekh Siti Jenar, di Krendhasawa, tekun mempelajari kesusasteraan dan menuruti perintah guru yang bijaksana. Semua murid Syekh Siti Jenar menjadi orang yang cakap, berkat kemampuan mereka untuk menerima ajaran guru mereka sepenuh hati.”

“Adapun pertanyaan yang keempat : paduka bertanya bagaimanakah rupa Yang Maha Suci itu. Kitab Ulumuddin sudah memberitahukan : walahu lahir insan, wabatinul insani baitu-baytullahu (Arab asli : wa Allahu dzahir al-insan, wabathin, al-insanu baytullahu), artinya lahiriah manusia itulah rupa Hyang Widi. Batiniah manusia itulah rumah Hyang Widi. Banyak sekali yang tertulis dalam Kitab Ulumuddin, sehingga apabila hamba sampaikan kepada paduka, Kanjeng Pangeran Tembayat tentu bingung, karena paduka tidak dapat menerima, bahkan mungkin paduka mengira bahwa hamba seorang majenun. Demikianlah wejangan Syekh Siti Jenar yang telah hamba terima.”

“Guru hamba menguraikan asal-usul manusia dengan jelas, mudah diterima oleh para siswa, sehingga mereka tidak menjadi bingung. Diwejang pula tentang ilmu yang utama, yang menjelaskan tentang dan kegunaan budi dalam alam kematian di dunia ini sampai alam kehidupan di Akhirat. Uraiannya jelas dapat dilihat dengan mata dan dibuktikan dengan nyata.”

“Dalam memberikan pelajaran, guru hamba Syekh Siti Jenar, tiada memakai tirai selubung, tiada pula memakai lambang-lambang. Semua penjelasan diberikan secara terbuka, apa adanya dan tanpa mengharapkan apa-apa sedikitpun. Dengan demikian musnah segala tipu muslihat, kepalsuan dan segala perbuatan yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan para guru lainnya. Mereka mengajarkan ilmunya secara diam-diam dan berbisik-bisik, seolah-olah menjual sesuatu yang gaib, disertai dengan harapan untuk memperoleh sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya.”

“Hamba sudah berulang kali berguru serta diwejang oleh para wali mu'min, diberitahu akan adanya Muhammad sebagai Rosulullah serta Allah sebagai Pangeran hamba. Ajaran yang dituntunkan menuntun serta membuat hamba menjadi bingung dan menurut pendapat hamba ajaran mereka sukar dipahami, merawak-rambang tiada patokan yang dapat dijadikan dasar atau pegangan. Ilmu Arab menjadi ilmu Budha, tetapi karena tidak sesuai kemudian mereka mengambil dasar dan pegangan Kanjeng Nabi. Mereka mematikan raga, merantau kemana-mana sambil menyiarkan agama. Padahal ilmu Arab itu tiada kenal bertapa, kecuali berpuasa pada bulan Romadan, yang dilakukan dengan mencegah makan, tiada berharap apapun.”

“Jadi jelas kalau para wali itu masih manganut agama Budha, buktinya mereka masih sering ketempat-tempat sunyi, gua-gua, hutan-hutan, gunung-gunung atau tepi samudera dengan mengheningkan cipta, sebagai laku demi terciptanya keinginan mereka agar dapat bertemu dengan Hyang Sukma. Itulah buktinya bahwa mereka masih dikuasai setan ijajil. Menurut cerita Arab Ambiya, tiada orang yang dapat mencegah sandang pangan serta tiada untuk kuasa berjaga mencegah tidur kecuali orang Budha yang mensucikan dirinya dengan jalan demikian. Nah, silahkan memikirkan apa yang hamba katakan, sebagai jawaban atas empat pertanyaan paduka.”



Wasiat dan Ajaran Syekh Amongraga
Syekh Amongraga mewasiatkan berbagai inti ajaran yang meliputi (Primbon Sabda Sasmaya; hlm. 24):
1. Rahayu ing Budhi (selamat akhlak dan moral).
2. Mencegah dan berlebihnya makanan.
3. Sedikit tidur.
4. Sabar dan tawakal dalam hati.
5. Menerima segala kehendak dan takdir Tuhan.
6. Selalu mensyukuri takdir Tuhan.
7. Mengasihi fakir dan miskin.
8. Menolong orang yang kesusahan.
9. Memberi makan kepada orang yang lapar.
10. Memberi pakaian kepada orang yang telanjang.
11. Memberikan payung kepada orang yang kehujanan.
12. Memberikan tudung kepada orang yang kepanasan.
13. Memberikan minum kepada orang yang haus.
14. Memberikan tongkat penunjuk kepada orang yang buta.
15. Menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat.
16. Menyadarkan orang yang lupa.
17. Membenarkan ilmu dan laku orang yang salah.
18. Mengasihi dan memuliakan tamu.
19. Memberikan maaf kepada kesalahan dan dosa sanak-kandung, saudara, dan semua manusia.
20. Jangan merasa benar, jangan merasa pintar dalam segala hal, jangan merasa memiliki, merasalah bahwa semua itu hanya titipan dari Tuhan yang membuat bumi dan langit, jadi manusia itu hanyalah sudarma (memanfaatkan dengan baik dengan tujuan dan cara yang baik pula) saja. Pakailah budi, syukur, sabar, menerima, dan rela. 


Praktek shalat Tarek Syekh Amongraga
“Guna mencapai keadaan ekstasi Amongraga melakukan shalat Sunat Awabin dengan enam raka'at dan tiga salam. Sesudah itu olah kiparat wawajuh (pemulihan dan terarah kepada Tuhan) dengan dua salam. Sesudah itu ia duduk tidak bergerak. Sambil mempersiapkan diri untuk manunggal dengan Tuhan. Ia melakukan wirid menurut (tarekat) Isbandiah, Satariah, Jalalah, dan Barjah, terserap olehnya. Ia duduk tersimpuh, hati sanubari dan pernapasan dalam keselarasan. Kemudian tiba-tiba ia mengawali dzikirnya dengan kata-kata, la mujuda ilalahu (tak ada sesuatu selain Allah). Dzat yang niscaya ada, itulah yang menjadi pusat perhatiannya, dasar penyangkalan dan pengakuan. Dengan itulah hatinya diselaraskan. Kepalanya mulai bergerak memutar, silih berganti menyanngkal dan mengakui. Pada lingkaran “lam” terakhir kepalanya bergerak dari pusat ke kiri ke atas. Pada ucapan “ilalah” kepalanya bergerak, ke kanan ke atas ke arah bahunya. Pada saat ia berkata “ila” inderanya memsuki penyangkalan tersembunnyi “ilalah” ialah pengakuan gaib di sebelah kiri dadanya. Demikian “nakirah” menjadi paripurna. Kata-kata “laa ilaaha ilallahu” didaraskannya 50 kali dalam satu pernapasan. Kemudian 300 kali “ilalah” pada pernapasan berikut. Istirahat sebentar, lalu “hu, hu” 1000 kali dalam satu pernapasan panjang. Demikianlah hatinya naik lepas bebas tanpa rintangan, dengan perantaraan dzikir yang fungsinya hanya sebagai sarana. Suara-suara yang dikeluarkannya tidak ada arti lagi. Segalanya diperbolehkan, entah itu aa, ii, uu atau lain sebagainya, terserah apa saja. Kemudian suara-suara itu tiba-tiba lenyap seperti suara orang-orang (yang tiba-tiba hilang seketika). Pada saat yang sama “bata bata dan bentuk” terlepas, artinya badan dan budi mesing-masing berdiri sendiri-sendiri, ia lenyap dan mekrad (mi'raj), terlebur dalam dzat ilahi, badannya tertinggal bagaikan sebatang glodog.”

“Yang ditinggalkan oleh lebah-lebah, kosong. Kalbunya perupakan ketiadaan sejati, kosong, sepi. Tak ada daratan, maupun laut, terang dan gelap tiada lagi. Yang ada hanya itulah yang meliputi batiniah dan lahiriah di alam gaib. Di sanalah usaha Amongraga untuk mencapai kemanunggalan sampai pada titik penghabisan. Tak ada lagi perbedaan, hanya kesamaan dan sempurna, mereka bukan satu bukan dua lagi. Sesudah tarakki menyusullah tanazzu, ia turun dari alam lahir dan batin (wahyu jatmika), ia memandang lagi tetapi bukan dengan matanya, Dzat Yang Mahaluhur. Di sana terdapat empat hal, sifat jalal yang gaib, Keindahan, Kesempurnaan dan Kekuasaan (jamal, kamal, kahar) yang gaib. Sesudah keluar dari keadaan gaib mulailah perbedaan dua jenis, yaitu Gusti dan kawula.”

“Adapun hakikat Gusti itu ialah jalal, kamal, dan jamal, adapun siat-sifat kawula itu ialah ahadiyah, wahda, wahidiya, alam arwah, (alam) agsam, alam mitsal, dan insan kamil. Perbedaan antara Gusti dan kawula ialah perbedaan antara dua jenis sifat-sifat itu, kecuali bagi manusia yang istimewa (linuhung) yang sudah mengetahui ilmu sejati. Sesudah ekstasinya lewat, ia menyerupai sebutir telur yang jatuh di atas sebuah batu, demikian rasa terkejut di dalam hatinya ketka kembali dalam keadaan makhluk dan melihat kembali keterbatasannya selaku seorang hamba (kawula).Sesudah kemanunggalannya dengan Tuhan larut, ia bernapas panjang sambil mengucapkan satu kali syahadat, la ilaha ilalah, kemudian memanjatkan doa syukur.” (Serat Centini; I, Gambuh bait 48-64, hlm. 951-954)



Aji Pameling (Ilmu Keheningan) Syekh Siti Jenar

Maksud dan pengertian Semedi atau Laku Hening. Maksud dari aji adalah ratu/raja, pameleng adalah pasamaden (laku semedi, hening), memiliki pengharapan sebagai tanda keinginan yg paling luhur. Adapun jenis perbuatannya disebut dengan manekung, pujabrata, mesu budi, mesu cipta, mengheningkan, atau meluhurkan pandangan, matiraga dan sejenisnya.
Tempat yang digunakan untuk melaksanakan laku tersebut adalah panepen, penekung, sanggar pemujan, pamurcitan, pahoman, paheningan dan lain-lain. Sedangkan uraian pengetahuan disebut daiwan, dawan, tirta-amerta, tirtakamandhanu, tirtanirwala, mahosadi, kawasanan, kawaspadaan, kawicaksanaan, sastracetha, atau sastrajendrayuningrat pangriwating-diyu dan sebagainya.

Adapun kegunaan pengetahuan dan lelaku di atas, perlu digunakan sebagai sarana menyembah untuk mendapatkan kawilujengan (keselamatan disertai kesejahteraan, kedamaian, dan ketentraman), sebab dengan begitu dapat melaksanakan segala sesuatu perbuatan yang baik, ataupun sebagai sarana ketika kita memiliki keinginan mewujudkan anugerah hidup kita pribadi (Pangeran), juga meminta apapun yang lumrah bisa dilaksanakan sesuai dengan kemampuan kita melaksanakannya dengan tidak meninggalkan kehati-hatian.


Asal Mula Ilmu Hening
Adapun permulaan datangnya pengetahuan pasamaden di dunia ini, menurut tata bahasanya, banyak yang memakai bahasanya, banyak yang memakai bahasa sansekerta. Jadi dengan demikian, berarti mulanya pengetahuan pasamaden berasal dari kebijaksanaan bangsa Hindu pada zaman kuno, yang sudah tidak diketahui hitungan ribuan tahunnya. Kemungkinan saja tersebarnya pengetahuan (Kawruh) pasamaden bersamaan dengan ketika bangsa Hindu mulai membuat Candi-candi beserta arca-arcanya. Semula, pengetahuan itu hanya untuk bangsa Hindu (India) yang beragama apa saja, pasti ditentukan memakai dan menghayati pasamaden. Sebab hanya dengan pengetahuan pasamaden itulah yang menjadi permulaan pengetahuan semesta, dan juga menjadi pengajaran agama paling utama.

Lama-kelamaan, bangsa India dengan Hindunya menyebar sampai ke Tanah Jawa dan sebagainya, termasuk penyebaran agama beserta pengetahuan-pengetahuan yang lain, termasuk pengetahuan pasamaden. Kawruh pasamaden di Tanah Jawa dapat berkembang pesat, sebab orang Jawa tidak memandang derajad, sudah senang dan akrab dengan laku puruta (Pasamaden), dan dapat menerapkan pengolahan pengetahuan itu, sebab dengan kawruh itu dapat cocok dengan dasar-dasar batin dan rohani orang Jawa. Sehingga dengan mudah segera merasuk ke dalam tulang sumsum orang Jawa. Ditambah lagi bahwa kemudian banyak orang India dan Hindu yang menjadi Jawa menyebarkan ajaran agama dan pengetahuan olah rohani, serta ilmu kebijaksanaan (kawicaksanaan). Ibarat sekejapan mata, bangsa Jawa di semua pelosok memeluk agama Hindu, dan juga, dengan kawruh pasamaden dan kawicaksanan, sudah merasakan keberuntungan, kemuliaan, kebahagiaan, dan sebagainya, sebab dari buah pengetahuan lelaku hening tersebut.

Kemudian datanglah orang-orang bangsa Arab yang masuk di Pulau Jawa, yang membawa pengetahuan dan agama yang disiarkan Nabi Muhammad, yang disebut agama Islam, yang mengurangi pengaruh agama Hindu, disebabkan oleh bapaknya orang yang memeluk Islam. Hanya saja penyebaran agama Islam tidak membawa dan tidak mengandung ilmu pasamaden seperti yang disebutkan di atas.


Syekh Siti Jenar : Bapak Ilmu Hening Jawa
Bersamaan dengan berkembangnya masa, kemudian terjadi keelokan dari ilmu laku yang tidak disangka-sangka. Dikemudian hari pengetahuan pasamaden tadi muncul diterima oleh kalangan orang Islam, sebab yakin kalau pengetahuan pasamaden tersebut memang menjadi mustikanya keinginan dan cita-cita yang dapat mendatangkan keselamatan, kemuliaan, ketenteraman dan hal-hal semacamnya. Oleh karena itu pengetahuan tadi oleh orang-orang yang sudah mendapatkan pencerahan batin yaitu Syekh Siti Jenar, yang juga menjadi pembimbing agama Islam berpangkat wali, kemudian tercantum didalam karya seratnya, yang kemudian disebut dengan daim, yang berasal dari kata daiwan yang disebut diatas. Kemudian juga menjadi bagian dari sarana manembah (penyembahan), sambil diberi tambahan julukannya, kemudian muncul istilah shalat daim (shalat bahasa Arab, daim dari kata daiwan bahasa Sansekerta ). Adapun kemudian ditambahi istilah Arab, hanya untuk perhatian untuk mengukuhkan keyakinan murid-muridnya yang sudah meresapi agama Islam. Juga perkataan shalat kemudian terpilah menjadi dua perkara. Pertama, shalat lima waktu, yang disebut shalat Syariat, maksudnya adalah panembah lahir. Kedua, shalat daim, itu adalah panembah batin, maksudnya adalah menekadkan (meng-I’tikadkan) manunggalnya pribadi, atau disebut pula loroning atunggal (dua yang menyatu [Kawula-Gusti, Ingsun-Gusti]).

Kitab karangan Syekh Siti Jenar tersebut kemudian digunakan sebagai pokok pengajaran. Kemudian setelah mendapatkan perhatian orang banyak, sholat lima waktu dan syara agama yang lain kemudian terpinggir, bahkan kemudian tidak terajarkan sama sekali. Yang menjadi perhatian hanya lelaku shalat daim saja. Maka orang jawa yang semula memeluk Islam, apalagi yang belum, hampir semuanya berguru kepada Syekh Siti Jenar, karena pengajarannya lebih mudah, jelas, dan nyata.

Sesudah Syekh Siti Jenar mengajarkan pengetahuan pasamaden, sebagai teman diskusi dan bertukar pikiran adalah Ki Ageng Pengging, yang kemudian menjadi muridnya, dikarenakan Syekh Siti Jenar adalah mitra dalam kebaikan dari Ki Ageng Pengging, yang kemudian menjadi muridnya, dikarenakan Syekh Siti Jenar adalah mitra dalam kebaikan dari Ki Ageng Pengging. Pengetahuan pasamaden oleh Syekh Siti Jenar juga diajarkan kepada Raden Watiswara, atau Pangeran Panggung, yang juga berpangkat wali. Kemudian juga diajarkan kepada Sunan Geseng, atau Ki Cakrajaya, yang semula bekerja menderas kelapa, (menjadi murid Sunan Kalijaga, termasuk anggota walisanga yang ikut menyaksikan dihukum matinya Syekh Siti Jenar, lalu berguru kepada Sunan Panggung). Asalnya dari Pagelen (Purworejo). Kemudian ajaran tersebut menyebar diamalkan oleh orang banyak. Demikian juga sahabat-sahabat Syekh Siti Jenar yang sudah terbuka rasanya oleh Syekh Siti Jenar kemudian mendirikan perguruan-perguruan pengetahuan pasamaden. Semakin lama semakin berkembang pesat, sehingga menyuramkan pengaruh dan penguasaan agama para wali yang sedang giat-giatnya menyerbarkan Islam syara’. Seandainya gerakan itu dibiarkan oleh para wali, terdapat kekhawatiran masjid akan kosong.


Konflik Antara Penerus Kerajaan Majapahit
Agar tidak terjadi hal yang demikian, maka Ki Ageng Pengging, Syekh Siti Jenar serta murid dan sahabatnya dijatuhi hukuman mati , dengan perintah Sultan Demak. Demikian juga Pangeran Panggung tidak ketinggalan, dipidana dimasukan kedalam bara api hidup-hidup di alun-alun Demak, sebagai peringatan agar msyarakat merasa takut, dan kalau sudah takut mereka mau membuang ajaran Syekh Siti Jenar. Diceritakan Pangeran Panggung tidak mempan oleh amuk api, dan kemudian melompat keluar dari dalam api, meninggalkan Demak. Sultan Bintara dan segenap para wali terbengong-bengong dan terkagum-kagum serta terpengaruh kewibawaan serta kesaktian Sunan Panggung, hanya kamitenggengen ( terdiam) seperti tugu. Sesudah sementara waktu, Pangeran Panggung sudah jauh, Sultan dan para wali baru ingat jika Sunan Panggung sudah pergi dari tempat pidana, serta merasa kalah. Disertai dengan banyak prajurit Sunan Geseng atau Ki Cakrajaya pergi menyusul sunan Panggung.  Sebagian pengikut yang tidak tertangkap pergi meninggalkan Demak mencari selamat.

Para sahabat dan murid yang masih hidup, masih tetap melestarikan ajaran Syekh siti Jenar tentang pengetahuan pasamaden, tetapi kemudian dibalut dengan pengajaran syariat Islam, agar tidak diganggu gugat oleh para wali yang menjadi alat Negara.

Demikianlah Sebenarnya kejadian ini  adalah konflik kekuasaan antara Para penerus kerajaan majapahit , Banyak sekali keturunan Raja Majapahit yang berguru kepada Syech Siti Jenar . Kerajaan Demak takut bila nanti Perguruan Syekh Siti Jenar besar akan menggulingkan kerajaan Demak.


Ajaran Pasamaden (Olah Hening)
Adapun sebagian ajarannya adalah sebagai berikut. Pengajaran pengetahuan pasamaden yang kemudian disebut shalat daim, dirangkapkan dengan pengajaran shalat lima waktu serta rukun-rukun Islam yang lain-lainnya. Pengajaran shalat daim itu disebagian kalangan disebut wiridan (tarekat) naksyabandiyah, sedangkan lelaku pengajarannya disebut tafakur. Sebagian ada yang dalam pengajarannya, sebelum murid menerima pengajaran shalat daim, terlebih dahulu dilatih dengan dzikir dan wirid membaca ayat-ayat suci. Oleh karena itu pengajaran pasamaden kemudian terbagi menjadi dua, yaitu :


1. Pengajaran pasamaden atau wewiridan dari para sabahat Syekh Siti Jenar, yang disertai dengan pengajaran syara’ rukun agama Islam. Pengajaran tadi sampai sekarang ini sudah meleset dari ajaran pokok semula, karena itu para guru sekarang, yang mempraktikan pengetahuan pasamaden, yang diberi nama (tarekat) naksabandiyah atau Syatariyah mengira bahwa pengetahuan dan wewiridan tersebut berasal dari ulama di jabalkuber (Hijaz, Mekkah). Kemudian para Kiai dan Guru tadi melaksanakan pengetahuan pasamaden menurut ajaran Jawa yang berasal dari pengajaran Syekh Siti Jenar. Atau juga para guru dan kiai tadi senang memberikan sebutan Kiniyai, yang mengandung maksud, guru yang mengajarkan ilmu setan, Sedang nama Kiai, adalah guru yang mengajarkan ilmu para nabi.
 
2. Pengajaran pasamaden menurut Jawa, buah dari Ki Ageng Pengging, yang tadinya dipancarkan dari pengetahuan Syekh Siti Jenar (yang kemudian diberikan peraban/sebutan klenik), yaitu yang semula menjadi pembuka pengajaran, terletak pada pengelolaan perwatakan lima hal, yaitu :
a. Setya Tuhu (kesetiaan dan ketaatan) atau temen (bersungguh-sungguh) dan jujur.


b. Teguh-sentausa, adil dalam segala hal, bertanggung jawab dan tidak berkhianat.


c. Benar dalam segala perilaku dan perbuatan, sabar dan berbelas kasih kepada sesama, tidak menonjolkan atau membangga-banggakan diri, jauh dari watak aniaya.


d. Pandai dalam segala pengetahuan, lebih-lebih pandai dalam membuat enak perasaan sesama, ataupun juga pandai menahan dan mengendalikan rasa amarah dan jengkelnya perasaan pribadi, tidak memiliki prinsip melik nggendhong lali (kalau sudah punya dan sudah enak lupa akan asalnya ), hanya karena pengaruh harta benda yang gemerlapan.


e. Susila anor-raga, selalu memelihara tata karma, mengendalikan akibat penglihatan (apa yang dilihat) dan pengaruh pendengaran (apa yang didengar) kepada pihak yang terkena.

Lelaku lima hal tadi harus dilaksanakan beserta iringan puja-brata dengan melaksanakan laku semedi, yaitu amesu cipta mengheningkan teropong penglihatan (mubasyirah). Oleh karena itu bagi pengamalan agama Jawa, bab mengenai pengetahuan pasamaden serta lelaku lima perkara diatas harus diajarkan kepada semua orang, tua muda tanpa memilih rendah tingginya derajat orang. Karena itu dengan sebab mustikanya pengetahuan atau luhur-luhurnya kemanusiaan, ini apalagi tetap semedi-nya, mampu menjalankan lima hal yang sudah disebutkan diatas. Oleh karena kita tinggal disuasana ketentraman, sedangkan keadaan tentram menyebabkan makmur-sejahtera dan kemerdekaan kita bersama. Kalau tidak demikian, sampai rusaknya dunia, kita akan tetap menanggung derita, papa dan terhina, tergilas oleh roda perputaran dunia, karena kesalahan dan terkhianati oleh perasaan kita pribadi.

Praktik Ilmu Hening Cara Jawa dan Ilmu Kasunyatan

Bab pengetahuan pasamaden yang kemudian disebut Naksyabandiyah dan Syatariyah, yang kemudian disebutkan sebagai wewiridan dari Syekh Siti Jenar, sudah dijelaskan diatas, hanya saja aplikasinya tidak dijelaskan secara rinci. Disini hanya akan menjelaskan lelaku aplikatif terhadap semedi secara Jawa, yang belum terpengaruh oleh agama apapun, yaitu seperti dibawah ini.

Para pembaca, agar jangan keliru atau salah terima, apabila ada anggapan bahwa semedi ini menghilangkan rahsanya hidup atau nyawa (hidupnya) keluar dari badan wadag. Penerimaan seperti itu, pada mulanya berasal dari cerita perjalanan Sri Kresna di Dwarawati, atau sang Arjuna ketika angraga-sukma. Agar diperhatikan, bahwa cerita seperti itu tetap hanya sebagai persemuan atau perlambang (symbol, bukan hal atau cerita yang sebenarnya). Adapun uraian mengenai lelaku semedi sebagai berikut. Istilah semedi sama dengan sarasa, yaitu rasa-tunggal, maligini rasa (berbaur berjalannya rasa), rasa jati, rasa ketika belum mengerti. Adapun matangnya perilaku atau pengolahan (makarti) rasa disebabkan dari pengelolaan atau pengajaran, ataupun pengalaman-pengalaman yang terterima atau tersandang pada kehidupan keseharian. Olah rasa itulah yang disebut pikir, muncul akibat kekuatan pengelolaan, pengajaran atau pengalaman tadi. Pikir lalu memiliki anggapan baik dan jelek, kemudian memunculkan tata-cara, penampilan dan sebagainya yang kemudian menjadi kebiasaan (pakulinan / adat). Apapun anggapan baik-buruk, yang sudah menjadi tata cara disebabkan telah menjadi kebiasaan itu, kalau buruk, ya betul-betul buruk, dan kalau baik, ya memang baik sesungguhnya. Dan itu semua belum tentu, karena semua itu hanyalah kebiasaan anggapan. Adapun anggapan (penganggep), belum pasti, tetap hanya menempati kebiasaan tata cara (adat), jadi ya bukan kesejatian dan bukan kenyataan (real).

Apa yang dimaksudkan semedi disini, tidak ada lain kecuali hanya untuk mengetahui kesejatian dan kasunyatan. Adapun sarananya tidak ada lagi kecuali hanya mengetahui atau menyilahkan anggapan dari perilaku rasa, yang disebut hilang-musnahnya papan dan tulis. Ya disitu itu tempat beradanya rasa-jati yang nyata, yang pasti, yang melihat tanpa ditunjukan (weruh tanpa tuduh). Adapun terlaksananya harus mengendalikan segala sesuatunya (hawa nafsu dan amarah), disertai dengan membatasi dan mengendalikan perilaku (perbuatan anggota badan). Pengendalian anggota tadi, yang lebih tepat adalah dengan tidur terlentang, disertai dengan sidhakep (tangan dilipat didada seperti takbiratul ihram, atau seperti orang meninggal) atau tangan lurus kebawah, telapak tangan kiri kanan menempel pada paha kiri kanan, kaki lurus, telapak kaki yang kanan menumpang pada tapak kaki kiri. Maka hal itu kemduian disebut dengan sidhakep suku(saluku) tunggal. Ataupun juga dengan mengendalikan gerakan mata, yaitu yang disebut meleng. Lelaku seperti itu dilakukan bagi yang kuasa mengendalikan gerak-bisik cipta (gagasan, ide, olah pikir), serta mengikuti arus aliran rahsa, adapun pancer-nya (arah pusat) penglihatan diarahkan dengan memandang pucuk hidung, keluar dari antara kedua mata, yaitu di papasu, adapun penglihatannya dilakukan harus dengan memejamkan kedua mata.

Selanjutnya adalah menata keluar masuknya napas, seperti berikut, Napas ditarik dari arah pusar, digiring naik melebihi pucuk tenggorokan hingga sampai di suhunan (ubun-ubun), kemudian ditahan beberapa saat. Proses penggiringan atau pengaliran napas tapi ibarat memiliki rasa mengangkat apapun, adapun kesungguhannya seperti yang kita angkat, itu adalah mengalirnya rasa yang kita pepet dari penggiringan nafas tadi. Kalau sudah terasa berat penyanggaan ( penahanan) napas, kemudian diturunkan secara pelan-pelan. Lelaku seperti itu yang disebut sastra-cetha. Maksudnya sastra adalah tajamnya pengetahuan, cetha adalah mantapnya suara dipita suara (cethak), yaitu cethak (diujung dalam dari lidah) mulut kita. Maka disebut demikian, ketika kita melaksanakan proses penggiringan napas melebihi dada kemudian naik lagi melebihi cethak hingga sampai ubun-ubun. Kalau napas kita tidak dikendalikan, jadi kalau hanya menurutkan jalannya napas sendiri, tentu tidak bisa sampai di ubun-ubun, sebab kalau sudah sampai tenggorokan langsung turun lagi.

Apalagi yang disebut daiwan (dawan), yang memiliki maksud : mengendalikan keluar masuknya napas yang panjang lagipula disertai dengan sareh (kesadaran penuh dan utuh), serta mengucapkan mantra yang diucapkan dalam batin, yaitu ucapan “hu” disertai dengan masuknya napas, yaitu penarikan napas dari pusar naik sampai ubun-ubun. Kemudian “Ya” disertai dengan keluarnya nafas, yaitu turunnya nafas dari ubun-ubun sampai pada pusar; naik turunnnya nafas tadi melebihi dada dan cethak (pita suara). Adapun hal itu disebut sastra – cetha. Karena ketika mengucapkan dua mantra sastra: “hu-ya”, keluarnya suara hanya dibatin saja, juga kelihatan dari kekuatan cethak (tenggorokan). (Ucapan dan bunyi mantra atau dua penyebutan ; “hu-ya” pada wirid Naksyabandiyah berubah menjadi ucapan; “hu-Allah”, penyebutannya juga disertai dengan perjalanan nafas. Adapun wiridan Syatariyah, penyebutan tadi berbunyi; [laa illaaha illa Allah], tetapi tanpa pengendalian perjalanan nafas).

Untuk masuk keluarnya nafas seperti tersebut diatas, satu angkatan hanya mampu mengulangi tiga kali ulang, walau demikian, karena nafas kita sudah tidak sampai kuat melakukan lagi, karena sudah berat rasanya ( menggeh-menggeh / ngos-ngosan). Adapun kalau sudah sareh (sadar-normal), ya bisa dilaksanakan lagi, demikian seterusnya sampai merambah semampunya, karena semakin kuat tahan lama, semakin lebih baik. Adapun setiap satu angkatan lelaku tadi disebut tripandurat, maksudnya tri = tiga, pandu = Suci, rat = Jagat = Badan = Tempat. Maksudnya adalah tiga kali nafas kita dapat menghampiri jagat besar Yang Maha Suci bertempat didalam suhunan (yang dimintai). Yaitulah yang dibahasakan dengan pawirong kawulo Gusti, maksudnya kalau nafas kita pas naik, kita berketempatan Gusti, dan ketika turun, kembali menjadi kawula. Tentang masalah ini, para pembaca hendaklah jangan salah terima! Adapun maksud disebutnya kawula-Gusti, itu bukanlah nafas kita, akan tetapi daya ( kekuatan ) cipta kita. Jadi olah semedi itu, pokoknya kita harus menerapkan secara konsisten, membiasakan selalu melaksanakan keluar-masuk dan naik-turunnya nafas, disertai dengan mengheningkan penglihatan, sebab pengliahatan itu terjadi dari rahsa.


Ajaran Syech Siti Jenar
Seperti telah diketahui banyak orang, Syekh Siti Jenar merupakan wali tanah jawa yang paling nyentrik (unique). Ajaran-ajarannya cukup controversial dibandingkan dengan ajaran islam sebagaimana umumnya dipahami masyarakat. Syekh Siti Jenar menempatkan Islam bathini atau hakiki (esoteris) memiliki kedudukan seimbang dengan Islam dzahiri atau syar’I (eksoteris). Bahkan kemudian ada kesan aspek syari’at tidak diperhatikan.

Jelas kesimpulan ini salah. Sebagaimana tampak dalam berbagai wejangan mistik dan ajaran-ajarannya, Syekh Siti Jenar tidak menihilkan syariat. Hanya saja dia juga tidak mau umat Islam terjebak dalam formalisme syariat, sehingga agama tidak lagi memiliki makna utuh bagi kehidupan manusia, baik didunia maupun dialam kehidupan sejati.

Yang lebih memprihatinkan lagi adalah, tuduhan (yang sebenarnya berasal dari para peniliti Belanda) bahwa ajaran Syekh Siti Jenar merupakan pertempuran antara Kejawen dan Islam (struggle between Javanism and Islam), dimana ajaran Syekh Siti Jenar dituduh sebagai rekayasa budaya untuk menyerang Islam. Repotnya lagi, analisis negative ini dikembangkan, bahwa corak perlawanan budaya Jawa bersifat struggle form with in ( gerilya dari dalam). Jadi Islamnya orang Jawa dituduh hanya sebagai siasat dan strategi budaya untuk melumpuhkan Islam dari dalam. Tuduhan ini bermula dari artikel G.W.J Drewes dan Th. Pigeaud, yang kemudian menjadi acuan bagi kebanyakan peneliti Islam dan Jawa. Mungkin jika tuduhan itu dialamatkan khususnya pada Serat Darmogandul sebagai basis penelitian, dan lebih lagi pada Serat Gatoloco, agak ada benarnya. Namun jika tuduhan itu dialamatkan kepada ajaran Syekh Siti Jenar (dan ini kesimpulan mereka) sangatlah tidak benar.

Dari segi perkembangan sejarahnya, antara budaya Jawa dan Islam tidak pernah terjadi perbenturan. Bahkan antara keduanya saling mengisi, saling melengkapi membentuk system peradaban baru yang bisa saja disebut sebagai Islam-Jawa. Justru kebudayaan Jawa banyak sekali (dominan) menyerap peradaban Islam, yang secara kreatif disinergikan menjadi budaya Jawa.

Dengan strategi inilah justru kehadiran Islam, yang ternyata sudah banyak dianut masyarakat pedalaman Majapahit diterima oleh masyarakat pedalaman Jawa. Sedikit gejolak dan perbenturan justru terjadi pada masa awal Kerajaan Demak, dikarenakan Kerjaan Demak menerapkan Islam formal berbasis pada aturan ketat fiqih sebagai agama resmi Negara. Seorang intelektual Islam-Jawa, Soebardi membantah sinyalemen para peneliti Belanda, bahwa kalaupun Syekh Siti Jenar dan para pengikutnya banyak dihukum mati, hal ini bukan karena mereka menjadi musuh Islam. Yang terjadi hanyalah karena mereka menyebarkan ajarannya yang bertentangan dengan paham resmi kerajaan.

Sedangkan dari segi ajarannya, justru banyak yang menunjukan rasa simpati dan bahkan membenarkan pendapat-pendapat Syekh Siti Jenar. Sehingga dalam Serat Centini diceritakan, bahwa setelah tiga hari wafatnya, para wali melihat jenazah Syekh Siti Jenar masih utuh, bagus, dan berbau harum. Pada saat itulah, dari jenazah tersebut terdengar suara ucapan salam dan ungkapan selamat tinggal. Syekh Siti Jenar juga mendoakan para wali dan Sultan agar mendapat barakah dan hidayah sepeninggalnya.

Syekh Siti Jenar menampilkan versi Islam yang sejiwa dengan kebudayaan dan peradaban masyarakat yang berkembang. Oleh karenanya beberapa aspek ajaran Islam, yang di TimurTengah menjadi bahasan pokok keagamaan, oleh Syekh Siti Jenar justru kurang dijadikan materi pokok bagi ajarannya, misalnya tentang hari kebangkitan dan surga serta neraka. Ini bukan berarti bahwa Syekh Siti Jenar menolak kenyataan adanya surga dan neraka, serta keberadaan akhirat.

Namun ada tiga alasan pokok mengapa Syekh Siti Jenar tidak menjadikan keimanan kepada hari akhirat sebagai bagian pokok ajarannya.

Pertama, kepercayaan akan adanya surga dan neraka sebagai puncak keimanan hari akhir, bukanlah hal baru bagi agama Islam, sebab semua agama dan kepercayaan kuno juga mengajarkannya. Demikian pula masyarakat Indonesia saat itu, sudah tidak asing lagi dengan berbagai mitologi tentang surga dan neraka. Oleh karenanya kekurang-yakinan masyarakat Jawa pada saat itu terhadap Islam Formal, karena mereka mendapatkan bahwa nasib dan keadaan mereka akan sama saja, baik dunia maupun akhirat, apakah dengan memeluk Islam atau tetap pada kepercayaan lama. Toh Islam juga penuh dengan mitologi eskatologis ( hari akhirat yang tidak dapat dibuktikan). Dalam hal inilah Syekh Siti Jenar memberikan makna baru tentang akhirat dan surga-neraka sebagai yang riil sejak manusia ada di dunia.

Kedua, Syekh Siti Jenar menegaskan bahwa alam akhirat dengan surga dan nerakanya hanyalah mahluk sebagaimana manusia. Sedangkan tempat kembali manusia yang sesungguhnya adalah Allah, darimana ia sebenarnya berasal (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un; sesungguhnya semua berasal dari Allah, dan hanya kepada-Nyalah semua kembali; Allah iku sangkan paraning dhumadi). Manusia yang sudah manunggal (sampurna al-insan al-kamil) akan langsung kembali kepada Allah, tidak melewati alam lintasan yang disebut akhirat. Sebab alam akhirat (sejak dari alam barzakh sampai neraka dan surga) sebenarnya hanyalah alam lintasan, untuk menyempurnakan roh bagi manusia yang saat mengalami kematian masih belum mencapai kasampurnan. Oleh karena itu, segala bentuk kenikmatan fisik itu, termasuk surga sekalipun, bagi Syekh Siti Jenar tetap dianggap sebagai “penderitaan”.


Sebagaimana banyak dikemukakan oleh Al-Qur’an sendiri, konsepsi surga dan neraka masih berkutat pada konteks jisim, yakni pencukupan kenikmatan dan siksaan jasmaniah, dengan fungsi utama menyempurnakan roh manusia. Dari kedua alam lintasan itulah roh disempurnakan lagi tahap demi tahap menuju kesempurnaannya. Sama dengan proses kematiaan yang terjadi pada manusia. Bagi orang yang sudah mencapai ilmu kasampurnan, proses kematiannya telah dipersiapkan sesempurna mungkin, baik waktu, tempat serta bagaimana ia menempuh kematian, dan arah selanjutnya kemana sudah jelas, sesuai dengan “kesepakatan” iradah dan kodrat antara kawula-Gusti.Disini kematian termasuk dalam kodrat Pribadi.

Sementara orang yang belum mencapai ilmu kasampurnan, proses kematiannya “dipaksakan”, yakni Allah mengutus malaikat pencabut nyawa untuk “memaksa” mengeluarkan roh dari jasad orang tersebut. Kematian jenis inilah yang masih mengharuskan orang tersebut menempuh berbagai lintasan-lintasan kehidupan pasca pengalaman kematiannya , guna mencapai kesempurnaan. Kalaupun nantinya memperoleh kesempurnaan, maka Kasampurnan yang diperoleh tentu tidak “sesempurna” manusia yang sejak awalnya sudah mencapai kasampurnan. Kalaupun nantinya memperoleh kesmperunaan, maka kasampurnan yang diperoleh tentu tidak “sesempurna” manusia yang sejak awalnya sudah mencapai kasampurnan.

Ketiga, alam akhirat bukanlah sejenis pengetahuan yang hanya diimani begitu saja. Alam akhirat yang sejati adalah alam kemanunggalan, bukan surga dan neraka. Demikian pula teologi tentang kiamat bagi Syekh Siti Jenar bukanlah penting, sebab kiamat sudah terjadi sejak manusia lahir didunia ini, yang disebut Syekh Siti Jenar sebagai alam kematian. Maka didunia ini pula manusia harus mampu bangkit sebagai pribadi., dengan menemukan sang Ingsun Sejati agar meraih kemanunggalan. Dalam teologi Syekh Siti Jenar, kiamat dan alam akhirat bukanlah hal substansial, tegasnya lagi tidak termasuk dalam rangka rukun keimanan.

Lalu bagaimana Syekh Siti Jenar memahami mengamalkan konsep Rukun Iman dan Rukun Islam?

Sebagaimana sudah diketahui dari ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar dalam buku ini, teologi Syekh Siti Jenar bercorak aplikatif dan lintas madzhab atau paham keagamaan tertentu. Teologinya merupakan ramuan dari ajaran keagamaan, Islam terapan, kebudayaan dan peradaban yang berkembang dalam lokus masyarakat tertentu, dan yang lebih penting lagi, agama yang menyejarah berbasis pada pengalaman spiritual yang nyata.

Maka dalam mempelajari dan memahami ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar dalam buku inipun, harus bersifat integrative dan sinergis, tidak bisa saling dipisahkan. Mempelajari ilmu dan pengetahuan (belajar), melatih diri, dan mengalami adalah prinsip dasar agama Islam yang sesungguhnya.

Dalam teologi Syekh Siti Jenar, Rukun Islam juga dipahami dari sudut ilmiah, amaliah, dan empiric. Antara nalar rasional, aplikasi perbuatan, dan spiritualitas menyatu-padu dalam satu pribadi.

Syahadat memiliki substansi watak temen (bersungguh-sungguh, konsisten, disiplin, beretos tinggi). Ukuran utamanya adalah pada pembicaraannya, yaitu nuhoni ( selalu sesuai, benar, jujur, tidak pernah menyimpang) dalam hal pembicaraannya. Itulah yang disebut tetapnya syahadat. Antara lisan, hati, dan pikiran manunggal. Tidak fasik, munafik, berlainan lisan dan hati. Prinsipnya jujur dan benar.
Puasa adalah laku nrima (menerima dengan penuh kerelaan). Segala sesuatu yang menjadi sebab munculnya keinginan tidak menggoyahkan mental dan moral, serta keyakinannya.
Zakat adalah laku utama, terutama kesabaran dalam hal keinginan yang muncul dari mata, atau kepuasan pribadi. Dengan demikian, apa yang ada dalam dirinya siap “hilang” untuk kepentingan kemanusiaan dan masyarakat.

Shalat adalah olah batin, meredam segenap pancaindera, daya rohaninya selalu menghadap Allah. Segala aktivitasnya hanya berorientasi pada tekad lillahai ta’ala, sebagai aplikasi dalam menempuh kodrat hidup.

Dan akhirnya adalah Haji, yang hakikatnya terletak pada penyesalan serta menepati janji, baik janji Ilahiyah (untuk manunggal) dan janji kemanusiaan (mendatangkan manfaat sebesar-besarnya bagi manusia dan semesta, sebagai khalifatullah, wujud nyata wakil Allah; sebagai “Allah” yang hadir langsung dibumi).

Sementara aplikasi Rukun Iman dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut.
Keimanan kepada allah adalah menepati jalan hidup jasad fisik sebagai kodrat Pribadi, dan merasa bahwa kehadiran manusia didunia ini tidak lain menjadi sifat Allah yang sejati. Manusia sempurna adalah pengejawantahan Allah di dunia (khalifatullah). Oleh karenanya harus selalu menjaga kesucian jasad, batin suci, bersih, dan selalu terjaga dari nafsu. Dan segala perilaku selalu berarah pada keutamaan.

Keimanan kepada malaikat adalah penjagaan atas pengelihatan, pembicaraan, perasaan, pengrasa bau, pendengaran dan segala panca indera. Jadi manusia harus hati-hati dalam melakukan segala bentuk aktivitas, agar tidak menyimpang dari kebenaran dan kemanfaatan.

Malaikat Jibril adalah symbol dari kalam (pembicaraan yang benar); Mikail pada indera pembau; Israfil pada indera penglihatan; Izrail pada pendengaran dan perasaan; Haruman pada nyawa; Munkar dan Nakir pada nafsu; Kiraman dan Katibin pada akal-budi. Dengan menjaga seluruh aspek itulah seseorang baru bisa dikatakan beriman kepada malaikat Allah.
Kepercayaan kepada Rasul dan Nabi (utusan) sebenarnya adalah menerapkan ketajaman perasaan (rahsa) yang selalu diasah. Kuncinya adalah mengendalikan perasaan dan mengheningkan cipta, sehingga dapat connect (menyambung) dan manunggal dengan Allah. Itulah hakikat keimanan kepada utusan Allah. Ini berhubungan erat dengan keimanan kepada Kitabullah, yaitu memahami dan menjaga keadaan nyawa, awas dan waspada dalam perjalanan hidup, selalu ingat dan mengerti asal mula kejadian manusia, batin selalu dzikir kepada Allah, dan diupayakan selalu “berbicara” dengan Allah.

Keimanan kepada nasib baik dan buruk adalah kemampuan menjalani kodrat hidup didunia. Manusia harus mengerti bahwa terwujudnya nafsu berasal dari pengelolaan dan pengolahan budi dan pribadi. Oleh karenanya manusia harus selalu pasrah dan menyesal pada dzat manusia pribadi, akan keberadaannya dialam kematian didunia ini. Segala langkah hidupnya hanya diarahkan pada proses menuju kemanunggalan.

Kemudian keimanan kepada hari akhir, pada hakikatnya mengetahui dan mempersiapkan diri untuk titis pati (wafat dengan husnul khatimah). Kematian sebenarnya berdasarkan pada kesiapan dan kesediaan dzat manusia pribadi. Dalam hal ini, tekad terhadap kenyataan kemanunggalan menjadi kunci bagi pengetahuan dan pengalaman kematian, yang dengan kematian itulah, gerbang kehidupan abadi-sejati, dan segala kasampurnan kehidupan diraih. Uninong, aning, unong. Manusia yang telah mencapai kesatuan dengan Tuhan, berada dalam kebahagiaan hidup sejati yang abadi, tidak akan mengalami kerusakan lagi.

Dari berbagai hal yang telah dikemukakan dalam buku ini, nampak bahwa ajaran Manunggaling Kawula-Gusti bukan semata ajaran mistik. Terbukti dari aplikasi ajaran tersebut, baik oleh Syekh Siti Jenar sendiri, ataupun oleh murid dan pengikutnya, mereka telah mampu menjadi manusia-manusia yang shalih dalam hal spiritualitas religius, bermanfaat secara social, menjadi motor bagi peradaban pada zamannya, memiliki etos kerja yang tinggi serta produktif, serta aktif pula dalam gerakan kemanusiaan melawan segala bentuk kedzaliman.

Sering kita membaca dalam berbagai analisis mengenai Syekh Siti Jenar, bahwa wali Tanah Jawa ini, hanyalah merepresentasikan ajaran Manshur al-Hallaj dari Baghdad. Bahkan banyak analisis yang menyebutkan bahwa sejarah Syekh Siti Jenar tidak lain cuplikan kisah al-Hallaj yang diberi warna Islam-Jawa. Jelas analisis ini perlu diluruskan.

Memang ada sedikit kesamaan antara al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Sebagaimana disebutkan sendiri oleh Syekh Siti Jenar bahwa tarekatnya,yaitu al-Akmaliyah, Substansi ajarannya pernah diajarkan secara terbuka oleh Al-Hallaj dalam bentuk tarekat al-Anfusiyah. Akan tetapi kesamaan ajaran ini sebatas pada kesamaan jenis ajaran wujudiyahnya. Sama halnya substansi ajaran dengan al-Syuhrawardi al-Maqtul, ‘Aynul Quddat al-Hamadani, Ibnu ‘Arabi, al-Jilli, bahkan dengan Hamzah Fansuri dan Nuruddin al-Sumatrani. Dalam beberapa hal juga terdapat substansi Karkhi, Syekh ‘Abdul Qadir al-Jaylani, serta Junaid al-Baghdadi. Tentu saja kalau kesamaan ajaran dijadikan dasar duplikasi peristiwa bahwa keduanya sama sama dibunuh, dan dituduh melawan pemerintah yang berkuasa, disamping factor tuduhan ajaran yang sesat. Bukan hanya al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar yang mengalami peristiwa itu, toh Syuhrawardi dan ‘Aynul Quddat al-Hamadani juga dibunuh, dan dituduh terlibat persekongkolan politik, serta dituduh ajarannya sesat. Sementara dari berbagai fakta sejarah dan data kepustakaan jelas membuktikan bahwa mereka adalah manusia sejarah yang pernah hadir dalam kurun waktu dan tempat yang berbeda. Adapun nasib Hamzah Fansuri, Syekh ‘Abdul Qadir al-Jailani, Abu Yazid al-Bushtami dan beberapa sufi wujudiyah yang lain, memiliki nasib duniawi “yang agak lebih baik”, karena tidak dijatuhi vonis hukuman mati, karena memang tidak sedang terjadi pertentangan politik yang sengit.

Dalam hal kesamaan nasib tragis antara al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar, juga terdapat perbedaan dalam sebabnya. Keduanya sama-sama dibunuh karena alasan politis. Bedanya, Syekh Siti Jenar lebih mendekati pada pertimbangan dasar demi kepentingan kerajaan (dalam hal ini Kesultanan Demak), sementara al-Hallaj juga sangat dekat dengan penguasa.
Terdapat banyak hal yang khusus pada Syekh Siti Jenar. Ajaran Manunggaling Kawula Gusti, bukan semata-mata bentuk kefana’an dan juga bukan semata-mata ittihad, yang lebih bersifat pasif, sebab keaktifan hanya ada pada sisi lahutiyah-nya (unsure ke-Tuhanan), sementara unsur nasutiyah pasif sebagai yang ketempatan. Sedangkan dalam Manunggaling Kawula Gusti sama-sama aktif antara kawulan dengan Gustinya. Jadi konsep “raji’un” (kembalinya manusia kepada Allah) bersifat final dan total. Dan secara terbuka dengan analisis yang tajam, berdasarkan al-Qur’an, Sunnah, atsar sahabat, pengalaman para auliya’ terdahulu, serta pengalaman Pribadinya. Pengalaman dalam moment Manunggaling Kawula Gusti dalam ajaran Syekh Siti Jenar betul-betul menjadi bukti nyata bagi adanya al-halawat al-iman (lezat-manis-nya rasa buah keimanan), sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah Muhammad.

Dalam hal masalah ajaran inilah, para ahli sepakat, bahwa dalam kesamaan ajaran antara al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar sangat jarang dijumpai. Termasuk Zoetmulder pun memiliki kesimpulan bahwa dalam ajaran Syekh Siti Jenar tidak terdapat bekas-bekas dari ajaran otentik al-Hallaj. Tentu saja kesimpulan ini tidak sepenuhnya benar, sebab dalam hal dasar mistik, yakni tauhid al-wujud, memiliki fondasi spiritual yang sama.

Hanya saja focus al-Hallaj hanya pada aktivitas mistik atau kesufiannya (termasuk program penyebaran ajarannya yang sama-sama miyak warana sebagaimana Syekh Siti Jenar ). Sementara Syekh Siti Jenar, disamping aktivitas kesufian, ia juga sangat menaruh perhatian pada pendidikan keislaman yang utuh, sehingga ia merasa perlu membuat dua “pesantren”, yang satu di Giri Amparan Jati sebagai pusat pengajaran dalam ilmu-ilmu pengetahuan Islam, sedang yang satunya lagi Paguron Lemah Abang (juga disebut dengan Krendhasawa) sebagai pusat pengajaran tasawuf Manunggaling Kawula Gusti. Paguron Lemah Abang ini kemudian diperluas melalui cabang-cabang Paguron dan Pedukuhan Lemah Abang diberbagai daerah se-Jawa.

Syekh Siti Jenar juga sangat dikenal disamping keterbenamaannya dalam kecintaan dan kemanunggalan kepada Ilahi sebagai seseorang yang mandiri, menjamin kebebasan akal dan ilmu, memiliki solidaritas tinggi terhadap agama dan kepercayaan lain, berjiwa inklusif dalam keagamaan dan spiritualitas, dan sebagai motor penggerak bagi kesadaran social, budaya, dan politik bagi masyarakat. Syekh Siti Jenar mempelopori gerakan masyarakat untuk bangkit dengan segenap hak-haknya sebagai manusia, serta bangkit daya spiritualnya, yang kemudian diabdikan bagi kepentingan kemanusiaan dan semesta, dalam rangka mengejawantahkan dirinya sebagai khalifatullah, tangan kanan Allah yang menyejarah di bumi.

Maka wajar jika dikemudian hari, Syekh Siti Jenar menjadi wali yang paling digemari oleh rakyat, yang sampai hari ini, riwayatnya serta ajaran – ajarannya masih tetap hidup ditengah masyrakat Islam (khususnya Islam-Jawa di Indonesia). Dan yang terkesan istimewa adalah, bahwa studi mistik jawa baru dianggap tuntas jika sudah menyentuh ajaran Syekh Siti Jenar. Karena memang puncak spiritualitas Islam-Jawa berada pada ajaran Syekh Siti Jenar.

Jadi benarlah bahwa Syekh Siti Jenar merupakan guru mistik yang brilian. Tokoh mistik sejati dan wali yang kontekstual. Ia menyampaikan ajaran Islam secara empiric, realitas, dan mampu menggugah bangkitnya kesadaran Pribadi, mengoptimalkan seluruh daya hidup, untuk menjalani kodrat didunia secara tuntas, sehingga ketika mati tinggal menuju kemanunggalan dengan Gusti, tanpa melalui lintasan barzakh, mahsyar, neraka dan surga.

Kejeniusannya juga dibuktikan melalui ajaran-ajarannya yang dituangkan dalam beberapa karya tulis, diantaranya yang disebutkan langsung oleh Syekh Siti Jenar adalah Kitab Balai Mubarak, Talmisan, dana Musakhaf. Sayangnya warisannya dalam bentuk karya tulis sampai saat ini belum berhasil ditemukan. Ini berhubungan dengan larangan atas ajaran-ajarannya sejadk abad ke-16, yaitu sejak dia dijatuhi hukuman mati, sehingga tampatknya kitab-kitab tersebut ikut dimusnahkan.

Tampaknya, memang melalui Syekh Siti Jenar, titik kulminasi mistik Jawa, sekaligus titik kulminasi spiritualitas Islam (tasawuf) telah terjadi. Innama al-‘ilmu ‘inda Allah, wa Allahu al-waliy al-taufiq wa ilaihi raji’un


Keadaan Puncak Pencapai Ma’rifatullah
Selain sebagai “Bapak Filsafat Eksistensialisme Islam-Jawa”, Syekh Siti Jenar juga dikenal sebagai auliya’ yang mengakomodasi pola meditasi sebagai bagian dari konteks spiritualitas islam. Akibatnya, dikemudian hari Syekh Siti Jenar juga disebut sebagai “Bapak Ilmu Hening Jawa”.

Pada masa modern kemudian terbukti bahwa dalam mistisisme dikenal suatu cara meditasi atau jalan penempuhan mistik yang jelas alurnya. Yang menurut Evelyn Underhill (1955:75) memiliki stadium secara umum :


a. bangkitnya kesadaran (awakening) yang juga merupakan kebangunan diri pribadi kea rah realitas Ketuhanan. Pada stadium ini individu mengalami eksaltasi (penyaksian keagungan, kemuliaan yang luar biasa) dengan kegembiraan yang terlampaui.


b. Pertobatan diri atau penghancuran dosa diri (purgation), suatu stadium kesediaan dan usaha, muncul setelah merasakan keindahan Tuhan, sehingga ia berusaha membenahi diri (self discipline) dalam bentuk meditasi dan mematikan hawa nafsu.


c. Pencerahan diri (illumination), stadium kegembiraan yang sebenarnya menjurus ke satu eksaltasi, terlepas dari kehidupan alam fana dan muncul kesadaran akan kehadiran Tuhan. Ketiga hal tersebut merupakan awal kehidupan mistik.


d. Pembersihan diri (purification) dari “malam gelap jiwa” (the dark night state), sehingga membentuk kesempurnaan pribadi. Mulai ada kesadaran antara kehadiran Tuhan dengan penyatuan dirinya dengan Tuhan. Untuk proses penyatuan sempurna ia mematikan dan menghilangkan naluri manusiawi (human instince) agar tercapai perasaan bahagia dan ia menjadi pasif.


e. Puncaknya adalah keadaan menyatu atau persatuan (the unity of state) dan kehidupan absolute, bersatu dengan Tuhan sehingga jiwanya telah memasuki alam yang tidak terbatas dan keabadian.


Jelas bahwa Underhill melihat pengalaman keagamaan menyangkut perjuangan diri, melampaui tahap demi tahap proses dengan perjuangan berat sehingga membentuk citra pribadi yang kuat demi keinginan kebersamaan dengan Tuhan. (Dalam ilmu tasawuf perjuangan melampaui tahap demi tahap pencapaian diri disebut al maqamat. Sedang pencitraan pribadi yang kuat sebagai hasilnya disebut sebagai al-ahwal. Sehingga disebutkan bahwa al maqam merupakan hasil dari usaha, sedangkan al-hal merupakan anugerah). Semua itu dalam system ajaran Syekh Siti Jenar diaplikasikan secara utuh sebagai proses kedirian yang konsisten, sistematis dan memusat.

Abraham W. Maslow (Toward:74-94) melukiskan karakteristik dan identitas personal orang yang mengalami pengalaman puncak (peak experience) yang disampaikan dlm buku Toward Psychology of Being :


1. individu yang berada pada pengalaman puncak merasakan menyatu (integrated) dengan segala sesuatu, dirinya , lingkungan, dan alam. Sikapnya juga lebih focus, serasi, efisien, sinergi dan tidak mengalami friksi internal. Secara alamiah ia mudah melebur dengan dunia yang bukan merupakan pribadi. Inilah pencapaian terbesar dari identitas peak experience.


2. ia merasakan dirinya berada di puncak kekuatan. Mampu memanfaatkan kapasitasnya secara penuh, fungsi dirinya utuh menyeluruh (fully function), merasa lebih cerdas, peka, humoris, dan mulia disbanding waktu-waktu biasa. Pencapaian kondisi dan kekuatan tersebut seakan dating dengan sendirinya, sehinga ia tidak mengalami kesukaran atau penurunan fungsi sebagaimana terjadi pada waktu lain.


3. lebih merasa menjadi dirinya sendiri, percaya diri, bertanggung jawab, aktif dan kreatif dalam aktivitas. Ia merasa sebagai penentu utama bagi dirinya.


4. memiliki sikap inklusif, terbebas dari sekat-sekat segala sesuatu. Tanpa memiliki beban rintangan, keilmuan tertentu dan tidak takut pada kritik pribadi. Terlepas dari kondisi subyektif atau obyektif, nilai positif atau negative dari sikap itu.


5. dengan karakteristik kebebasan yang dimiliki, ia cenderung lebih spontan, ekspresif, berpikir cepat, terbuka, sederhana, jujur, ikhlas, polos, santai dan alamiah. Inilah karakteristik otentik seseorang yang mengalami pengalaman puncak. Dengan jiwa kesatuan dan individualitasnya, ia memiliki corak khas yang berbeda disbanding orang lain.


6. pribadi orang itu seperti dewa. Tidak memiliki motovasi atau keinginan, kebutuhan, serta harapan, terutama yang mengarah pada ketidak baikan. Ia bersifat tidak membutuhkan sesuatu, walaupun ia kreatif, itu dilakukannya tanpa pamrih. Dia melakukan sesuatu apa yang seharusnya ia lakukan.


7. ia merasakan puncak kenikmatan, pembebasan, perasaan terharu, kesempurnaan atau perwujudan. Dunia menjadi tampak sempurna, indah, adil, dan seakan menyatu dalam rantai cosmic-connection (saling berkaitan, saling melengkapi, dan sinergi)


8. setelah selesai dari pengalaman puncak, ia merasakan kelegaan luar biasa, keberuntungan yang tidak terduga, karena hal itu terjadi dengan sendirinya, tanpa perencanaan, dan reaksinya tidaklah pernah diharapkan.


9. sebagai akhirnya, ia menjadi hamba yang selalu bersyukur serta selalu berterimakasih kepada apa/siapa saja. Dan segala sesuatu yang menyebabkan keberuntungan itu teralami.

Bandingkan kenyataan-kenyataan tersebut dengan berbagai keadaan, ajaran dan pengalaman spiritual sebagaimana yang telah ditulis di halaman-halaman awal thread ini (yang diambil dari buku Sufisme Syekh Siti Jenar, kajian Serat dan Suluk Siti Jenar, 2004). Sikap-sikap Syekh Siti Jenar akomodatif terhadap kebudayaan Jawa, inklusif terhadap agama lain, dan semangat pembelaannya terhadap rakyat tidak lain merupakan buah dari spiritualitasnya.

Pengalaman keagamaan berikut pencapaian ma’rifatullah merupakan sesuatu yang sulit diukur, tidak bersifat absolute, dan tentu saja tidak akan pernah selesai untuk dikaji. Sebaliknya penelitian tentang pengalaman keagamaan juga tidak mungkin akan pernah selesai, karena setiap saat pengalaman itu akan juga akan bertambah, baik kuantitas maupun kualitas serta bertambahnya pelaku dan penikmat. Sedang pada pelaku masing-masing juga mengalami penambahan di segala pengalaman keagamaannya.

Bagi Syekh SIti Jenar, misteri tersebut bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipecahkan. Hanya saja caranya harus dengan memasuki misteri itu sendiri, bukan hanya mengamatinya dari luar serta memberikan penilaian dari luar pagar. Misteri tersebut akan terpecahkan dengan memasukinya dan mengalaminya.  



Ma’rifat dalam Term al-Qur’an
Ma’rifat dalam term-term al-Qur’an memiliki banyak arti: mengetahui, mengenal, sangat akrab, hubungan yang patut, berhubungan baik dan pengenalan berdasarkan pengetahuan mendalam. Arti ma’rifat ini berasal dari kata yang berakar pada kata ‘arafa, dalam keseluruhan al-Qur’an disebutkan sebanyak 71 kali. Maka jika semua pengertian itu dihimpun dalam satu pengertian, ma’rifat dalam substansi al Qur’an memiliki maksud sebagai pengenalan yang baik serta mendalam berdasarkan pengetahuan yang menyeluruh dan rinci, sebagai buah hasil dari hubungan yang sangat dekat dan baik. Pengertian inilah yang berlaku pada konsep ma’rifat terhadap Allah (ma’rifatullah).


Untuk sampai kepada kesempurnaan ma’rifatullah, oleh karena turunnya al-Qur’an melalui kalbu Rasulullah, maka al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa seseorang juga harus memiliki ma’rifat terhadap rasulullah atau ma’rifatur-rasul.


“orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).” (al-An’am/6: 20).


Jika pengenalan akan Allah sebagaimana pengenalan atas dirinya sendiri (man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu), maka dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa ma’rifatur-rasul identik dengan pengenalan terhadap anak-anak kita sendiri. Jadi betapa dekatnya kita dengan Rasulullah kalau memang kita dapat ber-ma’rifat kepadanya secara benar.


Sebagai bentuk aplikasi dari dua ma’rifat tersebut serta sebagai salah satu cirri telah sampainya kemanunggalan, maka al-Qur’an atau kitab suci dalam diri seseorang menjadi sesuatu yang bersifat aktif. Bukan sesuatu yang pasif dan hanya digunakan sebagai alat justifikasi belaka.


Sebagaimana ditegaskan Syekh Siti Jenar bahwa “ di dalammu ada al-Qur’an” (Serat Siti Jenar, Pupuh 6: 18), maka al-Qur’an sebagai proses “kalam” menyatu dengan kedirian setiap orang. Ia aktif sebagai suluh rohani. Menurut Syekh Siti Jenar, kebanyakan orang tidak berhasil mengenali kitab sucinya, karena sudah hanyut dan tenggelam dalam keduniaan yang dianggap sebagai kehidupan nyata. Hingga akhirnya ia jauh dari suluh ma’rifat.

“Meskipun kalian mengetahui dan secara teoritis tahu caranya melakukan, tentu kalian akan salah mengamalkannya. Sebab kalian masih hanyut tenggelam dalam kesesatan. Melihat barang berupa permata dan emas yang berkilauan, harta kekayaan, serta makanan yang beraneka warna, kalian menjadi terpikat. Jelas bahwa perilaku kalian itu salah. Sudah banyak ilmu yang kalian tuntut, bahkan kadang-kadang kalian bermimpi dalam alam ilmu, tetapi dasarnya kalian santri gundul yang memburu hasil akal yang busuk, maka kalian senang kalau ada yang sedekah.”


Demikian pernyataan Syekh Siti Jenar tentang bagaimana umumnya orang terhalang mengapresiasi kitab suci sebagai sesuatu yang hidup dan aktif (Pupuh 6:26)

Ciri pokok dari orang yang berma’rifat dalam kehidupan didunianya sebagaimana yang dikemukakan Syekh Siti Jenar diatas, bahwa mereka tidak terjebak oleh gemerlapnya dunia, serta mensikapi dunia secara wara’, zuhud’ dan selalu mengembalikan dirinya kepada Allah. Adapun wataknya dalam menjalankan syari’at keagamaan diisyaratkan dalam QS al-A’raf/7: 157.


Sehingga dengan segala pengetahuannya atas Kebenaran (ma’rifatullah) dan ditundukkan mutlaknya kepada Allah, maka mereka selalu tenggelam dalam kebesaran Allah. Mereka larut dalam keagungan-Nya. Sebaliknya, dalam kehidupan dunia ini Allah-pun melimpahkan sebagian kebesaran dan keagungan-Nya kepada hamba-Nya tersebut, sehingga dari diri orang yang ber-ma’rifat dapat mucul karamah-karamah dari Allah. Mereka itulah yang disebut sebagai wali Allah atau auliya’ Allah.



Rahasia Mencapai Derajat Insan Kamil
Menurut Syekh Siti Jenar, insan kamil atau manusia sempurna adalah mereka yang telah memiliki upaya terus-menerus bagi peningkatan dan pembersihan dirinya, yakni mereka yang telah mampu memisahkan dan melepaskan dirinya dari hal-hal keduniaan. Karena memasuki wilayah kemanunggalan, walaupun dalam interaksi fisik kemanusiaan tidak terlepas sama sekali.


Tujuan pembersihan ini ada dua: pertama, untuk mencapai sifat-sifat Allah. Yakni, bersifat dengan sifat-sifat-Nya yang mulia. Tataran ini mengantarkanpelakunya pada jumbuhing kawula Gusti. Kedua, untuk mencapai Dzat Allah. Yakni, mengenal-Nya melalui ma’rifat dan hakikat yang mengantarkan pelakunya kepada pamoring kawula Gusti.


Pembersihan diri untuk mencapai sifat Allah memerlukan suatu ajaran yang dapat menunjukkan proses pembersihan cermin hati, yakni dengan cara melaksanakan dzikir dan wirid. Terutama tentang asma’ Allah.


Pengertian dzikir dan wirid dalam konteks ini luas. Tidak hanya sekedar dzikir dan wirid dengan bacaan-bacaan tertentu. Dalam hal ini dzikir dan wirid merupakan lelaku rohani yang memasukkan unsur meditasi sebagai bagian terpenting dari ritual rohani tersebut. Sehingga penyebutan dzikir dan wirid otomatis juga memasukkan meditasi di dalamnya.


Lelaku dzikir adalah kunci untuk membuka pintu hati, dan apabila pintu hati telah terbuka, muncullah dari dalamnya pikiran-pikiran yang ‘arif untuk membuka mata hati. Ketika hati telah terbuka, maka akan tampak dan masuklah sifat-sifat Allah melalui mata hati itu, menggugah ketertenggelaman ruh al idhafi kemudian mata hati akan melihat refleksi kasih sayang, kelembutan, keindahan, kebaikan, dan kesempurnaan Allah dalam cermin hati yang bersih dan berkilauan (al-mir’u al-haya’i).


Dzikir akan mengantarkannya kepada nurullah sedangkan seorang mukmin akan melihat dengan nurullah. Dengan daya pancar nurullah itulah seorang mukmin akan menjadi cermin bagi mukmin lainnya. Orang yang berilmu membuat bayangan, tetapi orang ‘arif mengkilaukan cermin hati yang di dalamnya terdapat bayangan hakikat. Apabila mata hati itu bersih berkilauan dan suci, munculah dalam cermin itu berbagai rahasia Allah berupa hakikat yang dicurahkan kepada hati yang bersih berkilauan dan suci.


Apabila cermin hati telah sempurna karena selalu dibersihkan dengan dzikrullah hingga berkilauan, pemilik hati itu akan sampai kepada sifat-sifat Ketuhanan dan mengenal sifat-sifat itu. Hal ini hanya mungkin terjadi bila cermin hati kita telah bersih berkilau.


Sedangkan pembersihan untuk mencapai Dzat Ketuhanan dapat dilakukan dengan cara ber-dzikir dan berkonsentrasi terhadap kalimah tauhid atau kalimah syahadat, dan ini berarti kata kunci dzikir dan wiridnya adalah tentang asma’ Allah.
Tidak Harus Asma’ “ALLAH”

Sebutan nama “Allah” menujukkan Dzat Illahi, sedangkan yang lain menunjukkan sifat-sifat-Nya. Oleh karenanya penggunaan nama-nama yang diputuskan sebagai dzikir dan wirid utama seseorang, disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan spiritual seorang sufi. Dalam beberapa tarekat sering para guru memutuskan nama Allah yang berbeda bagi masing-masing muridnya.


Harus pula dipahami meskipun setiap kali salah satu nama Illahi disebutkan, berarti Allah disebutkan melalui seluruh nama-Nya. Syekh Ni’matualiah menyatakan,” Bagi semua nama Allah Dzat adalah Esa. Maka semua nama sebenarnya hanya satu juga”.


Dalam bahasa Syekh Siti Jenar, asma’ Allah biasa berubah menjadi Gusti, Dzat Maulana, Sang Hyang Widhi, Pangeran, Gusti Allah, dan sebagainya. Menurutnya, nama Tuhan adalah buatan manusia. Dimana Dia disebut sesuai dengan bahasa orang yang menyebut-Nya. Apapun sebutan yang diberikan kepada-Nya, tentu sebutan yang terpuji. Oleh karenanya, seruan do’a dan panggilan untuknya juga beraneka ragam, “Ya Tuhan,,,”, “Ya Allah,,,” , juga “duh Gusti,,, “, dan sejenisnya.

Terdapat 12 dzikir asma’ Allah (tiga diantaranya adalah nama Keesaan, tauhid, Allah) yang sangat utama dan sering digunakan dalam berbagai tarekat.
1. laa ilaaha illallaah (Tidak ada Tuhan selain Allah)
2. Ya Allah (nama Dzat Allah)
3. Ya Huwa (nama Allah yang tanzih)
4. Al-Haqq ( Yang Hakiki)
5. Al Hayy (Yang Hidup)
6. Al Qayyuum (Yang Berdiri Sendiri dan kepada-Nya segala makhluk bergantung)
7. Al Qahhaar (Yang Maha Perkasa Yang Mengatasi seteru-seteru-Nya)
8. Al Wahhaab (Yang Memberikan Tanpa Permintaan atau Dituntut)
9. Al Fattaah (Yang Membuka)
10. Al Waahid (Yang Satu)
11. Al Ahad (Yang Esa)
12. Al Shamad (Yang kepada-Nya Segala Sesuatu Bergantung)

Tujuh asma’ paling awal kadang juga disebut sebagai al-asma’ al-ilahi yang mengacu pada tujuh petala langit (sab’ sama’) dan cahaya-cahaya Illahi (an-waar ilaahi).


Hendaknya nama-nama tersebut didzikirkan dengan hati. Sejalan dengan tujuan utama dzikir-nya, yakni mengingatkan diri tentang kebesaran dan kemahaagungan Allah serta menggambarkan arti nama-nama dan sifat-sifat yang ada dalam dzikir. Peran hatipun akan menjadi dominan. Dengan cara ini, mata hati akan melihat nur tauhid (cahaya Keesaan). Apabila nur Dzat Ketuhanan ter-dzahir-kan atau tertajalli, semua sifat kebendaan atau fisik akan hilang musnah. Semua yang ada menjadi kosong belaka. Inilah kesadaran dimana semua perkara menjadi fana’. Tajalli atau pen-dzahir-an nur Ketuhanan ini memadamkan semua cahaya yang lain. “Setiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah,” (QS Al-Qashash/28:88). “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki, dan menetapkan apa yang Dia kehendaki,” (QS Al-Ra’d/13:39).


Ketika semua telah lenyap, yakni fana’ dihadirat Allah, yang tertinggal hanya Ruh Suci (Ruh al Quddus). Ia melihat dengan Nur Allah. Ia melihat Allah, Allah melihat dia. Ia melihat dengan Allah, ia melihat dalam Allah, ia melihat untuk Allah. Tidak ada bayangan dan tidak ada yang menyerupai Allah. La ilaha illa Allah, la ilaha illa Ana.
Satu yang tertinggal dan mutlak, yakni Nur Suci, sang Ingsun Sejati. Suati karunia yang tinggi yang diberikan kepada orang yang utama. Tidak ada yang ingin diketahuinya pada tingkat ini. Inilah puncak yang dapat dicapai manusia ketika berada di alam fana’ ini. Tidak ada lagi apa pun, kecuali Allah. Dan tidak ada lagi siapa dan apa pun yang menjadi celah diantaranya dengan Allah.


Dan semua itu merupakan kesadaran rohani yang sangat dalam artinya. Hasil dari mengenang dan memusatkan renungan hati pada maksud dan pengertian batin dari sifat dan asma’ Allah. Dalam dirinya kini hanya tinggal kebaikan yang dipenuhi kesyukuran, husn al-dzan, serta ketinggian himmah terhadap Allah. Bahkan terhadap kenikmatan pun ia menjadi lupa, karena sudah terlalu asyik dengan Allah. Dia juga tidak ingat lagi dengan segala bahaya dan bencana, karena sibuk dengan Allah, Ma’iyyatullah. Dan pada dirinyalah terletak banyak karamah yang setiap saat dapat muncul anugerah Allah kepadanya. Itulah keadaan sang insan kamil, auliya’ Allah.


Dalam penempuhan jalan rohani terdapat dua golongan besar: golongan yang lebih memperbanyak dan memperhatikan dzikir disertai dengan ilmu, dan golongan yang memperbanyak serta menekuni ilmu disertai dengan dzikir. Kedua golongan tersebut sama-sama mampu mencapai tujuan akhir dengan ijin Allah.


Kedua golongan itu selalu ada disetiap zaman, karena umumnya manusia terbagi menjadi dua tipe. Pertama, mereka yang memiliki kecintaan yang sangat pada ilmu dan kemampuannya melakukan amal juga ada. Kedua, mereka yang memiliki kemampuan terbatas dalam menekuni ilmu namun kegigihannya melakukan ibadah, amal dan dzikir sangat besar. Jalan yang bisa ditempuh oleh manusia golongan kedua adalah memperbanyak dzikir, tapi juga harus disertai dengan ilmu. Sedangkan bagi tipe pertama, jalan yang ditempuh adalah ilmu yang harus dibarengi dengan dzikir.



Ajaran Syekh Siti Jenar Tentang Hakikat

Syekh Siti Jenar menyatakan bahwa pelaksanaan kehendak allah dengan rasa kepasrahan merupakan perwujudan “kehendak pribadi”. Ia menjelma menjadi Kehendak Pribadi”, dimana kehendak insani telah dikendalikan oleh kehendak Yang Illahi. Dan itulah yang disebut sebagai adi-manusia. Dalam pupuh III (Dandhanggula): 31-32 Serat Siti Jenar :


Kodrat merupakan kuasa pribadi
Tiada yang mirip atau menyamai
Kekuasaannya tanpa peranti, dari tanrupa menjadi warna-warni
Lahir batin satu sebab sawiji (manunggal)
Iradat artinya karsa tanpa runding
Ilmu berarti mengetahui kenyataan sebenarnya
Yang lepas jauh dari pancaindera
Bagaikan anak sumpitan meluncur lepas tertiup

Adanya kehidupan itu karena pribadi
Demikian pula keinginan hidup itupun ditetapkan oleh diri sendiri
Oleh kehendak nyata
Hidup tanpa sukma yang melestarikan kehidupan
Tiada merasakan sakit ataupun lelah
Suka duka pun musnah karena tiada diinginkan oleh hidup
Berdiri senriri menurut karsanya
Dengan demikian hidupnya kehidupan itu
Sesuai kehendaknya
Syekh Siti Jenar terang pandangannya
Melebihi manusia sesama (adi-manusia)

Disinilah terletak semua daya kekuatan rohani, dan spiritualitas yang mengantarkannya kepada ma’rifatullah, karena daya dari sang “Pangeran”. Dengan hati tersebut, jasad melangkah penuh daya kekuatan hidup dan kekuatan yang paling prima sesuai dengan kehendak Allah. Sehingga dalam diri seorang sufi harus terpadu antara kekuatan spiritual dalam bentuk hati yang tenteram, bahagia dan tenang. Merefleksikan sifat asma’ Allah dengan semangat menegakkan kebenaran Allah di muka bumi sebagai khalifah-Nya.


Syekh Siti Jenar sebagai tokoh utama sufisme Islam-Jawa, menentang upaya pembatasan pengajaran tasawuf hanya untuk kelompok strata masyarakat tertentu. Ia mengajarkan sufisme kepada seluruh lapisan masyarakat yang akhirnya melahirkan tuduhan bahwa ia melakukan pelanggaran adab rohani dalam bentuk miyak warana (membuka tabir rahasia Tuhan). Namun Syekh Siti Jenar tetap mengajarkan hakikat kebenaran walaupun ancaman kematian mengintainya.


Oleh karena itu, semakin jernih keadaan batin seseorang, semakin detail dan dalam pula pemahamannya akan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga jelas, tasawuf merupakan ucapan dan kerja merasakan aqidah, bukan menetapkan suatu keyakinan atau sejenis agama baru yang bertentangan dengan nash-nash atau pemahaman keagamaan yang benar. Dan juga tasawuf adalah ilmu yang dibutuhkan oleh setiap manusia dan meliputi seluruh manusia. Hanya saja, memang sebagian memiliki pemahaman mendetail terhadap beberapa nash, dan sebagian yang lain dapat menangkap rincian sejumlah makna nash yang tidak dapat dipahami orang lain. sedangkan Syekh Siti Jenar merupakan tokoh yang sanggup membahasakan nash kitab suci dan sunnah dalam bentuk “bahasa jawa” yang menjadikan ajarannya lebih mudah diserap dan diterima oleh masyarakat yang umumnya awam.


Syekh Siti Jenar menyatakan, “Adanya Allah karena dzikir. Dzikir membuat lenyap Dzat, Sifat, Asma’, dan Af al Yang Maha Tahu. Digulung menjadi ‘antaya” dan rasa dalam diri. Dia itu saya! Timbul pikiran menjadi Dzat yang mulia” (Pupuh II: 3)


“Budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera. Tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkl=ali tidak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan. Untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai demikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya. “ (Pupuh III:43-44)


Menurut Syekh Siti Jenar, hati dalam tradisi bangsa Arab hampir sama dengan budi, pikiran, angan-angan, serta kesadaran yang satu wujud dengan akal (ngakal). Tentu saja akal disini berbeda dengan “akal pikiran” menurut bahasa Arab. Sebelum Immanuel Kant berpendapat bahwa argumen berdasar akal bisa salah jika tidak dipimpin Tuhan, dua setengah abad sebelumnya Syekh Siti Jenar sudah menyatakan bahwa budi dan akal merupakan satu wujud yang harus dipimpin oleh Wajibul Maulana. Sayangnya memang Syekh Siti jenar pada masanya hadir di tempat yang belum kondusif untuk mengembangkan pikirannya.  



Hakikat Rukun Islam Dalam Perspektif Ma’rifat Syekh Siti Jenar
Terkadang terdapat pandangan bahwa dalam tasawuf, atau ketika seseorang telah menjadi sufi, maka rukun islam minimal sudah dipandang sebagai hal yang tidak begitu menentukan bagi proses keberagamaannya. Apalagi berbicara tentang sufisme Syekh Siti Jenar, biasanya langsung memberikan vonis bahwa dalam ajaran Syekh Siti Jenar syari’at menjadi nihil.

Pandangan ini jelas merupakan pandangan yang tidak sepenuhnya benar, karena justru dalam perjalanan rohani menuju Allah bagi seorang sufi, rukun islam tetap menjadi pijakan paling mendasar bagi proses peralihan rohani menuju kesempurnaan sehingga ia sampai pada derajat al insan al kamil yakni manusia illahiah. Hanya saja, dalam sudut pandang kesufian, rukun islam tidak hanya berupa tindakan lahir, ia juga bukan tujuan, akan tetapi diselami maknanya secara spiritual, sehingga rukun Islam yang ada disamping menjadi hiasan lahiriah, juga merupakan aplikasi perbuatan rohani yang menentukan proses perjalanannya menuju Allah. Karena pemahaman yang seperti itulah, maka bagi orang yang sudah berma’rifat, justru syari’at lahir sudah tidak begitu tampak sebagai orientasi utama. Syekh Siti Jenar sendiri tidaklah menihilkan syari’at, namun menempatkan syari’at pada tempat yang semestinya, bukan semata-mata sebagai acuan formal keagamaan yang membelenggu manusia. 



Syekh Siti Jenar Tentang Syari’at dan Tarekat
Untuk mengetahui keberimbangan dan aplikasi syari’at dan tarekat (yang meliputi juga ma’rifat dan hakekat) dari Syekh Siti Jenar, serta Islam-Jawa umumnya, dapat diperhatikan dalam Serat Nitisruti, Pupuh Dhandanggula, 11-14 :

Surasanya kang pinurweng ruwi
Kang minangka lengahuing pandhita
Yen sampun leres rarase
Nulusa raosipun
Jroning nala tanpa ling-aling
Dening sampin waspada
Dununging panebut
Atanapi kang sinembah
Dadi gambuh ngambuh ing kaanan jati
Jati mulyeng kasidan
Rarasing kang mangkana sayekti
Tan kabuki neng manahing janma
Kang tanpa pangawikane
Muwah kang mudha punggung
Bodho bundhu datanpa budi
Marwanira kumedah
Tyas kalaten atul
Met tuladha puruhita
Maring para pandhita putusing jati
Pun wus sirna reregeding angga
Ruwat sagung mamalane
Kadi sarira ayu
Kang mangkana yeka manawi
Trus prapteng jero jaba
Babarane jumbuh
Ning wening tan kawoworan
Ing satemah pan waras keni den wastani
Syuh sirna manungsanya
Tatelane kang mangkono yekti
Wus tan ana Gusti lan kawula
Saking wus sirna rasane
Dene ta kang tan weruh
Ing pangawruh kang wus jinarwi
Ta kena canarita
Caraning tumuwuh
Wis wus kebak mesi wisa
Mung duraka kewala kang den raketi
Beda kang wus swantosa


yang artinya:
Maksud ajaran yang permulaan
Mengenai kedudukan pendeta
Bilamana sudah benar sesuai (penempatannya)
Jujurnya perasaan
Di dalam hati tiada akhir
Karena sudah waspada
Kedudukannya yang menyembah
Dan yang disembah
Menjadi biasa dalam keberadaan sejati
Menjadi mulia yang sebenarnya
Selarasnya yang demikian itu sebenarnya
Tidak terbuka dalam hati manusia
Yang tanpa pengetahuan
Dan yang masih bodoh
Sungguh bodoh pemikirannya
Oleh karena itu haruslah
Hati terus berusaha
Mengambil teladan guru
Kepada para pendeta yang mahir
Sebagai kemuliaan sejati
Maksud rasa hati yang sudah sampai
Pada kebenaran
Kotoran diri yang sudah sirna
Mencegah segala yang tidak baik
Bagaikan tubuh yang cantik
Yang demikian itu bilamana
Sudah sampai luar dalam
Akhirnya selaras
Bersih tak bercampur
Dalam suasana yang indah yang disebut
Benar-benar sifat kemanusiaannya
Jelas sekali sebenarnya yang demikian itu
Sudah tidak ada gusti dan hamba
Karena sudah sirna rasanya
Sedangkan bagi yangtidak tahu
Pengetahuan yang diuraikan
Tak dapat diceritakan
Bagaimana cara hidupnya
Sudah penuh bisa
Hanya kedurhakaan yang dilakukan
Lain halnya bagi yang sudah kokoh budinya


Pupuh tersebut tampak sangat mewakili ajaran mistik dan makrifat Islam-Jawa, terutama yang disebarkan oleh Syekh Siti Jenar, dan sebagian oleh Sunan Kalijaga. Mistik makrifar yang secara mudahnya berarti “inisiasi” adalah praktik kontak spiritual langsung dengan Tuhan melalui pengalaman psikologis. Oleh karenanya rahasia dan rasanya hanya dapat dirasakan oleh pelakunya saja, dan masing-masing pelaku(salik) akan selalu memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Namun secara jelas dan tegas dapat dinyatakan bahwa tanpa laku, tanpa penghayatan langsung dan nyata, maka keadaan yang sesungguhnya dari pengalaman keagamaan, rasa agama (al halawat al iman), atau apapun namanya dari buah lelaku tersebut niscaya tidak dapat dirasakan dan tidak bisa diperoleh.

Ma’rifat sendiri walaupun secara umum diartikan sebagai pengetahuan spiritual, tidaklah hanya sebatas itu. Al-‘ilm al-ruhi dan al-’ilm al bathini juga berarti hampir sama, pengetahuan spiritual. Dalam makrifat terdapat kenyataan yang tertangkap dalam diri kita. Dengan bermakrifat itulah komunikasi dan kontak langsung menjadi mungkin terjadi. Demikian pula, pengetahuan keagamaan sedalam apapun tidaklah bisa disebut sebagai ma’rifat. Mendalamnya ilmu-ilmu syariat juga belum tentu sanggup mengantarkan pemiliknya sampai pada kema’rifatan. Mungkin mereka tahu dengan Tuhan, ia tahu sifat-sifat-Nya melalui buku dan guru. Karena mereka hanya tahu dan tidak pernah kontak, maka hasilnya juga menjadi kurang benar. Maka dalam makrifat dibutuhkan lelaku. Dalam bahasa sufi, makrifat merupakan buah dari perjalanan seorang kawula (hamba) kepada Tuhannya (suluk). Dari proses perjalanan itulah maka akan tercapai manunggaling kawula Gusti, wahdat al-wujud, dan diketahui secara jelas apa itu sangkan paraning dumadi (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un)

Dalam hal ini syariat bukanlah sekedar aturan-aturan formal keagamaan, yakni yang sering hanya dibatasi sebagai fikih. Sekarang kata-kata “syariat Islam” telah direduksi oleh para agamawan hanya sebatas fikih, aturan formal keagamaan yang dibakukan dalam berbagai karya hukum keagamaan oleh manusia. Fikih sebenarnya hanyalah produk perjalanan ulama dalam sejarah Islam, bukan syariat itu sendiri. Sedangkan syariat dalam tataran makrifat adalah “jalan” yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.

Adapun cara untuk menempuh laku syariat itu disebut sebagai tarekat, yang tentu juga terkait dengan masing-masing tempat, zaman, tradisi dan budaya yang berbeda. Dalam hal ini tampak bahwa syari’at baru menjadi berarti setelah dilalui melalui proses “tirakat”” atau “lelakon”.

Dalam melakukan hal tersebut, maka yang pertama kali harus diperhatikan adalah upaya melongok ke dalam diri sendiri, introspeksi. Dalam hal inilah diperlukan adanya laku untuk mengendalikan hawa nafsu. Tahapan utama untuk ini adalah khalwat, tahannuts, atau meditasi (menempuh laku heneng dan hening). Jika proses ini berhasil maka akan mengantarkan pelakunya untuk mendapatkan apa yang disebut sebagai “wahyu” (ilham, inspirasi spiritual dan sebagainya). Dari wahyu yang diperoleh, maka akan melahirkan berbagai pengetahuan baru dan perilaku-perilaku yang berasas pada keluhuran budi (‘amal/’amil al shalihat) sebagai buah ber-musyahadah (menyaksikan dan berkontak langsung dengan Allah, atau buah iman). Dengan demikian maka kita berjalan menuju kepada-Nya, kita menyatu dengan-Nya, dan kita telah membangun sikap hidup “manunggaling kawula Gusti”.

Banyak orang yang salah paham dengan konsep manunggal tersebut. Sering manunggal diartikan sebagai menyatunya badan fisik dengan Dzat Tuhan. Ini merupakan kesalahan yang fatal. Dzat Tuhan selalu meliputi makhluk-Nya. Sehingga dzat manusia tidak mungkin bisa dipisahkan dari Dzat Tuhan. Antara ikan dan air tidak bisa dipisahkan, terutama ikannya. Ikan selalu hidup di dalam air. Demikian pula manusia dengan Tuhan. Tuhan selalu bersama manusia di mana saja (QS 57: 3-4).

Manunggal adalah menyatunya sifat, asma’, dan af’al manusia dengan sifat, asma, dan af’al Allah, atau menyatunya kodrat dan iradat manusia dengan kodrat dan iradat Allah, dan semua itu menunjukkan arti dari makna posisi manusia sebagai khalifatullah. Untuk menjadi khalifatullah dibutuhkan pengetahuan langsung apa yang menjadi kehendak dan ketetapan-Nya, tanpa itu maka manusia hanya memper-Tuhankan dirinya sebagai budak hawa nafsu.

Agar mampu menjadi khalifatullah, dimana khalifatullah hanya diemban oleh al insan al kamil, maka kita harus benar-benar berdzikir, meditasi dan semedi. Menyatunya pikiran, perasaan, napas dan bacaan dzikirnya sendiri. Menggulung semua lubang tubuh dengan mengembalikan diri kepada Allah, menuju kondisi suwung (kosongnya diri dari selain Allah), uninong, aning, unang, dengan tanpa kehilangan kesadaran. Saat dzikir dengan ditopang oleh pernapasan yang benar, maka energi spiritual akan menebar ke seluruh tubuh, maka menjadi tenanglah hati. Ala bidzkrillah tathmainna al qulub (ingat, hanya dengan dzikrullah-lah hati akan mencapai ketenangannya). 



Syahadat (Sasahidan Ingsun Sejati)
Selama ini, syahadat umumnya hanya dipahami sebagai bentuk mengucapkan kata “Asyhadu an la ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad al-rasul Allah”. Dan karena hanya pengucapan, wajar jika tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap mental manusia. Siapapun toh dapat mengucapkannya, walau kebanyakan tidak memahaminya. Padahal makna sesungguhnya bahwa syahadat adalah “kesaksian” bukan “pengucapan” kalimat yang menyatakan bahwa ia telah bersaksi.


Ketika kita mengucakan kata “Allah”, maka kata ini harus hadir dan lahir dari keyakinan yang mendalam. Pada saat pengucapan, kita harus yakin bahwa Allah “ada” pada diri nabi-Nya, dan bahwa setiap diri kita mampu membawa peran nabi tersebut. Dalam ma’rifat, nabi dan kenabian sebagai suatu hal yang selalu hidup. Dan ketika person nabi terakhir diberi label “Muhammad”, maka ia adalah langsung dari nur dan ruh Muhammad, dan menyandang nama spiritual sebagai “Ahmad”. Dan ketika kata “Ahmad” disebutkan, Nabi Muhammad sering mengemukakan bahwa “ana Ahmad bila mim” (aku adalah Ahmad yang tanpa mim), yakni “Ahad”. Ketika suku bangsa dzahir “arab” disebutkan, beliau sering mengemukakan “ana ‘arabun bila “Ain”, (aku adalah “Arab tanpa ‘Ain), yakni “Rabb”. Inilah kesaksian itu, atau syahadat.


Kalau kita membayangkan nabi secara fisikal maka kita akan menghayalkan tentang nabi. Nah, pada saat Allah kita rasakan hadir atau bersemayam dalam diri Nabi yang berada di kedalaman lubuk hati kita, maka terlepaslah ucapan “Muhammad al-Rasul Allah” sebagai kesaksian. Lalu kesaksian ini kita lepaskan ke dalamDzat Allah. Sehingga kemudian tercipta apa yang disebut sebagai “Tunggal ing Allah hiya kang amuji hiya kang pimuji”, kemanunggalan dengan Allah sehingga baik yang memuji dan yang dipuji tidak dapat dipisahkan.

Pada konteks syahadat yang seperti itulah kemudian lahir ajaran tentang “wirid sasahidan” dari Syekh Siti Jenar, dalam bentuk pengucapan hati sebagai berikut (Sholikhin: 2004, 182-183) :


Ingsun anakseni ing datingsun dhewe
Satuhune ora ono pangeran among ingsun
Lan nekseni satuhune Muhammad iku utusaningsun
Iya sejatine kang aran Allah iku badaningsun
Rasul iku rahsaningsun
Muhammad iku cahyaningsun
Iya ingsun kang urip tan kena ing pati
Iya ingsun kang eling tak kena lali
Iya ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati
Iya ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji
Iya ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerti
Byar
Sampurna padhang terawangan
Ora kerasa apa-apa
Oa ana katon apa-apa
Mung ingsun kang nglimputi ing alam kabeh
Kalawan kodratingsun.


Artinya:
Aku bersaksi di hadapan Dzat-ku sendiri
Sesungguhnya tiada tuhan selain Aku
Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku
Sesungguhnya yang disebut Allah itu badan-Ku
Rasul itu rasa-Ku
Muhammad itu cahaya-Ku
Akulah yang hidup tidak terkena kematian
Akulah yang senantiasa ingat tanpa tersentuh lupa
Akulah yang kekal tanpa terkena perubahan di segala keadaan
Akulah yang selalu mengawasi dan tidak ada sesuatupun yang luput dari pengawasan-Ku
Akulah yang maha kuasa, yang bijaksana, tiada kekurangan dalam pengertian
Byar
Sempurna terang benderang
Tidak terasa apa-apa
Tidak kelihatan apa-apa
Hanya aku yang meliputi seluruh alam
Dengan kodrat-Ku


Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa kesaksian tersebut diperoleh berdasarkan lelaku. Maka setelah lahirnya kesaksian tersebut juga harus disertai dengan lelaku pula. Yaitu diikuti dengan semedi atau dzikir rasa sehingga kemudian dapat mengalami mati dalam hidup dan hidup dalam mati. Dzikir seperti ini dilakukan dengan meng-heneng-kan diri dan mengheningkan cipta serta karsa sehingga kembali tercipta kesatuan hati, pikiran dan rasa hidup. Hal ini dilakukan dengan menyatukan pancaindera, memejamkan mata dan mengarahkannya ke pucuk hidung (pucuking ghrana), sambil menyatukan denyut jantung, harus diatur pula pernapasan yang masuk dan keluar jangan sampai tumpang tindih.


Biasanya praktik sasahidan ini akan berujung pada bercampurnya rasa hati dan hilangnya segenap perasaan. Kalau sudah mencapai kondisi ini, maka harus diturunkan ke dalam jiwa dan menyebar ke seluruh sel-sel dan syaraf tubuh. Sehingga akan tercapailah ketiadaan rasa apapun dan akan memunculkan sikap ke-waskitha-an (eling lan waspadha).


Dengan demikian wajar jika pada kesimpulannya tentang makna syahadat, Syekh Siti Jenar memberikan makna syahadat sebagai etos gerak, etos kerja yang positif, progresif, dan aktif. Syekh siti jenar mengemukakan bahwa syahadat tauhid dan syahadat rasul mengandung makna jatuhnya rasa (menjadi etos), kesejatian rasa (unsur motorik), bertemunya rasa (ide aktif dan kreatif), hasil karya yang maujud serta dampak terhadap kesejatian kehidupan (Sholikhin: 2004, 187). Itulah makna syahadat yang sesungguhnya dari sang insan kamil.
 


Shalat
“Peliharalah shalatmu dan shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalat) yang khusyuk” (QS Al. Baqarah/ 2:238). Ini adalah penegasan dari Allah tentang kewajiban dan keharusan memelihara shalat, baik segi dzahir maupun batin dengan titik tekan “khusyuk”, kondisi batin yang mantap.
Secara lahir, shalat dilakukan dengan berdiri, membaca Al-Fatihah, sujud, duduk dsb. Kesemuanya melibatkan keseluruhan anggota badan. Inilah shalat jasmani dan fisikal. Karena semua gerakan badan berlaku dalam semua shalat, maka dalam ayat tersebut disebut shalawaati (segala shalat) yang berarti jamak. Dan ini menjadi bagian pertama, yakni bagian lahiriah.


Bagian kedua adalah tentang shalat wustha, yaitu yang secara sufistik adalah shalat hati. Wustha dapat diartikan pertengahan atau tengah-tengah. Karena hati terletak di tengah, yakni di tengah “diri”, maka dikatakan shalat wustha sebagai shalat hati. Tujuan shalat ini adalah untuk mendapatkan kedamaian dan ketentraman hati. Hati terletak di tengah-tengah, antara kiri dan kanan, antara depan dan belakang, atas dan bawah, serta antara baik dan jahat. Hati menjadi titik tengah, poin pertimbangan. Hati juga diibaratkan berada diantara dua jari Allah, dimana Allah membolak-balikkannya ke mana saja yang ia kehendaki. Maksud dari dua jari Allah adalah dua sifat Allah, yaitu sifat Yang Menghukum dan Meng-adzab dengan sifat Yang Indah, Yang Kasih Sayang, dan Yang Lemah Lembut.


Sholat dan ibadah yang sebenarnya adalah sholat serta ibadahnya hati, kondisi khusyu’ menghadapi kehidupan. Bila hati lalai dan tidak khusyuk, maka jasmaniahnya akan berantakan. Sehingga kalau ini terjadi, kedamaian yang didambakan akan hancur pula. Apalagi shalat jasmani hanya bisa dicapai dengan hati yang khusyuk. Kalau hati tidak khusyuk, serta tidak dapat konsentrasi pada arah yang dituju dari shalat, maka hal itu tidak bisa disebut shalat. Juga tidak akan dapat dipahami apa yang diucapkan, dan tentu apa pun yang dilakukan dengan bacaan dan gerakannya tidakakan bisa mengantarkan sampai kepada Allah.


Urgensi ke-khusyuk-an ini berhubungan dengan inti shalat sebagai doa. Doa atau munajat, bukan sekedar permintaan hamba kepada Allah, akan tetapi berarti juga sebagai arena pertemuan. Dan tempat pertemuan itu adalah di dalam hati. Maka jika hati tertutup di dalam shalat, tidak peduli akan makna shalat rohani, shalat yang dilakukan tersebut tidak akan memberikan manfaat apa pun. Sebab semua yang dilakukan jasmaninya sangat tergantung kepada hati sebagai Dzat untuk badan. “Ingatlah bahwa dalam tubuh itu ada sekeping daging, apabila daging itu baik, baiklah seluruh tubuh itu. Dan apabila ia rusak, rusak pulalah semua tubuh itu. Daging itu adalah hati. “ (sabda Rasulullah)


Ke-khusyuk-an hati akan membawa sholat yang menghasilkan kesehatan hati. Shalat khusyuk akan menjadi obat bagi hati yang rusak dan jahat serta berpenyakit. Maka shalat yang baik haruslah dengan hati yang sehat dan baik pula, bukan dengan hati yang rusak, yakni hati yang tidak dapat hadir kepada Allah.


Jika shalat dari sisi jasmaniah-fisik memiliki keterbatasan dalam semua hal, baik tempat, waktu, kesucian badan, pakaian, dsb, maka shalat dari segi rohaniah tidak terbatas dan tidak dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Shalat secara rohaniah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Shalat ini selalu dilakukan terus menerus sejak di dunia hingga akhirat. Masjid untuk shalat rohani terletak dalam hati. Jamaahnya terdiri dari anggota-anggota batin atau daya-daya rohaniah yang ber-dzikir dan membaca al-asma’ al-husna dalam bahasa alam rohaniah. Imam dalam shalat rohani adalah kemauan atau keinginan (niat) yang kuat. Dan kiblatnya adalah Allah. Inilah shalat tarek dan sholat daim yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar.


Shalat yang demikian itu hanya dapat dilakukan oleh hati yang ikhlas, hati yang tidak tidur, dan hati yang tidak mati. Hati dan jiwa seperti itu kekal dan selalu beribadah atau shalat ketika jasmaninya sedang tertidur atau terjaga. Ibadah hati dilakukan sepanjang hayat, dan sepanjang hayatnya adalah untuk beribadah.


Inilah ibadah orang yang sudah mencapai ma’rifatullah, tempat penyucian tertinggi. Di tempat itu, ia ada tanpa dirinya. Karena dirinya telah fana’, telah hilang lenyap. Ingatannya yang teguh dan suci tercurah hanya kepada Allah.


Namun tentu saja ini berlaku setelah semua shalat-shalat fardhu dan nawafil dilaksanakan secara konsisten. Jadi, tempat suci tersebut baru bisa dijangkau setelah semua shalat syari’at itu sempurna, lalu masuk ke dalam shalat thariqat dan ma’rifat. Maka tidak bisa diartikan bahwa jika sudah berada di tingkatan ini, lalu tidak lagi melakukan shalat sama sekali. Bahkan sering dalam shalat itulah mereka mengalami fana’ dalam munajat-nya sehingga ibadah yang dilakukannya itu menyita banyak waktu. Hanya saja bentuk shalat dalam arti gerakan dan bacaan tertentu sudah tidak mengikat lagi. Shalat ditegakkan atas kemerdekaan rohani dalam menempuh laku menuju Allah.

Pada tingkatan ini tidak ada lagi bacaan di mulut. Tidak ada lagi gerakan berdiri, ruku’, sujud, dsb. Dia telah berbincang dengan Allah sebagaimana firman-Nya “Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS Al-Fatihah/1: 5)


Firman tersebut menunjukkan betapa tingginya kesadaran insan kamil, yakni mereka yang telah melalui beberapa tingkatan alam rasa dan pengalaman rohani sehingga tenggelam dalam lautan tauhid atau Ke-Esaan Allah dan ber”padu” dengan-Nya. Nikmat yang mereka rasakan saat itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya orang yang mengalaminya yang dapat mengalaminya yang dapat mengartikan kenikmatan tersebut. Namun mereka pun sering tidak mau mengungkapkannya. Tidak ingin membocorkan rahasia Ketuhanan yang tersimpan di dalam lubuk hatinya oleh Allah.


Hal tersebut sama halnya dengan hakikat takbir, yang bukan semata-mata ucapan “Allahu Akbar”. Takbir merupakan pengucapan yang lahir dari firman Allah yang memuji kebesaran Dzat-Nya. Jadi, takbir sebenarnya merupakan suara Tuhan yang meminjam mulut hamba-Nya. Bukan hasil dari dorongan emosional. Karenanya, takbir sejati adalah menyatakan kebesaran Allah dari af’al Allah sendiri. Takbir sejati merupakan penghayatan diri terhadap sifat Allah. Dan takbir sejati adalah penyebutan nama-Nya yang lahir dari kehendak-Nya semata. Dengan takbir yang demikian itu maka yang lain menjadi sangat kecil, dan menjadi tidak ada. Yang ada hanya Allah. Ke mana pun kita menghadap yang ada hanya Wajah Allah.


Maka setelah berpadu ibadah lahir dan batin secara harmonis, sempurnalah ibadah seseorang. Hati dan ruh seperti tergambar itu membawanya masuk ke Hadirat Allah. Hatinya ber”padu” mesra dengan Allah. Dalam alam nyata ia menjadi hamba yang wara’ dan ‘alim. Dalam alam rohani ia menjadi ahli ma’rifah yang telah sampai pada peringkat kesempurnaan mengenal Allah. Inilah makna bahwa shalat adalah perjalanan menuju Allah. Hasilnya adalah bahwa shalat yang dilaksanakan mencegah perilaku yang keji dan munkar. Sebaliknya menghasilkankehalusan dan kemuliaan budi dan perilaku.


ika shalat telah dihilangkan makna hakikatnya, hanya menjadi sekedar pelaksanaan hukum fikih sebagaimana tampak pada kebanyakan manusia dewasa ini, maka shalat tersebut telah kehilangan makna fungsionalnya. Hal inilah yang telah mendatangkan kritik tajam dari Syekh Siti Jenar.

Sadat salat pasa tan apti
Seje jakat kaji mring Mekah
Iku wes palson kabeh
Nora kena ginugu
Sadayeku durjaning bumi
Ngapusi liyan titah
Sinung swarga besuk
Wong bodho anu auliya
Tur nyatane pada bae durung uning


Artinya:
Syahadat, sholat, puasa semua tanpa makna
Termasuk zakat dan haji ke Mekah
Itu semua telah menjadi palsu
Tidak bisa dijadikan anutan
Hanya menghasilkan kerusakan di bumi
Membohongi makhluk lain
Hanya ingin surga kelak
Orang bodoh mengikuti para wali
Sementara kenyataannya sama saja belum mencapai tahapan hening


Syekh Siti Jenar mengkritik pelaksanaan hukum fikih pada masa walisanga karena ibadah-ibadah formal tersebut telah kehilangan makna dan tujuan, kehilangan arti, dan hikmah kehidupan. Hal itu menjadikan semua ajaran agama yang diajarkan oleh para ulama ketika itu menjadi kebohongan yang meninabobokkan publik dengan hanya menginginkan surga kelak yang belum ada kenyataanya.


Oleh karenanya Syekh Siti Jenar mengajarkan praktik shalat fungsional, berbeda dengan para wali pada masanya. Shalat tarek sebagai bentuk ketaatan syari’at, dan shalat daim sebagai shalat yang tertanam dalam jiwa, dan mewarnai seluruh pekerti kehidupan. Seseorang yang melaksanakan pekerjaan profesionalnya secara benar, disiplin, ikhlas, dan karena melaksanakan fungsi lillahi ta’ala, maka orang tersebut disebut melaksanakan shalat. Itulah bagian dari shalat da’im.


Namun ternyata, ajaran shalat fungsional tersebut tidak hanya menjadi milik Syekh Siti Jenar. Di dalam Suluk Wujil bait 12-13, sebuah naskah yang ditulis pada awal abad ke-17, yang disebut-sebut sebagai warisan ajaran Sunan Bonang, menyebutkan ajaran shalat sebagai berikut :

Utamaning sarira puniki
Angrawuhana jatining salat
Sembah lawan pamujine
Jatining salat iku
Dudu ngisa tuwin magerib
Sembahyang araneka
Wenange punika
Lamun aranana salat
Pun minangka kekembanging salat daim
Ingaran tata krama
Endi ingaran sembah sejati
Aja nembah yen tan katingalan
Temahe kasor kulane
Yen sira nora weruh
Kang sinembah ing donya iki
Kadi anulup kaga
Punglune den sawur
Manuke mangsa kenaa
Awekasa amangeran adan sarpin
Sembahe siya-siya.
  


Artinya : Unggulnya diri itu mengetahui hakikat shalat, sembah dan pujian. Shalat yang sebenarnya bukan mengerjakan shalat Isya dan maghrib. Itu namanya sembahyang. Apabila itu disebut shalat, maka hanyalah hiasan dari shalat daim. Hanyalah tata krama. manakah yang disebut shalat yang sesungguhnya itu? Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui siapa yang disembah. Akibatnya dikalahkan oleh martabat hidupmu. Jika didunia ini engkau tidak mengetahui siapa yang disembah, maka engkau seperti menyumpit burung. Pelurunya hanya disebarkan, tapi burungnya tak ada yang terkena tembakan. Akibatnya cuma menyembah ketiadaan, suatu sesembahan yang sia-sia.

Maka jelaslah bahwa shalat lima waktu yang hanya dilakukan berdasarkan ukuran formalitas, hanya sebentuk tata krama, aturan keberagamaan. Sementara shalat daim yang merupakan shalat yang sebenarnya. Yakni, kesadaran total akan kehadiran dan keberadaan Hyang Maha Agung di dalam dirinya, dan dia merasakan dirinya sirna. Sehingga semua tingkah lakunya adalah shalat. Diam, bicara, dan semua gerak tubuhnya merupakan shalat. Wudhu, membuang air besar, makan dan sebagainya adalah tindakan sembahyang. Inilah hakikat dari niat sejati dan pujian yang tiada putus. Ya, shalat yang mampu membawa pelakunya untuk menebar kekejian dan ke-mungkar-an. Mampu menghadirkan rahmatan lil ‘alamin.   



Puasa
Puasa dalam ketentuan syariat adalah menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh. Sejak masuk subuh hingga masuk waktu maghrib. Sedangkan puasa dari segi rohani bermakna membersihkan semua pancaindera dan pikiran dari hal-hal yang haram, selain menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkannya yang telah ditetapkan dalam puasa syariat. Dalam puasa harus diusahakan keduanya berpadu secara harmonis.


Puasa dari segi rohani akan batal bila niat dan tujuannya tergelincir kepada sesuatu yang haram, walau hanya sedikit. Puasa syari’at berkait dengan waktu, tetapi puasa rohani tidak pernah mengenal waktu. Terus menerus dan berlangsung sepanjang hayat du dunia dan akhirat. Inilah puasa yang hakiki, seperti yang dikenal oleh orang yang hati dan jiwanya bersih. Puasa adalah pembersihan diatas pembersihan.


Puasa tidak bermakna kalau tidak membawa pelakunya kepada kedekatan terhadap Allah. Orang awam akan cepat berbuka begitu waktu buka tiba. Tetapi orang yang rohaninya ikut berpuasa, tidak akan pernah berhenti berpuasa secara rohani walaupun secara fisik ia juga berbuka sebagaimana orang lain.


Jika orang awam merasakan kebahagiaan berpuasa saat berbuka dan pada saat melihat datangnya bulan Syawal setelah satu bulan berpuasa penuh, maka lain bagi orang yang ‘arif. Orang yang telah berma’rifat lebih mengutamakan dimensi spiritual. Ia akan menganggap kenikmatan berbuka adalah pada waktu kelak ia memasuki taman surga dan menikmati segala hal di dalamnya. Sedangkan maksud kenikmatan ketika melihat adalah kenikmatan yang diperoleh bila mereka dapat melihat Allah dengan matahati sebagai salah satu efek dari puasanya.


Namun masih ada jenis puasa yang lebih tinggi, yakni puasa hakiki atau puasa yang sebenarnya. Puasa ini memiliki martabat yang lebih bagus dari kedua puasa diatas. Puasa ini adalah puasa menahan hati dari menyembah, memuji, memuja, dan mencari ghairullah (yang selain Allah). Puasa ini dilakukan dengan cara menahan mata hati dari memandang ghairullah, baik yang lahir maupun yang batin. Namun walaupun seseorang telah sampai kepada tahapan puasa hakiki, puasa wajib tetap dibutuhkan sebagai aplikasi syari’atnya, dan sebagai cara serta sarana menggapai kesehatan fisik. Sebaliknya, jika puasa hanya memenuhi ketentuan syariat, maka “iku wis palson kabeh”, hanya sebentuk kebohongan beragama semata. Puasa merupakan tindakan rohani untuk mereduksi watak-watak kedzaliman, ketidakadilan, egoisme, dan keinginan yang hanya untuk dirinya sendiri. Inilah yang diajarkan Syekh Siti Jenar. Buahnya adalah kejujuran terhadap diri sendiri, orang lain dan kejujuran di hadapan Tuhan tentang kenyataan dan eksistensi dirinya.


Dalam puasa hakiki, hati dibutakan dari pandangan terhadap ghairullah dan tertuju hanya kepada Allah serta cinta kepada-Nya. Dengan puasa hakiki inilah esensi penciptaan akan terkuak. Manusia adalah rahasia Allah dan Allah rahasia bagi manusia. Rahasia itu berupa nur Allah. Nur itu adalah titik tengah (centre) hati yang diciptakan dari sesuatu yang unik dan gaib. Hanya ruh yang tahu semua rahasia itu. Ruh juga menjadi penghubung rahasia antara Khaliq dan makhluk. Rahasia itu tidak tertarik dan tidak pernah menaruh cinta kepada selain Allah. Dengan puasa hakiki, ruh itu diaktifkan. Oleh karenanya jika ada setitik dzarrah pun cinta terhadap ghairullah, batallah puasa hakiki. Jika puasa hakiki batal maka kita mengulanginya, menyalakan kembali niat, dan harapan kepada Allah di dunia dan akhirat. Puasa hakiki hanyalah menempatkan Allah di dalam hati, menjalani proses kemanunggalan meng-Gusti-kan perwatakan kawula.


Dengan puasa hakiki, maka kita akan menyadari bahwa sebenarnya puasa merupakan hadiah Allah untuk umat manusia. Sehingga bagi hamba Allah yang telah mencapai ma’rifat, akhirnya puasa wajib dan sunnah bukanlah berbeda. Secara lahiriah keduanya memang berbeda dari segi waktu dan cara pelaksanaannya, akan tetapi secara batiniah, esensi kedua jenis puasa itu tidak berbeda. Dengan berpuasa secara hakiki, tidak ada sekat wajib atau sunnah lagi, yang ada adalah menikmati hadiah dari Allah bagi rohani kita.


Sehingga dengan pemahaman dan pelaksanaan puasa yang seperti itu, maka akhirnya puasa tersebut akan mampu menjadi katalisator bagi hawa nafsu kita, dan hati akan semakin berkilau oleh bilasan nurullah. Ia akan menjadi motor penggerak bagi ruh al-idhafi, sebagai efek kebeningan hatinya yang dengan itulah keseluruhan kehidupan akan ditunjukkan menuju kearah al-Haqq, Illahi Rabbi.


Bagi Syekh Siti Jenar, puasa hakiki akan melahirkan watak manusia yang pengasih. Mengantarkan kesadaran untuk selalu ikut berperan serta mengangkat harkat dan derajat kemanusiaan, berperan aktif memerangi kemiskinan, dan selalu menyertai sesama manusia yang berada dalam penderitaan. Puasa hakiki adalah kesadaran batin untuk menjadikan hawa nafsu sebagai hal yang harus dikalahkan, dan ke-dzalim-an sebagai hal yang harus ditundukkan.


Oleh Syekh Siti Jenar, puasa secara lahir disubstitusikan dengan kemampuan untuk melaparkan diri. Bukan sekedar mengatur ulang pola makan di bulan Ramadhan, tetapi mampu “ngelakoni weteng kudu luwe”, membiasakan diri lapar, bukan membiarkan kelaparan. Sehingga terciptalah sistem masyarakat yang terkendali hawa nafsunya. Dan tentu saja, Syekh Siti Jenar tidak memaknai “kudu luwe” sebagai alasan lembeknya manusia secara fisik. Hal tersebut harus dikontekstualisasikan dengan kecukupan gizi yang harus terpenuhi bagi aktivitas fisik. Yang terpenting adalah kemauan dan kesadaran untuk berbagi, untuk tidak hanya memuaskan apa yang menjadi tuntutan hawa nafsunya.



Zakat
Syekh Siti Jenar memberikan makna aplikatif zakat sebagai sikap menolong orang lain dari penderitaan dan kekurangan. Menolong orang lain agar dapat hidup, menikmati hidup, sekaligus mampu bereksis menjalani kehidupan. Syekh Siti Jenar sendiri bertani yang merupakan pekerjaan favorit pada masa hidupnya. Namun tidak semua masyarakat petani berhasil hidupnya sebagaimana pula tidak selalu berhasil baik dari panennya. Yang tidak berhasil panennya tentu mengalami kekurangan bahkan kelaparan. Syekh Siti Jenar selalu membantu mereka yang kurang berhasil tadi dengan memberikan sebagian hasil panennya dari tanahnya yang luas kepada mereka itu. Inilah yang disebut sebagai zakat secara fungsional.


Suka memberi adalah sifat-Nya, dan Dia senang melihat hamba-Nya mencontoh sifat suka memberi yang menjadi sifat-Nya itu. Perbendaharaan Tuhan tidak akan kosong, dan bila Allah memberi Dia akan memberi dengan tangan-Nya yang terbuka. “Barang siapa yang datang membawa amal yang baik, maka ia akan mendapat pahala sebanyak sepuluh kali lipat dari kita, dan barangsiapa yang datang membawa perbuatan yang jahat, dia tidak mendapatkan pembalasannya, melainkan yang seimbang dengan kejahatannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (QS Al-An’am/6: 160)


Sebagaimana makna katanya, zakat memiliki kegunaan sebagai arena pembersihan harta dan jiwa. Terutama membersihkan dari keegoan, sehingga tujuan zakat rohani menjadi tercapai. “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya, dia akan mendapatkan pahala yang banyak”.(QS Al Hadid/57:11). Inilah hakikat pahala zakat, baik jasmani maupun rohani.


Sehingga terhadap harta pinjaman dan titipan dari Allah, kita melakukan penyucian diri dengan mengeluarkan zakat, bersedekah, serta berbuat amal jariyah. Dalam hal inilah, patokan kita bukan sekedar patokan minimal 2,5%, namun bisa lebih dari itu. Bahkan para sufi terkadang berzakat 100% dari seluruh harta yang diterimanya. Selain ia membersihkan dari daki-daki dunia, ia juga memanjangkan umur dan menyelamatkan diri dari siksa sengsara akhirat. Betapa beruntungnya para pemilik harta yang menyedekahkan hartanya sehingga ia mendapatkan ganjaran yang tidak dapat ditebus dengan uang nantinya. “Mereka yang menyedekahkan hartanya kepada orang lain, hartanya tidak akan berkurang. Bahkan, harta itu akan bertambah, dan bertambah.” (Sabda Nabi).


Jadi, pemahaman sufi atas harta jelas. Harta dan semua yang ada adalah milik Tuhan. Manusia diberi limpahan-Nya agar digunakan sebagai alat bagi perjalanan rohaninya menuju Tuhan. “Kamu tidak akan sampai kepada ketaatan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan itu, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran/3:92). Zakat bagi para sufi merupakan langkah untuk memberikan “kado” atau hadiah terindah untuk Tuhan, sekaligus untuk manusia dengan disertai kebersihan niat jiwa, dan kesucian hati. Tegasnya, sebagaimana dikemukakan Syekh Siti Jenar, zakat adalah kesediaan untuk menolong manusia yang kekurangan, baik harta fisik maupun harta rohani sehingga mereka terhindar dari kemiskinan, kekurangan, kelaparan fisik maupun spiritual. Betapa indahnya dunia jika dihuni manusia sufi seperti ini.



Haji
Haji menurut Islam-Jawa yang sebagian merupakan warisan ajaran Syekh Siti Jenar tidak lain adalah olah spiritual. Karena kalau hanya sekedar mengunjungi Makkah dalam arti fisik, bagi orang Islam-Jawa itu cukup dengan “ngeraga sukma”. Dalam arti seseorang mampu pergi ke Makkah kapan saja dia mau. Oleh karenanya, bagi mereka, Makkah letaknya bukanlah sebatas geografis, yakni terletak di Dataran Arab Saudi. Bagi Muslim-Jawa, Makkah berada di dalam spirit manusia yang tidak ditempuh dengan hanya menggunakan bekal rupiah. Hal ini dapat ditinjau dari ungkapan dalam Suluk Wijil :

Samana ngling Molana Maghribi
Singgih pakanira awangsal
Nora ing Mekah rekeh
Ing Mekah kulon iku
Mekah tiron wastanireki
Watu ingkang kinarya
Pangadhepan iku
Nabi Ibrahim akarya
Nusa Jawa yen tuwan tinggala kapir

Lan tuwan awangsul
Nora ana weruh ing Mekah iki
Alit mila teka ing awayah
Mang tekaa parane
Yen ana sangunipun
Tekeng Mekah tur dadi wali

Sangunipun alarang
Dahat dening ewuh
Dudu srepi dudu dinar
Sangunipun kang sura lagaweng pati
Sabar lila ing donya


Artinya : Maulana Maghribi berkata demikian,” Baiklah engkau kembali, yang engkau cari tidak ada di Makkah. Makkah yang terletak di barat (Nusa Jawa) itu, Makkah tiruan namanya. Batu yang dibuat sebagai tempat menghadap adalah buatan Nabi Ibrahim. Jika Nusa Jawa engkau tinggalkan, akan menjadi kafir. Tak ada yang tahu dimana Makkah yang sebenarnya. Meski ia harus berjalan dari kecil hingga tua. Tak akan mencapai tujuan. Jika ada bekal sampai di Makkah dan menjadi Wali, maka bekalnya sangat mahal, sukar diperoleh. Bukan rupiah maupun dinar bekal tersebut. Tapi keberanian, kesanggupan mati, dan sabar serta ikhlas di dunia.


Dari penuturan suluk wijil tersebut, jelas bahwa haji adalah olah spiritual untuk mencapai keyakinan hidup yang hak, yaitu berani dan sanggup mati dalam kebenaran, serta sabar dan ikhlas dalam hidup di dunia. Dimana ruh masih terpenjara dalam wadaq ini. Hidup ikhlas adalah hidup tidak terkontaminasi nafsu berebut kuasa, harta, kelezatan hidup di dunia (Chodjim, 2002,209). Maka keikhlasan menjalani hidup menjadi tujuan dari haji. Untuk dapat ikhlas perlu laku atau olah spiritual.


Untuk mampu memperoleh laku yang benar, juga diperlukan keberanian dan kesanggupan memilih jalan yang diyakini benar. Sebagiannya adalah keberanian dan kesanggupan untuk hidup bersahaja dan bersih dari segala perbuatan yang tercela dan mungkar. Hati terbebas dari segala iri, dengki, dendam, kesumat, kikir dan tamak. Pikiran bersih dari keterikatan dengan kelezatan dunia. Rohani dimerdekakan, dan keberagamaan tidak terbelenggu oleh sekedar formalitas. Dan untuk itu semua dibutuhkan kesabaran, memiliki daya juang, dan tidak mudah menyerah dalam upaya mencapai tujuan. Tegar dan kokoh dalam perjuangan hidup yang benar, dan kemauan mempertahankan keyakinan atas kebenaran itu.


Di balik kesabaran itu, juga tersembul kemauan menjaga harmonisme segala hal di dunia ini. Tidak egois, tidak mau menang sendiri, tidak menyerobot hak orang lain. tidak mempermainkan kekuasaan, tidak melanggar hak-hak orang lain. ia selalu memperjuangkan hak hidup dengan tanpa mengorbankan hak orang lain. ia memperjuangkan haknya sekaligus hak orang lain.


Muslim Jawa dalam beragama tidak hanya terikat pada simbol. Sehingga termasuk Ka’bah misalnya, yang berada di Makkah hanya disebut sebagai tiruan yang dibuat manusia. Ka’bah yang sesungguhnya tidak diketahui letaknya karena berada di alam spiritual. Ka’bah diri berada di kedalaman ceruk hati. Oleh karenanya kebenaran dan kejujuran tidak harus diburu di Makkah, justru di Jawa juga menyediakan banyak ajaran spiritual yang jika ditinggalkan untuk memburu di Makkah, malah membuat orang Jawa akan menjadi kafir. Yakni akan kehilangan kebijaksanaan tradisional dan spiritualitas yang genuine dari kedalaman dirinya sendiri. Untuk menciptakan kesejahteraan, ketentraman, dan untuk mampu mendekati Tuhan, ternyata memang seharusnya tidak boleh meninggalkan kebijaksanaan yang berakar pada tradisi ritual dari bangsa lain. Allah menyediakan semua tempat dengan ragam hikmah (wisdom)-nya masing-masing. Untuk itulah konsep keberbedaan harus disatukan dalam kerangka lita’aruf (saling mengenal). Mereka yang mampu mengenal hikmah yang beragam itu disebut Allah sebagai mereka yang paling sanggup mencapai ketakwaan.  



Menghadap dan Bertemu Allah
Islam dalam hal ini bermakna “sumarah marang Gusti”, sikap rasa kepasrahan total kepada Tuhan sehingga mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan hakiki. Sehingga apa yang disebut sebagai “rukun Islam” (al-arkan al-islam) tidak lain adalah cara, metode dan strategi untuk memperoleh garansi keselamatan dan kesejahteraan Tuhan. Dan jaminan tersebut akan mutlak jika manusia berhasil mendapatkan maqamat kemanunggalan, dimana iradat dan kodrat-nya menyatu dengan iradat dan kodrat Allah. Asma’, sifat dan af’al-nya manunggal dengan asma’, sifat dan af’al Allah. Al-Qur’an menggunakan istilah “liqa” (pertemuan tanpa jarak, dan perantara)untuk hal ini. Dalam sufisme hal ini bisa bermakna fana’, baqa’, ittihad, atau hulul tergantung proses dan lelaku spiritual yang ditempuh. Syarat utamanya adalah iman dan amal shaleh, yang tidak lain adalah lelaku spiritual, pengalaman spiritual, dan perilaku hamemayu ayuning bawana langgeng (rahmatan li al’alamin).


Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits qudsi, bahwa bila seorang hamba datang kepada-Nya dengan kehendak dan keinginan hati yang tulus, maka Tuhan akan mengimbanginya serta menghampirinya. Tuhan bahkan akan memberinya pujian yang agung kepada dirinya. Sebagai hasilnya, Tuhan bersedia menjadi pendengaran, penglihatan, pengucapan dan tindakan dari hamba tersebut, yang dengan kata lain, Tuhan mau “turun” (tanazzul) kepada diri sang hamba tersebut. Bagi hamba yang kemudian mencapai hakikat pemujaan, maka dia akan memperoleh wujud sifat “jamal” Allah, keindahan Allah (Chodjim:2003, 203). Hidupnya akan terasa tenteram, bahagia, sejahtera meskipun secara duniawi tampak tidak memiliki apa-apa. Karena hakikat kepemilikan adalah kekayaan hati dan kepuasan rohani. Di situlah terdapat sumber kekayaan hidup karena di dalamnya bersemayam Allah sebagai “ kanzun makfiyyun” (mutiara tersembunyi) dalam hati yang pasrah, sumarah dan menyatuka diri dengan-Nya. Memang harta benda perlu dicari sebagai kodrat badan wadaq, dan sebagai salah satu unsur yang memberikan kemudahan hisup di dunia fana ini. Namun letak kebahagiaan bukanlah pada hal-hal yang material itu. Semua yang ada di dunia hanya bersifat maya belaka. Maka, Allahlah sumber kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan dankeselamatan.


Ketika kesempurnaan jamal Allah telah dimiliki, maka sang hamba kemudian berhiaskan sifat kamal Allah, kesempurnaan dan keutuhan Tuhan. Disini akan terjadi pengalaman bahwa hakikat rasa adalah tumbuhnya kemampuan nyata untuk merasakan kehadiran Allah. Kemampuan untuk melihat wajahNya (musyahadah). Dan kemampuan untuk menghadap kehadirat-Nya. Oleh karenanya, jiwa dalam hal ini menjadi madeq danmantep dalam mengarungi kehidupan ini.


Madeg adalah kesadaran sepenuhnya bahwa hidup kita telah memiliki potensi sejak kelahiran terdapat bakat berdasarkan ilham ruhiah. Oleh karenanya tidak terdapat rasa dan ketergantungan pada belenggu dunia. Malah pancaran Wajah Illahi-lah yang sealu memasuki kedalaman rasa yang memancarkan kebahagiaan ke seluruh kehidupannya.


Mantep artinya menjadi orang yang tidak ragu-ragu dalam hidup ini. Oleh karena kemantepan-nya maka ia menjalani hidup dengan jujru dna benar yang kemudian akan mencukupkan rezeki yang halal, cukup dan baik. Ia menjalani hidup dengan ketakwaan dan ke-tawakkal-an, yakni sikap hati yang tidak pernah alpa dari Allah, dan sikap hidup yang pasrah dan sumarah atas semua kejadian di dunia sehingga tidak ada sesuatu pun yang sanggup membujuknya. Hasilnya adalah rejeki yang tidak disangka-sangka datangnya, serta keserba kecukupan dalam kehidupannya. Sehingga ia menyadari sepenuhnya bahwa Allahlah yang menjadi sumber keberadaan. Dialah pula pemberi jalan keluar semua yang muncul dalam kehidupan. Dia penguasa semua rejeki dan diri semua makhluk.


“Itulah yang disebut Syekh Siti Jenar Hyang Widi. Ia berbuat baik dan menyembah atas kehendak-Nya. Tekad lahiriahnya dihapus. Tingkah lakunya mirip dengan pendapat yang ia lahirkan. Ia berketetapan hati dan berkiblat setia, teguh dalam pendiriannya, kukuh menyucikan diri dari segala yang kotor untuk sampai menemui ajalnya tidak menyembah kepada budi cipta. Siti Jenar berpendapat dan menganggap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat rasul yang sejati, sifat Muhammad yang Kudus.” (serat Syekh Siti Jenar Pupuh III Dandhanggula, 41-42)


Sebagai kelanjutan sikap madeg dan matep, maka hamba yang telah terhias jamal dan kamal Allahjuga memiliki sikap madhep ke arah yang benar, yakni hanya kepada Allah sebagai pusat penghadapan. Semua yang diadakan oleh Allah hakikatnya tidaklah memiliki nilai apa-apa dalam hidup manusia karena yang menjadi sumber segala nilai hanya Allah. Dengan sikap ini, seorang hamba yang manunggal tidak lagi tertipu oleh angan-angan, hatinya tidak lagi memiliki ukiran atas benda dunia, dan tentusaja ia tidak akan pernah berpaling kepada dunia selain Allah. Ia telah berada dalam keadaan “tunggal lawan Sang Hyang Widi”, hamba yang menyatu dengan Allah. Jadi, sebenarnya yang kita hadapi berada dalam diri kita sendiri yang memang Wajahnya terpancar ke seluruh jagad raya. Jaba Jero sami. Kemanapun kita menghadap yang ada hanyalah suwung (kosong) dari selain Allah. Luar dalam sama, yakni yang ada hanya Wujud-Nya. Inilah sikap madhep yang benar. Maka kiblat yang benar adalah hati yang didalamnya menjadi sumber dan bersemayam kemanunggalan sifat, asma’ dan af’al hamba dan Tuhan. Hasilnya adalah keikhlasan dan ketulusan dalam kerangka kemanusiaan dan rahmatan lil ‘alamin. Dengan sikap madhep sepenuhnya ini, hamba didorong untuk bekerja tanpa pamrih dalam mewujudkan ayuning bawana langeng.



JALAN MA’RIFAT ISLAM JAWA: WARISAN SYEKH SITI JENAR
Apa yang dikemukakan dibawah ini merupakan jalan ma’rifat Islam Jawa, yang menyertai perilaku pola spiritual yang sudah dikemukakan pada tulisan sebelumnya (Hakikat Rukun Islam). Inti dari jalan ma’rifat Syekh Siti Jenar adalah keterpusatan seluruh diri kepada Allah, menyatunya semua iradat dan kodrat diri dengan Allah, menyatukan semua sifat, asma’ dan af’al diri dengan Allah dengan metode utama ilmu hening (semadi).


Logika dari hal ini jelas mengacu pada pola spiritual Nabi Muhammad. Dimulai dengan ilmu hening (khalwat di Gua Hira), mendapatkan wahyu, pengejawantahan nilai spiritual dalam kehidupan, mengalami mi’raj, dan turun menjadi manusia untuk hamemayu ayuning bawana. Konsep spiritual inilah yang disebar luaskan oleh Syekh Siti Jenar di Asia tenggara. 



Ilmu Hening/Meditasi dan cara Pelaksanaannya
Uraian lebih lengkap untuk Meditasi, bisa dilihat di buku “Sufisme Syekh Siti Jenar, Kajian Kitab Serat dan Suluk Siti Jenar, Muhammad Sholikhin, Yogyakarta: Narasi, 2004, hlm 284-298 (buku pinjaman mbah hamsyong dan mbah gen13th).


Istilah semedi sama dengan sarasa, yaitu rasa tunggal, maligining rasa (berbaur berjalannya rasa), rasa jati, rasa ketika belum mengerti. Adapun matangnya perilaku atau pengolahan (makarti) rasa disebabkan dari pengolahan atau pengajaran, atau pengalaman-pengalaman yang diterima atau tersandang pada kehidupan keseharian. Olah rasa itulah yang disebut pikir, muncul akibat kekuatan pengelolaan, pengajaran atau pengalaman tadi. Pikir lalu memiliki anggapan yang baik dan jelek, kemudian memunculkan tata cara, penampilan dan sebagainya yang kemudian menjadi kebiasaan (pakulinan/adat).


Apa yang dimaksud semedi disini, tidak lain kecuali hanya untuk mengetahui kesejatian dan kesunyatan. Adapun sarananya tidak ada lagi kecuali hanya mengetahui atau menyilakan angapan dari perilaku rasa yang disebut hilang-musnahnya papan tulis. Ya, disitu itu tempat beradanya rasa jati yang nyata, yang pasti dan yang melihat tanpa ditunjukkan (weruh tanpa tuduh). Adapun terlaksananya harus mengendalikan segala sesuatunya (hawa nafsu dan amarah), disertai dengan membatasi dan mengendalika perilaku (perbuatan anggota badan).


Adapun pelaksanaannya secara umum adalah sebagai berikut: pengendalian anggota tadi yang lebih tepat adalah dengan tidur telentang disertai dengan sidhakep (tangan dilipat di dada seperti takbiratul ikhram, atau seperti orang yang meninggal, aau tangan lurus ke bawah, telapak tangan kiri kanan menempel pada paha kiri kanan, kaki lurus, telapak kaki yang kanan menumpang pada tapak kaki kiri. Maka hal itu kemudian disebut dengan sidhakep suku (saluku) tunggal. Ataupun juga dengan mengendalikan gerakan mata, yaitu yang disebut meleng. Lelaku seperti itu dilakukan bagi yang kuasa mengendalikan gerak-bisik cipta (gagasan, ide, ilah pikir) serta mengikuti arus aliran rahsa. Adapun pancer-nya (arah pusat) penglihatan diarahkan dengan memandang pucuk hisung keluar diantara kedua mata, yaitu di papasu. Sedang penglihatannya dilakukan harus dengan memejamkan kedua mata.


Selanjutnya adalah menata keluar masuknya napas seperti berikut: Napas ditarik kearah pusar, digiring naik melebihi pucuk tenggorokan hingga sampai di suhunan (embun-embun/ubun-ubun). Ditahan beberapa saat. Proses penggiringan atau pengaliran napas ibarat memiliki rasa mengangkat apapun. Namun kesungguhannya seperti yang kita angkat itu adalah mengalirnya rasa yang kita pepet dari penggiringan napas tadi. Kalau sudah terasa berat penyanggaan (penahanan) napas, kemudian diturunkan secara pelan-pelan. Lelaku seperti itu yang disebut sastra-cetha. Maksudnya, sastra adalah tajamnya pengetahuan. Sedang cetha adalah mantapnya suara di pita suara (cethak), yaitu cethak ( di ujung dalam dari lidah) mulut kita. Maka disebut demikian, ketika kita melaksanakan proses penggiringan napas melebihi dada dan kemudian naik lagi melebihi cethak hingga sampai ubun-ubun. Kalau napas kita tidak dikendalikan, dan hanya menurutkan jalannya napas sendiri, tentu tidak bisa sampai ke bun-bunan (embun-embun). Hal itu karena jika sudah sampai di tenggorokan langsung turun lagi.


Apalagi yang disebut daiwan(dawan), yang memiliki maksud: mengendalikan keluar masuknya napas yang panjang dan disertai dengan sareh (kesadaran penuh dan utuh), serta pengucapan mantera yang diucapkan dalam batin, yaitu ucapan “hu” disertai masuknya napas, yakni penarikan napas dari pusar naik sampai ke ubun-ubun. Kemudian “ya” disertai dengan keluarnya napas, yaitu turunnya napas dari ubun-ubun sampai pusar, naik turunnya napas tadi melebihi dada dan cethak (pita suara).


Adapun hal itu disebut sastra-cetha, karena ketika mengucapkan dua mantera sastra: “hu-ya”, keluarnya suara hanya di batin saja. Juga kelihatan dari kekuatan cethak (tenggorokan). Ucapan dan bunyi mantera atau dua penyebutan “hu-ya” pada wirid Naksyabandiah akan berubah menjadi ucapan “hu-Allah”. Dimana penyebutannya juga disertai dengan perjalanan napas. Adapun wiridan Syatariah, penyebutan tadi berbunyi “hailah haillolah” (la ilaha illa Allah), tetapi tanpa pengendalian perjalanan napas.


Untuk masuk keluarnya napas seperti tersebut diatas, satu angkatan hanya mampu mengulangi tiga kali ulang. Walau demikian, karena napas kita sudah tidak kuat melakukan lagi. Rasanya sudah berat (menggeh-menggeh). Ada pun kalau sudah sareh (sadar normal), itu bisa dilakukan lagi. Demikian seterusnya semampunya. Karena semakin kuat tahan lama, semakin baik. Adapun setiap satu angkatan, lelaku tadi disebut tripandurat, maksudnya tri=tiga, pandu=suci, rat=jagad=badan=tempat. Maksudnya dalah tiga kali napas kita dapat menghampiri jagat besar yang Maha Suci dan bertempat di dalam suhunan (yang dimintai). Ya itulah yang dibahasakan dengan paworingh kawula Gusti. Maksudnya kalau napas kita pas naik, kita berketempatan Gusti, dan ketika turun, kembali menjadi kawula. Yang dimaksud Kawula Gusti itu bukanlah napas kita, akan tetapi daya (kekuatan) cipta tadi. Jadi, olah semedi itu pada pokoknya kita harus menerapkan secara konsisten, membiasakan selalu melaksanakan keluar masuk dan naik turunnya napas disertai dengan mengheningkan penglihatan. Sebab penglihatan itu terjadi dari rahsa. 



TUJUAN DAN KEGUNAAN ILMU HENING
Adapun pelaksanaan semedi seperti dituturkan di atas juga bisa diringkas. Yang penting kita selalu terus menerus dan tiada putus melakukan laku naik turunnya napas, dengan duduk, berjalan atau bekerja. Tidak boleh ketinggalan mengendalikan keluar masuknya napas yang disertai dengan pembacaan mantera “hu-ya” atau “Allah-hu” atau “hu-Allah”.


Kecuali itu wirid yang disebut daiwan masih memiliki maksud yang lain lagi. Yaitu memiliki pengertian panjang tanpa ujung, atau langgeng. Adapun maksud penyebutan bahwa napas kita itu menjadi keberadaan hidup kita yang langgeng (abadi) yaitu dengan adanya napas (ambegan) kita. Adapun ambegan itu ternyata dikarenakan adanya angin (udara/oksigen) yang selalu keluar masuk tanpa henti. Bersamaan dengan proses perjalanan daran (dan ruh). Apabila keduanya berhenti dan tidak bekerja lagi, maka disebut dengan “mati”. Yaitu rusaknya wadag kembali menjadi barang baru lagi. Oleh karena itu sebaiknya perjalanan napas atau ambegan kita harus selalu keluar masuk tanpa henti. Harus dipanjang-panjangkan proses perjalanannya agar umur kita menjadi panjag dan bisa menjadi awet berada di dunia ini smapai tutug (selesai) pandangan kita kepada anak, cucu, buyut, canggah, wareng dan seterusnya.


Adapun uraian diatas menunjukkan bila pengetahuan pasamaden itu ternyata lebih besar kegunaan dan manfaatnya, maka kemudian disebut sastrajendrayuningrat pangruwating diyu. Artinya, sastra -= tajamnya pengetahuan, jendra = dari uraian kata harja endra (harja = raharja, endra = ratu/dewa), yu = rahayu = sejahtera, ningrat = jagat = tempat = badan. Jadi, maksudnya adalah mustikanya pengetahuan yang kuasa jadi penyebab kesejahteraan, keselamatan, kesempurnaan, ketentraman dan sebagainya.


Adapun arti pangruwating diyu = mengembalikan atau memulihkan diyu. Sedangkan diyu = danawa = raksasa = asura = buta, ini untuk perlambang keburukan, penyakit, kotoran, bahaya, kegelapan, kebodohan dan sesamanya. Jadi diyu itu sebagai kebalikan dari dewa yang memiliki makna simbolik: pandai, baik, sejahtera, selamat, dsb. Itu mengandung maksud yang dapat menyirnakan segala keburukan atau segala hal bahaya. Intinya, barang siapa yang selalu ajeg berdisiplin melakukan lelaku olah semedi, jika pada mulanya orang buruk kemudian sirna keburukannya, dan lalu berubah menjadi orang yang baik perilakunya. Orang sakit sirna penyakitnya menjadi sembuh waras, orang murka dan aniaya menjadi menerima, sabar dan berbelas kasih. Orang yang bohong atau curang menjadi dipercaya dan bersungguh-sungguh. Orang yang bodoh menjadi pintar, orang yang pandai menjadi pandai sekali, dan mengerti (benar dan pener, pikir dan nalar). Demikian juga orang yang semula menjadi orang sudra menjadi waisa, waisa menjadi ksatria, ksatria menjadi brahmana dan brahmana menjadi penjaga dunia yang disertai oleh Hyang Kuasa (Batara).


Mudahnya, semua jenis keburukan atau segala bentuk rekayasa (goda rencana), bentuk bahaya apapun, baik yang muncul karena keburukan hati pribadi, atau segala sesuatu jadi sirna. Hapus lebur oleh pangastuti hasil olah semedi, yaitu mengelola dan mengendalikan (mengheningkan) cipta mewujudkan cita (pencerahan) dalam aworing kawula-Gusti (menyatunya hamba-Tuhan). Demikian juga segala bahaya yang keluar dari keburukan dan perbuatan orang lain, seperti halnya hewan mau mengganggu tentu akan terkena akibatburuk. Burung yang terbang melebihi, tentu mati sirna bentuk badan wadag-nya. Demikian juga bagi sesama titah yang sengaja meremehkan atau meluhurkan kemenangannya dan sebagainya tentu tidak akan terjadi. Selagi masih mau berpandang-hadapan saja, sudah tentu badannya kemudian gemetaran. Ibarat gosong jadi abu. Semua itu akibat terkalahkan oleh besarnya kewibawaan yang selalu bersinar menggema daya kekuatan. Seperti terangnya bulan purnama tanggal setengah (akibat olah semedi yang dijalankan secara konsisten).  



Meditasi Menuju Kemanunggalan
Apa yang dikemukakan dibawah ini hanyalah sebagai pondasi atau landasan dasar perjalanan menuju Allah. Jadi setelah memperoleh pengalaman spiritual dari lelaku dibawah ini, bukan berarti bahwa perjalanan spiritual sudah diperoleh sempurna. Akan tetapi paling tidak dengan perjalanan ma’’rifat dasar berikut ini akan menjadi awal yang sangat baik untuk melanjutkan lelaku dan pengalaman spiritual lanjut.


Untuk memperoleh hasil optimal, maka praktik meditasi (khalwat, I'tikaf, atau tahannuts) dilaksanakan dengan urutan-urutan sebagai berikut :

a. mandi menyucikan jasmani dan rohani
niat: Bismillahirrahmanirrahim, niyatingsun ngedusi seduluring papat, lima pancer, kanem bumi, kapitu Rasul, Allahu damalkah. Niyatingsun ngedusi badan jasmani, resik jaba suci jero. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

b. melaksanakan meditasi yang disebut sebagai shalat ma’rifat, dengan tata cara sebagai berikut:

Dimulai dengan Tafakkur atau pemusatan pemikiran dan hati. Melakukan meditasi sampai ke tubuh, hati, dan pikiran hingga mencapai gelombang alfa (hening, tenang, tenteram, dan damai)
Cara Melakukan Tafakkur:
• mengambil napas sekuat mungkin, kemudian napas ditahan dibagian bawah perut.
• Membaca wirid dalam hati (kalbu, batin)” Allah, Allah, Allah…”, sambil melepaskan napas secara perlahan.
• Dilakukan sekitar 10x – 41x, sampai mencapai gelombang alfa.
• Boleh membaca asma’ Allah yang lain, sesuai dengan keinginan kita (QS Al A’raf/7:180), utamanya asma ul husna.

Membaca surat al Fatihah
Caranya : dilakukan dengan menahan napas cukup 1-3 kali

Mengucapkan niat (afirmasi) dan permohonan do’a atau do’a iftitah.
“Rabbi arinii andzur ilaika. Ya Allah, aku berhasrat menemui dan mengenalMu, jika Engkau izinkan, tunjukkanlah wajahMu padaku, agar aku dapat menyaksikanMu (bermusyahadah)” (Al A’raf/7:143)
Dilakukan dengan menahan napas, mengucapkan niat tulus ikhlas kemudian melepaskannya secara perlahan-lahan.

Membaca shalawat satu kali, istighfar 3 kali dan membaca “hu-Allah” 3 kali.
Dilakukan dengan menahan napas, dan setelah selesai dikeluarkan perlahan-lahan.

Menutup 9 lubang (babahan nawa/hawa sanga), mati sakjeroning urip.
- membaca Allahu Akbar (1x) sambil mengankat tangan disamping kepala (takbiratul al ikram)
- meletakkan kedua ibu jari, menekan keduanya pada daun telinga yang kecil ( menutup telinga).
- meletakkan jari telunjuk, menekan pada kedua kelopak mata (dari kelopak mata atas menuju ke bawah)
- meletakkan kedua ujung jari tengah, menekan kedua lubang hidung (dari sisi samping kiri ke samping kanan hidung)
- sebelum menutup kedua lubang hidung , tarik napas secukupnya melalui mulut, kemudian ditahan semampunya di bagian bawah perut.
- meletakkan kedua jari manis menekan bibir atas, dan meletakkan kedua jar kelingking untuk menekan bibir bawah pada organ mulut kita.
- mengambil napas secukupnya melalui mulut, kemudian napas ditahan dibagian bawah perut.
- jika sudah tidah kuat menahan napas, lakukan “isbat”
- lidah diletakkan dilangit-langit bagian atas, gigi rapat, bibir rapat.
- isbat adalah menutup kedua mata dengan menggunakan kedua telapak tangan (yaitu, telapak tangan bagian dalam bawah, dan bagian atas menutup jidat.

Kembali ke posisi duduk awal dan mengatur napas, sambil berdzikir dalam hati “hu Allah” sebanyak 7 kali.
Membaca : ”sahadat Allah, Allah, Allah lebur badan, dadi nyawa, lebur nyawa dadi cahya, lebur cahya dadi idhafi, lebur idhafi dadi rasa, lebur rasa dadi sirna mulih maring sajati, kari amungguh Allah kewala kang langgeng tan kena pati” (Syahadat Allah, Allah, Allah badan lebur menjadi nyawa, nyawa lebur menjadi cahaya, cahaya lebur menjadi (ruh) idhafi, (ruh) idhafi lebur menjadi rasa, rasa lebur menjadi sirna kembali kepada yang sejati, tinggallah Allah semata yang abadi tidak terkena kematian), dengan menahan napas.


Membaca”Ashadu-ananingsun, satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun, kang badan nyawa kabeh (Ashadu-keberadaanku, la ilaha-bentuk wajahku, illallah-Tuhanku, sesungguhnya tidak ada tuhan selain Aku. Yaitu, badan dan nyawa seluruhnya), dengan menahan napas.


Jika memiliki permintaan khusus, lakukan disertai niat dan permohonan yang tulus. Setelah doa diucapkan, lepaskan napas. Doa khusus diucapkan setelah membaca: “ashadu ananingsun, anuduhake marga kang padhang, kang urip tan kenaning pati, mulya tan kawoworan, elinge tan kena lali, iya rasa iya Rasulullah, tutuga alam padhang, iya iku hakekating Rasulullah, sirna manjing sarira ening, sirna wening tunggal idhep jumeneng langgeng amisesa budine, angen-angene tansah amadhep ing Pangeran”, sambil menahan napas. (Ashadu keberadaanku, yang menunjukkan jalan yang terang, yang hidup tidak terkena kematian, yang mulia tanpa kehinaan, kesadaran yang tidak terkena lupa, itulah rasa yang tidak lain adalah Rasulullah, selesailah berada di alam terang. Itulah hakikat Rasulullah, hilang musnah ketempatan wujud yang hening, hilang keheningan menyatu tunggal menempati secara abadi memelihara budi, angan-angan selalu menghadap Tuhan)
Melanggengkan daya rohani (shalat daim) dengan dzikir “sasahidan”: juga bisa dilakukan dalam kondisi hati berwirid dengan sasahidan (syahadat Ingsun sejati)

Ingsun anakseni ing datingsun dhewe
Satuhune ora ana pangeran among ingsun
Lan nekseni satuhune Muhammad iku utusaningsun
Iya sejatine kanga ran allah iku badaningsun
Rasul iku rahsaningsun
Iya ingsun kang urip tan kena ing pati
Iya ingsun kang eling tan kena lali
Iya ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati
Iya ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji wiji
Iya ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pangerti,
Byar:
Sampurna padhang terawangan
Ora kerasa apa-apa
Oa ana katon apa-apa
Mung ingsun kang nglimputi ing alam kabeh
Kalawan kodratingsun.

Artinya:
Aku bersaksi di hadapan Dzat-ku sendiri
Sesungguhnya tiada tuhan selain Aku
Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku
Sesungguhnya yang disebut Allah itu badan-Ku
Rasul itu rasa-Ku
Muhammad itu cahaya-Ku
Akulah yang hidup tidak terkena kematian
Akulah yang senantiasa ingat tanpa tersentuh lupa
Akulah yang kekal tanpa terkena perubahan di segala keadaan
Akulah yang selalu mengawasi dan tidak ada sesuatupun yang luput dari pengawasan-Ku
Akulah yang maha kuasa, yang bijaksana, tiada kekurangan dalam pengertian
Byar
Sempurna terang benderang
Tidak terasa apa-apa
Tidak kelihatan apa-apa
Hanya aku yang meliputi seluruh alam
Dengan kodrat-Ku

Untuk mengasah ketajaman mata batin, daya rohani dan menjaga ketajaman pancaindera (mengaktifkan indera “keenam”), ada baiknya setiap hari melakukan dzikir sebagai berikut :


1. Indera : Mata
nafsu: muthmainnah
dalil hati : la bashira illallah:
dzikir: la ilaha illallah

2. Indera : Telinga
nafsu : Ammarah
dalil hati : la sami’a illallah
dzikir : Allahu

3. Indera : Hidung
nafsu : shuffiyah
dalil hati : la hayata illallah
dzikir : Hu Allah

4. Indera : Mulut
nafsu : lawwamah
dalil hati : la kalima illallah
dzikir : Allah


Selesai melakukan meditasi, ritual ditutup dengan bacaan “sabda sukmo, adhep-idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah Allah, kang murba amisesa”.



Pencapaian Ma’rifatullah dan Manunggaling Kawula Gusti
Syekh Siti Jenar menyatakan dalam Serat Syekh Siti Jenar Pupuh III Dandanggula, 242-44, “Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman yang jika sudah diminta oleh yang empunya akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran berasal dari pancaindera. Tapi itu tetap tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih , bingung, lupa tidur, dan seringkali tiak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. dengki dapat pula menuju perbuatan jahat dan menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai demikian jauhnya, baru orang akan menyesalkan perbuatannya.”


Akal dalam sistem kerjanya hanya berkisar di sekitar yang diciptakan (kawn), dan jika telah sampai pada pencipta (mukawwin) dan rahasia-rahasianya , akal akan terserap larut. Yang bermain kemudian segenap rasa dan hati yang tercerahkan oleh nur Muhammad dan nur Allah yang hadir langsung karena pengalaman rohani.


Namun bukan berarti bahwa akal kemudian tidak berguna bagi proses pencarian ma’rifat. Ma’rifat dari segi proses terjadinya terbagi menjadi dua jenis. Ma’rifat pengungkapan (ta’aruf) dan ma’rifat pengajaran (ta’rif). Makna “pengungkapan Diri” adalah bahwa Allah menyebabkan para sufi mengenal-Nya, dan mengenal segala benda melalui Dia. Sementara “pengajaran” adalah bahwa Allah memperlihatkan pada mereka tanda-tanda kekuasaanNya di semesta dan dalam diri mereka sendiri dan kemudian menanamkan dalam diri mereka sebuah karunia khusus (luthf), sehingga kemudian benda-benda yang ada menunjukkan adanya Sang Pembuat. Inilah ma’rifat yang bisa dicapai oleh orang beriman pada umumnya. Bahkan sebagian orang yang belum beriman dapat memperoleh ma’rifat jenis ini yang menyebabkan orang tersebut kemudian larut dalam ma’rifatullah. Pada yang kedua inilah, faktor akal masih memainkan peranan pembuka yang cukup penting. Sementara yang pertama adalah ma’rifat yang hanya bisa dicapai oleh orang terpilih (khawash dan khawash al-khawash) dan menunjukkan bahwa pada hakikatnya tak seorangpun bisa mengenal Allah, kecuali dengan dan melalui Allah sendiri.


Para sufi mengakui bahwa tidak ada orang yang mengenal Tuhan kecuali orang yang berakal, sebab akal itu merupakan suatu alat yang bisa membuat manusia mengetahui apa saja yang bisa diketahuinya. Sekalupun begitu, akal tidak bisa mengetahui Tuhan dengan sendirinya. Ketika Tuhan menciptakan akal, Dia bertanya,”Siapakah Aku ini?”, maka akal itu bungkam. Karena itu Dia mengolesinya dengan Cahaya Keesaan (wahdaniyah). Akal pun membuka matanya seraya berkata,”Engkau Tuhan, tidak ada Tuhan selain Engkau.” Dengan begitu, akal tidak memiliki kemampuan untuk mengenal Tuhan, kecualii lewat perantaraan Dia dalam ma’rifatullah. Dan perantara itu adalah proses suluk, lelaku rohani, sehingga dengan lelaku rohani tersebut ia mampu terserap dalam Nurullah.



Tiga Jalan Rohani Ma’rifatullah
1. Cita Rasa (Dzauq)
Cita rasa adalah pengalaman spiritual langsung. Dzauq merupakan tahapan atau lebih tepatnya, haal (kondisi spiritual) pertama dalam pengalaman pengungkapan diri Allah (tajalli). Rasa ini diperoleh dari perjalanan rohani dalam berbagai maqamat, serta berbagai perilaku dzikir dari seorang sufi.


Dari dzauq, perjalanan seorang sufi terus diarahkan pada kemenyatuan (larut dalam Keesaan) yang sering disebut juga sebagai “syurb” (minuman dari hidangan rohani Illahi). Sehingga dahaga spiritual yang dirasakan menjadi terpuaskan. Terkadang proses ini juga diikuti dengan tahapan sukr (kemabukan spiritual), yang secara tidak sadar, atau diluar kendali diri kemanusiaannya sering memunculkan pertanyaan dan kata-kata serta ungkapan spiritual (syathahat). Hal ini terjadi karena rasa keterkuasaan oleh wujud Tuhan dalam rohaninya.


Kelanjutan proses dzauq dan bagaimana kondisi rohani seseorang yang larut didalamnya, tidak dapat ditangkap melalui kata-kata. “Orang-orang yang merasakannya pasti tahu. Dan mereka yang belum merasakannya pasti belum tahu”. Tanpa secara langsung merasakannya, seseorang tidak akan mungkin mampu mendapatkan gambaran yang paling pas atas fenomena ini. Dan yang jelas, dzauq merupakan gerbang utama untuk memperoleh pengetahuan langsung tentang Allah dan dari Allah. Jadi seorang sufi yang belum bisa merasakan cita rasa spiritual, tidak mungkin akan dapat melampaui tahapan ma’rifatullah. Mungkin kalau sebatas pengetahuan tentang Allah, secara minimal sudah bisa didapatkan. Namn pengetahuan langsung dari Allah sebagai inti ma’rifat belum mampu akan diperolehnya kecuali dengan perasaan dzauq. Dimana seorang hamba larut dalam kemanunggalan dengan Tuhan.

2. Penyingkapan (Kasyf)
Kasyf adalah penyingkapan atau wahyu atau pengetahuan langsung yang diperoleh dari Allah setelah seorang sufi berhasil melampaui tahapan dzauq. Kasyf merupakan salah satu jenis pengetahuan langsung, yang dengan itu pengetahuan tentang Hakikat diungkapkan pada hati seorang sufi dan kekasih yang mencintai Allah.

Dengan sifat rahmat-Nya, Allah memberikan kepadanya sebuah Pengungkapan diri Allah. Tidak hanya menambah pengetahuannya tentang Allah, melainkan juga menambahkannya kerinduannya yang menggelora dalam lautan cintanya kepada Allah. Disinilah seorang sufi sampai pada sebutan ahl al-kasyf wa al-wujud (Kaum Penyingkap dan Penemu). Dalam penyingkapan itulah mereka “menemukan” dan “bertemu” Allah.


Terdapat lima jenis penyingkapan yang terjadi pada para sufi :
a. Kasyf ‘aqli. Penyingkapan melalui akal. Ini merupakan tingkatan pengetahuan intuitif yang paling rendah. Allah tidak bisa diketahui dan dicintai melalui akal (al-‘aql), karena akal membelenggu dan menghalangi manusia dalam tahapan akhir kenaikannya menuju Allah. “Bumi dan langit-Ku tidak sanggup memuat-Ku, hanyalah hamba-Ku yang beriman yang sanggup memuat-Ku “ (hadits qudsi).


b. Kasyf-i arwah. Adalah bentuk penyingkapan ruh-ruh. Diawali tentang pengetahuan atas ruh diri sendiri, kemudian tentang ruh-ruh manusia dan makhluk lain, lalu meningkat ke ruh dalam seluruh dimensi “alam al-ghaib. Puncaknya adalah pada pengetahuan langsung ruh al-idhafi, dan diarahkannya kepada al-Ruh al-Haqq.


c. Kasyf bashari atau juga Kasyf kauni. Merupakan penyingkapan pada tataran makhluk. Penyingkapan visual yang terjadi melalui penciptaan yang dilakukan Allah. Dalam suatu peristiwa-tempat, tindakan, atau ucapan manusia-seorang yang suci bisa menjadi tempat bagi penyingkapan visual ini. Allah adalah Yang Maha Mutlak. Dia adalah Keindahan (jamal) dan Keagungan (jalal). Melalui makhlukNya, Allah bisa mengungkapkan diri-Nya pada hambaNya lewat salah satu Nama KeindahanNya yang akan menimbulkan kemanisan dan kesenangan. Atau lewat salah satu Nama KeagunganNya yang akan melahirkan ketakziman dan ketakutan. Disinilah peranan al-asma’ al-husna serta al-asma’ al nabi sangat strategis untuk mengantarkan dan membawa seorang sufi kedalam samudera penghayatan rohaniah.


d. Kasyf Imani. Penyingkapan melalui keimanan. Penyingkapan ini terjadi melalui ketulusan iman seorang muslim. Kadar intensitas penyingkapan ini bisa berfungsi sebagai katalisator yang mengaktifkan sang Mukmin untuk lebih banyak lagi mencari ilmu dan pengetahuan spiritual.


e. Al-Kasyf al-Ilahi. Penyingkapan Illahi. Penyingkapan ini merupakan buah manis dari ibadah terus menerus dan menghiasi hati dengan mengingat Allah (dzikrullah). Prosesnya bisa melalui dzikir, wirid, atau mujahadah dan sejenisnya. Penyingkapan Illahi ini bisa terjadi secara langsung dalam hati, tanpa bantuan visual apapun, yakni ketika Keindahan Allah masuk kedalam hati seorang sufi dan pencinta-Nya. Ini juga bisa terjadi dengan bantuan visual yang berupa lokus tertentu Cahaya Illahi seperti dengan sarana wushuliyah seorang suci, benda, atau tempat suci. Ibarat daya listrik yang bukan sumber sendiri, maka ia harus melalui alat penghantar. Atau penampungan air yang tidak berada di sumber air, yang melaluinya air mengalir kepadanya. Seorang yang memperoleh penyingkapan ini akan melihat Wajah Allah yang tercermin melalui sarana hantaran yang ada, dan terpantul ke kedalaman lubuk hati. Dimana ruh al-idhafi akan menangkap pantulan tersebut. Tentu saja tingkat kesempurnaan penyingkapan lebih utama pada penyingkapan spiritual yang tanpa bantuan visual.


Berdasarkan konsepsi dan realitas tersebut, maka Syekh Siti Jenar telah termasuk dalam kelompok quthb al-auliya’, dimana seluruh dimensi kasyf memang sudah dialami, dan menjadikannya sebagai “penyingkap” dan “penemu”, yang aliran sufi-nya muncul sebagai aliran sufi mandiri.

3. Penyaksian (Musyahadah)
Musyahadah adalah penyaksian atau visi. Musyahadah adalah sejenis pengetahuan langsung tentang Hakikat yang disaksikan. Sehingga seorang sufi yang sudah berada dalam tahapan ini disebut sebagai musyahid, atau Saksi. Dia adalah orang yang telah memperoleh visi (musyahadah) tentang Allah, Yang Maha Benar.


Penyaksian ini terjadi dalam berbagai cara. Sebagian penempuh jalan spiritual dan kaum tarekat menyaksikan Allah dalam segala sesuatu. Sebagian menyaksikan Allah sebelum, sesudah dan bersama sesuatu. Sebagian lain menyaksikan Allah sendiri. Semua tergantung pada proses, jalan rohani, yang ditempuh dan juga kondisi rohani sang penempuh jalan masing-masing.


Dan karena Allah tidak pernah mengungkapkan Diri-Nya sendiri secara sama dalam dua momen berturut-turut pada sesuatu, maka penyaksian (musyahadah) itu tidak terbatas dan tiada berakhir. Inilah salah satu kenikmatan atau nikmat (na’im) yang dirasakan oleh para penghuni surga sejati. Dan tentu bagi para pecinta-Nya dan para perindu-Nya, ia bisa saja merasakan kebahagiaan abadi tersebut sejak dari dunia ini. Sehingga ketika ia melalui gerbang kematian, ia disebut sebagai “tidak mati”, akan tetapi berada dalam kehidupan. Ya, hamba yang sudah manunggal hanya beralih alam menuju pada Kehidupan Sejati dan mengarungi Keabadian sebagaimana Syekh Siti Jenar mengalami kematian, ruh dan raganya sama-sama musnah menuju Ruh al-Haqq Yang Abadi.


Sebaliknya Allah dapat tanazzul ke kedalaman hati. Ruh al-Haqq memasuki relung ruh al-idhafi di kedalaman nurani. Maka jika akal akhirnya hanya mampu menyatakan,”Tidak ada Tuhan selain Engkau”, ruh yang tercerahkan langsung dalam ma’rifatullah sanggup menyatakan,”Akulah Kebenaran”,”Ana al-Haqq”, dan “ingsung anekseni ing datingsun dhewe, satuhune ora ono pangeran among Ingsun”. Syekh Siti Jenar dalam ondisi jadzab-nya menatakan “Sabda suksma, adhep idhep Allah, kan anembah Allah, kang sinembah Allah, kang murba amisesa”, yang secara garis besar memiliki makna ”Pernyataan ruh yang bertemu-hadapan dengan Allah, yang menyembah Allah, yang disembah Allah, yang meliputi segala sesuatu.” (Sholikhin:2004,209).


Ini adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar dimana kemampuan ruh yang tercerahkan mampu melampaui akal. Maksudnya adalah suksma (ruh di kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena dikedalaman ruh batin manusia tersedia cermin yang disebut mir’ah al haya’ (cermin yang memalukan). Bagi orang yang sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut, akan muncul dan menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka, maka tirai-tirai rohani juga akan tersingkap sehingga kesejatian dirinya beradu-satu (adhep idhep),”Aku ini kau, tapi kau aku”. Maka jadilah dia yang menyembah sekaligus yang disembah sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya. Menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti (Sholikhin: 2004, 210).  



Manunggaling Kawula Gusti ( Al-Insan Al Illahiyyah)
Dalam pandangan sufisme, Tuhan merupakan esensi. Syekh Siti Jenar dan seluruh kaum sufi pada umumnya memiliki rumusan yang demikian. Hal itu memungkinkan “masuknya” Tuhan pada diri manusia: manunggal, hulul, fana’ atau apapun namanya. Karena nama atau sebutan sebenarnya bukan mengacu pada pengalaman yang diperoleh, tetapi lebih mengacu pada proses yang ditempuh. Sama halnya antara kunci dengan gemboknya. Bisa saja dikatakan gembok dimasuki kunci, atau kunci masuk ke gembok. Karena memang kadang kunci dulu yang dipegang baru gemboknya. Dan kadang juga gembok dulu dipegang baru meraih dan memasukkan kunci.


Didasarkan pada berbagai prinsip ajaran Syekh Siti Jenar (sebagai corak sufisme filosofis), maka logikanya adalah bahwa segala sesuatu yang ada dalam jagat raya memiliki unsur esensi Illahi. Sehingga manusia sangat dimungkinkan melakukan “pertemuan esensi dirinya dengan EsensiTuhan” menuju Diri Sesungguhnya. Memang akhirnya faktor inilah yang memunculkan konflik dengan kelompok ulama fiqhi. Karena konflik yang berkepanjangan inilah, al-Jili sampai mengatakan hati-hati,”Meskipun agama menegaskan bahwa terdapat perbedaan Khaliq dengan makhluknya –karena makhluk ‘dipinjami’ sifat-sifat Illahi- kami sebagai kaum mistik mengetahui bahwa kedua-duanya adalah sama.


Dengan keadaan yang demikian, maka Syekh Siti Jenar dan sebagian kaum sufi menjadikan gagasan tentang Tuhan sebagai esensi dan manusia yang “dipinjami” sifat-sifat Illahi sebagai doktrin kuat. Yang sangat memungkinkan manusia bisa sampai kepada tahapan spiritual ketika Tuhan “berpindah” ke jasad manusia. Sehingga ungkapan-ungkapan mistik seperti “Aku adalah tuhan”, “Aku adalah Yang Hak”, dan sebagainya, bukan sufi yang bersangkutan , tetapi melalui jasad sufi tersebut Tuhan mengatakannya. Hanya saja, sekali lagi perlu ditegaskan bahwa itu adalah Tuhan yang telah manunggal ke dalam diri manusia sempurna. Dalam hal ini, kita tidak perlu sibuk mengurusi istilah-istilah monoisme, panteisme dan sebagainya. Yang jelas, doktrin tauhid “tidak ada Tuhan selain Allah” adalah final/ syekh Siti Jenar memberikan makna terhadap doktrin itu,”Bahwa tidak ada yang benar-benar ada kecuali esensi Illahi dengan makhluk-makhluk yang mempunyai mode yang secara ciptaan bersifat kreatif”


Ranggawarsito, salah seorang penerus ajaran Syekh Siti Jenar mengemukakan :
mungguh urip kita iku, tetelane Manawa dadi tajalining Dzat Kang Amaha Suci Sejati, dene kayekten kang dadi tandhane kadunungan angen-angen ambabarake budidaya, ing kono ora beda karo Kang Kawasa amedharake kudrat karo iradat. (Serat Wirid Maklumat Jati, hlm 5)
Adapun hidup kita itu sesungguhnya menjadi tajali dari Dzat Yang Maha Suci Sejati. Adapun kebenaran yang menjadi tandanya adalah manusia memiliki angan-angan membeberkan budidaya. Disitu tidak berbeda dengan Yang Kuasa membeberkan kodrat dan iradat-Nya.


Melihat berbagai penjelasan tersebut, maka bagi Syekh Siti Jenar sebenarnya hijab pada manusia dalam kerangka hubungannya dengan Allah sebenarnya tidak ada. Yang terjadi adalah terpahatnya hati oleh bayangan benda-benda yang melekatinya, sehingga menutup sedikit demi sedikit cahaya Illahi dalam hati. Oleh karenanya penggunaan hak fundamental menjadi manusia Illahi harus menghilangkan apa yang kemudian disebut hijab tersebut dengan laku spiritual. Semakin lekat dan tebal bayangan benda duniawi dalam hati, dan semakin hal itu menggantungi kesadarannya, maka harus semakin keras disiplin ia menempuh laku spiritual. Apa yang menjadi anggapan Syekh Siti Jenar ini mendapatkan pembenaran dari al-Sukandari (al-Hikam) :


“Al-Haqq (Allah) tidak pernah ter-hijab darimu, malahan engkaulah yang ter-hijab dari melihat-Nya. Bila sekiranya ada sesuatu yang meng-hijab Allah, berarti sesuatu itu dapat menutup Allah, dan sekiranya ada tutup bagi Allah, berarti Wujud Allah terbatasi dan sesuatu yang membatasi itu dapat menguasai terhadap yang dibatasi, padahal Allah adalah yang berkuasa atas semua hamba-Nya”.


Oleh karenanya Dzat Yang Haqq itu tidak dapat etrhijab oleh segala apa pun. Orang –orang yang ter-hijab dan terjerumus dalam noda hati memiliki keyakinan bahwa “sesuatu” dapat menjadi hijab. Hal ini sebenarnya adalah ilusi manusia yang kurang mau membuka diri atas kelalaian dan kelemahan dirinya.


“Tidak ada sesuatu dari benda di sisi Allah yang meng-hijab dirimu dari-Nya, karena segala sesuatu selain Allah itu tidaklah ada. Sudah tentu, bayangan (ilusi) suatu beda disisi Allah adalah apa yang meng-hijab-mu dari-Nya” (al-Sukandari dalam al-Hikam”.


Pemaknaan Tuhan sebagai Yang Esensi ini terjadi karena justru Tuhan menghendaki agar rahasia ke-Illahian-Nya bisa tersingkap oleh adanya alam raya, dan alam raya sungguh-sungguh merupakan sifat-Nya. Alam merupakan perwujudan rahasia Illahiah yang harus ditembus oleh manusia yangmerupakan bagian dari alam raya ini. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ibn ‘Atha’illah, bahwa “Apa yang tersembunyi dalam alam ghaib (ghaib al-asa’ir) pasti akan termanifestasikan (tampak) dalam alam nyata (syahadah al-zhawahir)” (al-Hikam).


Oleh karena itu, pada tataran kemanusiaan berikutnya, individualitas manusia sendiri bukan sesuatu yang mutlak dan bukan suatu nilai pada dirinya sendiri. Karena sebenarnya semua suksma hanyalah merupakan ungkapan Suksma Illahi yang satu. Bagaikan air dalam pipa-pipa yang saling bergandengan, dari satu sumber dan semua pipa terpendam dalam tanah. Sehingga realitas manusia itu adalah satu. Bentuk luar berbeda, namun sisi kedalaman sama, satu. Individualitas manusia di dunia ini hanyalah sementara. Karena dalam batin terbuka dasar Illahi sebagai realitas manusia yang sebenarnya.


Pada tahapan awal setelah pengajaran Syekh Siti Jenar, memang konsep manunggaling Kawula Gusti baru berada dalam tataran pengertian yang diperoleh dengan kesadaran. Namun pengertian (kawruh) adalah lebih dari sekedar pengetahuan. Pengertian adalah suatu kejadian yang mengubah manusia itu sendiri. Yang memberikan dimensi dan kedalaman baru bagi eksistensinya, serta menjadi realitas baru manusia itu sendiri. Sehingga pengertian yang sebelumnya seakan tertutup dan belum operasional tersebut, kemudian diaktualisasikan. Disinilah maka nilai kawruh itu akan sanggup mengantarkan kepada keadaan manunggal antara “keakuan” menjadi “Aku Illahi”.

0 komentar:

Posting Komentar