Wirid Sebagai Upaya Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

Wirid dalam thariqah-thariqah biasanya dijadikan sebagai pegangan. Masing-masing thariqah, memiliki aurad (jama’ dari wirid-pen) yang berbeda-beda. Wirid adalah laku ruhani berupa pengucapan doa-doa dan Asma’ ul-Husna.

Wirid diamalkan sebagai bagian dari usaha mendekatkan diri kepada Allah di mana salah satu hasil dari wirid adalah tercapainya Warid, yaitu limpahan pengetahuan dan ketajaman ruhani pada diri pengamal wirid. Suatu Warid, akan menimbulkan kegaiban pada diri pengamal.

Namun pengaruh Warid tergantung kesiapan dan kemampuan untuk menerimanya karena masing-masing manusia memiliki kapasitas dan kemampuan berbeda. 

Mereka yang mampu akan memperoleh kegaiban Warid tanpa banyak mengalami perubahan. Namun yang kurang mampu, bisa menimbulkan kegilaan (Majnun).

Sedang bagi sebagian orang, melakoni wirid dengan tujuan memperoleh pahala dari Allah SWT untuk kehidupan ukhrawi dan sebagian yang lain melakoninya dengan tujuan memperoleh apa-apa yang diinginkan atau lebih mudahnya diistilahkan dengan kenikmatan hidup duniawi, Ya boleh-boleh saja, mereka yang istiqomah melakoni wirid untuk memperoleh kenikmatan dari Allah Swt. Karena secara logika dasar manusia hal itu sangat wajar, Sekalipun semua wirid, tidak pernah terpisah dari warid; yakni kenikmatan dari Tuhan yang diberikan kepada para pengamal wirid berupa pengetahuan dan ketajaman ruhani. Entah bagaimana awalnya, kenikmatan warid itu sering dimaknai berupa limpahan rejeki yang berlebih atau semacamnya yang kesemuanya bersifat materi.

Kaligrafi abstrak titik-titik di dalam ilmu di Jawa, warid tersebut lebih difahami sebagai kekuatan ruhani yang berkaitan dengan daya sakti yang melindungi orang seorang. Itu sebabnya, wirid-wirid tertentu dalam masyarakat Jawa sering dikaitkan dengan ilmu kanuragan, yakni sebuah disiplin ilmu yang menarik kekuatan-kekuatan supranatural dari Allah untuk digunakan oleh manusia. Ketika seseorang mengamalkan bagian wirid yang disebut hizb, akan ada ruh gaib lain yang kemudian hadir dan mengikuti diri pengamal hizb.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya bahwa ayat-ayat al-Qur’an akan selalu dijaga hingga yaumil qiyamah, Innaa nahnu nazzalnaa dzikro wa innaa lahu lahafidzun (Qs. Al-Hijr: 9). Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-qur’an dan Kamilah pemeliharanya. “Maka ketika ayat-ayat tersebut dibaca dalam wirid dan hizb yang diamalkan, bukan mustahil makhluk-makhluk penjaganya akan muncul dan masuk ke dalam diri pembacanya.

Oleh karenanya, dalam mengamalkan wirid seseorang harus sangat berhati-hati. Pilihlah wirid yang jelas penulis/penyusunnya serta telah dibaca oleh banyak orang dalam kurun waktu yang lama bahkan ratusan tahun. Seperti wird Wirdu al-Lathif. Yang memberi pengaruh jelas dalam taqarrub Ilallah dan tidak memberikan efek yang aneh-aneh karena disusun seorang waliyullah.

Sementara dalam dunia kaum sufi, wirid bukan digunakan untuk meraih kenikmatan dari Tuhan dengan menafsirkan warid sebagai kenikmatan ukhrawi maupun duniawi melainkan sebagai satu upaya untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta al-Khaliq. Karena al-warid adalah sarana dan bukan Allah itu sendiri. Sedangkan tujuan sufi adalah mencari Allah, di mana Allah bukanlah materi, sehingga untuk bertemu dengan Allah haruslah meninggalkan segala yang bersifat materi. Tak jarang para pengamal wirid kemudian tergelincir alias membelok karena kenikmatan yang diperoleh terus bertambah sehingga ia tak dapat lebih dekat dengan Allah apalagi sampai padaNya. Mereka itu terjebak dalam ujian kenikmatan yang bersifat duniawi.

Menurut pandangan ulama walisongo, bentuk ujian ada dua jenis. Yang pertama, dalam Bahasa Jawa disebut Diuji, yaitu diuji dengan macam-macam musibah, bencana, atau bala’ sebagaimana dalam firmanNya, Walanabluwannakum bisyaiin minal khoufi wal ju’i wa naqshin minal amwali wal anfusi wa tsamaroot (Qs. Al-Baqoroh: 155). Orang Jawa, cenderung kuat bertahan jika diuji. 

Yang kedua ujian disebut diujo atau dilulu, yaitu diuji dengan aneka kenikmatan-kenikmatan duniawi, seperti rizki yang berlimpah, kekuasaan, ketenaran, dan kehormatan, justru banyak dari mereka yang terjebak di sana sehingga ujian itu menjadikan mereka lupa terhadap kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Allah. Begitulah, orang sering gagal kalau diujo.

Hal ujian dalam bentuk diujo tersebut sebagaimana yang pernah terjadi pada seorang pemimpin thariqah di Malaysia, contohnya yang merupakan seorang pengamal wirid. Setelah memperoleh pengikut banyak, kekayaan yang luar biasa banyak, kemasyhuran, lama-kelamaan ia justru menempatkan diri sebagai pimpinan diluar lingkup umatnya selama ini, dengan mulai bicara soal politik. Bahkan ia berperan melebihi Kanjeng Nabi Muhammad SAW dengan menganjurkan kepada umat pengikutnya untuk menikah lebih dari satu, dua atau tiga dan seterusnya. Akhirnya, ia jatuh akibat politik. 

Karenanya, tak perlu kiranya kita belajar ilmu-ilmu dari tafsir wirid yang demikian, karena rejeki, kemuliaan, jabatan, kekuasaan, kehormatan dan lainnya pada dasarnya merupakan ujian juga. 

Dan semua akan kembali kepadaNya sebagaimana ayatNya; innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’un; bahwa kita adalah milik Allah dan akan kembali pada Allah. Karena itu pula Rasul bersabda : man kaana akhiru kalamihi laa ilaaha illallah dakhola al-jannah, barangsiapa di akhir hayatnya mengucap ‘laa ilaaha illallah’ masuklah ia ke surga.

Namun, apa yang disampaikan nabi tentang hadits tersebut, dalam realita sungguh tidak mudah. Belum tentu seseorang yang kehidupan sehari-hari berprofesi sebagai guru, da’i, atau bahkan pemimpin thariqah, lantas di akhir hayatnya selalu berakhir dengan qoul; Laa ilaaha illallah

Ada sebuah peristiwa lucu tapi berhikmah,  contoh dulu ada seorang pemimpin istighotsah dengan jama’ah yang cukup banyak. Lalu, dalam setiap majelis ia selalu menyampaikan, “Seng paling utomo iku dzikir,” karena menurutnya dengan membiasakan dzikir dan terus dzikir, lantas ketika ajal menjemput, yang diingat adalah kalimat thoyyibah. 

“Jangan seperti kernet angkot, yang setiap saat berteriak, ‘turi-turi’, ‘kromo..kromo’ untuk angkot jurusan pasarturi-wonokromo.” 

Lalu ustadz itu sakit selama 3 tahun berturut-turut. Mungkin sangking jengkelnya sakit tidak lekas sembuh, di hampir akhir hayatnya ia justru berteriak mengumpat Tuhan. Tidak sampai satu jam kemudian sang ustadz menghembuskan nafas terakhir.

Dari cerita itu, dapat diambil hikmah, agar kita tidak saling mengklaim bahwa golongan kitalah yang paling benar. Apalagi sampai meremehkan, merendahkan dan mengkafirkan golongan lain. 

Karenanya, sering-seringlah memohon ampun kepada Allah dan terus berdoa, mendekatkan diri padaNya, karena Allah Maha membolak-balikkan hati. 

Berdo’a sebagaimana do’a Nabi Yunus saat berada di dalam perut ikan; laailaha ila Anta subhaanaka innii kuntu minadholimiin.

0 komentar:

Posting Komentar