Lambaga, Kepercayaan, Keyakinan dan Naktu Yang Masih Dipakai Orang Sunda

Lambaga, Kepercayan, Keyakinan dan  Naktu (perhitungan) yang masih dipakai oleh Urang Sunda terutama di Daerah Pedesaan, walaupun ada pedesaan yang sudah tidak mempergunakan

Lambaga
Lambaga adalah suatu hal yang diwajibkan oleh adat
Lambaga : Adat istiadat adalah satu pakem yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi dan yakini betul keberadaannya, dan apabila orang melanggarnya akan dikenakan sangsi, baik dari masyarakat maupun sangsi atas keyakinan dari penguasa alam lain
Tradisi adalah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh  masyarakat sunda yang sudah menjadi perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Keyakinan adalah kepercayaan yang sangat mendalam terhadap sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat religi.


Kepercayaan

a. Makhluk Halus
Makhluk halus menurut orang Sunda (Prof.Dr. Edi s. Ekadjati. Masyarakat Sunda dan kebudayaannya)
1. Dedemit adalah makhluk halusyang menempati tempat-tempat tertentu seperti mata air, batu besar, dan pohon-pohon besar yang suka mengganggu dengan jalan memasuki badan manusia
2. Jurig adalah sebangsa makhluk halus yang suka mengganggu anak-anak.
3. Ririwa adalah makhluk halus yang berasal dari roh orang yang baru meninggal, akibat kurang sempurna dalam menguburnya
4. Budak hideung (Tuyul) adalah sebangsa makhluk halus yang menyerupai anak-anak dengan kulit berwarna hitam, ia tidak suka mengganggu manusia.
5. Siluman adalah makhluk halus yang mempunyai kebutuhan seperti manusia.

b. Munjung
Munjung adalah jalan pintas ynutk memperoleh kekayaan, macam-macam munjung antara lain :
Munjung ke babi hutan (bagong) disebut nyegik
Munjung ke ular disebut ngipri
Munjung ke monyet disebut ngetek atau nyupang

Keyakinan Orang Sunda Mengenai
~ Imah
~ Jodo
~ Makhluk Gaib
~ Karuhun
~ Rezeki
~ Mitologi

Hitungan Naktu

Naktu adalah keyakinan orang sunda mengenai itungan (perhitungan) untuk kebahagiaan dunia, akherat dan peliharaan.
Naktu di bagi menjadi beberapa bagian yaitu :

Naktu Poe :
1.  Ahad    : 5
2.  Senen   : 4
3.  Salasa  : 3
4.  Rebo    : 7
5.  Kemis   : 8
6.  Jumaah  : 6
7.  Saptu   : 9

Naktu Bulan :
1.  Muharam      : 7
2.  Safar        : 2
3.  Maulud       : 3
4.  Silih mulud  : 5
5.  Jumadil awal : 6
6.  Jumadil akhir: 1
7.  Rajab        : 2
8.  Rewah        : 4
9.  Puasa        : 5
10. syawal       : 7
11. hapit        : 1
12. rayagung     : 3

Naktu Tahun :
1.  Alip    : 1
2.  He      : 5
3.  Jim     : 3
4.  Je      : 7
5.  Dal     : 4
6.  Be      : 2
7.  Wau     : 6
8.  Jim Akhir : 3

Pasaran Poe :
1.  Manis   : 5
2.  Pahing  : 9
3.  Pon     : 7
4.  Kaliwon : 8
5.  Wage    : 4

Patokan Kahirupan :
1.  Sri     : Alus
2.  Lungguh : Plin-plan
3.  Dunya   : Beunghar
4.  Lara    : Susah
5.  Pati    : Deukeut kana picilakaeun

Nama Orang Diambil Dari :
a.  Ha  : 1
b.  Na  : 2
c.  Ca  : 3
d.  Ra  : 4
e.  Ka  : 5
f.  Da  : 6
g.  Ta  : 7
h.  Sa  : 8
i.  Wa  : 9
j.  La  : 10
k.  Pa  : 11
l.  Ja  : 12
m.  Ya  : 13
n.  Nya : 14
o.  Ma  : 15
p.  Ga  : 16
q.  Ba  : 17
r.  Nga : 18

Lambang Lahir (Arti Lahir) :
1. Senen  : kembang : mudah dikenal
2. Salasa : seuneu  : gede ambek
3. Rebo   : daun    : ngiuhan
4. Kemis  : angin   : teu boga pendirian
5. Jum’at : cai     : nyieun kasuburan
6. Sabtu  : bumi    : membumi
7. Ahad   : mega    : luhur

Nami Dinten Dina kalender Sunda:
senen  : soma
salasa : anggara
rebo   : buda
kemis  : respati
jumaah : sukra
saptu  : tumpek
ahad   : radite

Peliharaan :
Otek   : loba nu ngutak-ngatik
Obel   : sok aya nu maling
Jandra : jadi
Iwa    : jadi lauk pauk (didahar)

Larangan Bulan
Larangan bulan adalah hari-hari yang tidak boleh melakukan kegiatan yang sifatnya : membeli, menanam, beternak.

Kala
Kala adalah arah yang berdasarkan arah angin dan tidak boleh dijelajah.

Tempat Kala :
1. Ahad      : Kala di sebelah Timur Lurus
2. Senen     : Kala di sebelah Barat Lurus
3. Salasa    : Kala di sebelah Barat Miring
4. Rebo      : Kala di sebelah Barat Laut
5. Kemis    : Kala di sebelah Timur Miring
6. Jumaah : Kala di sebelah Barat Daya
7. Sabtu     : Kala di sebelah Timur Lurus


Kosmologi sunda
kosmologi sunda berasal dari kata kosmos yang artinya susunan, tatanan, ketertiban. Kosmologi berarti ilmu pengetahuan tentang dunia atau tata alam semesta, satu catatan penting kosmologi termasuk ilmu filsafat. Menurut anton baker (dalam jakob soemardjo), dalam kosmologi manusia bertanya : dunia ini apa? Materi itu apa? Ruang dan waktu itu apa? Penyebab atau kausalitas itu apa? Pertanyaan-pertanyaan itu memancing atau mendorong manusia memikirkan dunia sebagai suatu keseluruhan menurut dasarnya, menurut intinya dan tempatnya dalam keseluruhan.

kosmologi sunda membicrakan tata dunia menurut pandangan  masyarakat sunda, karena masyarakat sunda itu berubah sepanjang sejarah keberadaanya, maka pandangan dunianya juga berubah-ubah. Dengan demikian terdapat berbagai kosmologi sunda sesuai dengan perubahan masyarakatnya.

Menurut Edi S. Ekadjati didalam Islam jagat raya terdiri dari 5 alam, yaitu alam roh, alam rahim, alam dunia, alam barzah, dan alam akhirat. Kosmologi menurut konsep Islam didasarkan pada kronologis kehidupan manusia (dan makhluk lainnya). 

Sedangkan Naskah Kosmologi Sunda membagi menjadi 3 alam, yaitu bumi sangkala (dunia nyata), buana niskala (alam gaib), dan buana jatiniskala (dunia atau alam kemahagaiban sejati).

Bumi sangkala, alam nyata di dunia tempat kehidupan makhluk yang me miliki jasmani (raga) dan rohani (jiwa), yakni manusia, hewan, tumbuhan, dan benda lain yang dapat dilihat baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Buana niskala, alam gaib tempat tinggal makhluk gaib yang wujudnya hanya tergambar dalam imajinasi manusia, seperti dewa-dewi, bidadara-bidadari, apsara-apsari, dll. Jumlah dan ragam makhluk tersebut banyak dan bisa bergabung satu dengan lainnya serta berkedudukan lebih tinggi dari manusia. Buana niskala, merupakan katalain dari surga dan neraka”.

Kosmologi Sunda membicarakan tata dunia menurut pandangan masya­rakat Sunda. Karena masyarakat Sunda itu berubah sepanjang sejarah keberadaann ya, make pandangan dunianya juga berubah-rubah. Dengan demikian terdapat berbagai kosmologi Sunda sesuai dengan perubahan masyarakatnya. Tetapi perubahan itu dapat dijelaskan penyebabnya atau difahami kausalitasnya, sebab perubahan adalah sesuatu menja­di sesuatu yang lain dari sesuatu itu sendiri. Sunda menjadi Sunda yang baru deri kesundaan itu sendiri. dengan demikian perlu dicari pengetahuan kosmologi sunda yang diduga monjadi kosmologi awalnya.

Naskah Kosmologi Sunda merupakan sebuah cerminan atau gambaran manusia penghuni dan tingkat kegaiban dari masing-masing alam. Digambarkan pula kedudukan masing-masing, baik makrokosmos (yang berhubungan dengan masalah Sang Hyang Tunggal/ jatiniskala) yang menciptakan batas, tetapi tidak terkena batas, maupun penghuninya yang disebut bumi niskala. Namun naskah tersebut tidak mengungkapkan adanya alam yang dihuni oleh roh manusia sebelum lahir ke alam dunia (bumi sakala).

Jatiniskala ini merupakan ruang dn waktu zat yang tunggal, Jatiniskala menjadikan dirinya Sang Hyang Tunggal yang dikenal manusia selama ini. Sang Hyang Tunggl “Menjelma keluar dari ketiadaan” bersama munculnya tekad, ucapan dan tenaga dari ketiadaan.

Teks buhun umumnya mengabarkan perihal cita-cita urang sunda buhun jika meninggalkan alam dunya, yakni “balik ka Hiyang, lain ka Dewa”. Namun yang menentukan tempat seseorang sesudah kematian adalah sikap, perilaku, dan perbuatannya selama ia hidup di dunia. Jika sikap, perilaku, dan perbuatannya buruk dan bertentangan dengan ajaran agama, maka akan kembali lagi ke alam dunia dalam wujud yang lebih rendah derajatnya (kepercayaan reinkarnasi) atau masuk ke dalam siksa neraka. Jika sikap, perilaku, dan perbuatannya baik ia (rohnya) akan naik menuju alam niskala yang menyenangkan (surga). Mungkin masalah ini lebih jelas diuraikan didalam Naskah Sewakadarma, sebagaimana yang dijelaskan Ayatrohaedi. Pada intinya menguraikan cara persiapan menghadapi maut dengan cara yang indah, serta bagaimana ketika jiwa setelah meninggalkan raganya.

Lebih jauh Edi S. Ekadjati menjelaskan tentang makna Kosmologi Sunda yang terkandung dalam naskah, bahwa : konsep kosmologi Sunda Kuna bukan hanya dimaksudkan untuk pengetahuan semata-mata mengenai struktur jagat raya, melainkan lebih ditujukan sebagai media agar kehidupan manusia jelas tujuan akhirnya, yaitu kebahagiaan dan ketenteraman hidup di buana niskala dan buana jatiniskala yang abadi.

Kosmologi Masyarakat Sunda

Dalam Kosmologi dikisahkan, munculnya keberadaan ini pada awalnya sebelum apa yang disebut ada adalah tidak ada. Kosmologi Sunda menyebutkan tidak ada itu sebagai awing-awang uwung-uwungan. Itulah kosong yang mutlak. Sedangkan dalam bahasa sunda yang kita kenal sekarang adalah Ayana Aya, Ayana Euweuh. Euweuh teh Aya, Aya teh Euweuh ). Suatu pernyataan yang seolah-olah tanpa makna dan arti. Kita tidak banyak tau apa arti dari pada “tida ada itu” atau kosong mutlak tersebut. Carl Gustav Jung, menjelaskan paradoks Sunda ini, “Saya mulai dengan kekosongan, kehampaan”. Kosong yang dimaksud disini sama dengan kepenuhan. Kekosongan adalah kedua hal tersebut, kosong dan penuh. Sesuatu hal yang tidak terbatas dan abadi tidak membawa sifat, karena dia memiliki semua sifat.

Kekososngan yang dimaksud dalam kosmologi masyarakat Baduy muncul keluar dari tiga batara, yaitu Batara Keresa, Batara Kawasa, dan Batara Bima Maha Karana. Ketiga Batara ini sebenarnya menyatu atau satu yang disebut Sang Hyang Tunggal.

Keresa adalah kehendak, rasa dan nurani. Kawasa adalah kekuasaan, kekuatan dan tenaga. Mha karana adalah penyebab utama yang berarti ucapan, pikiran dan kata-kata. Dengan demikian Sang Hyang Tunggal adalah entitas tunggal dari entitas sebelumnya, meloncat keluar dari tidak ada menjadi ada. Itulah awal mula terjadinya segala sesuatu ini atau munculnya  bumi sangkala dan buana niskala.

Hakikat Kosmologi Sunda
Keberadaan yang tidak mungkin didekati oleh manusia adalah alam kekosongan, yang dalam kitab jatiraga disebut alam ketiadaan yang ditempati oleh Sang Hyang Tunggal. Dalam Kosmologi sunda selain kehendak secara serentak juga bereksisteni pikiran (Ucapan, logos) dan tenaga (kekuatan, kawasa, kuasa, perbuatan lahir). Ketiganya ini menyatu atau ada dalam Sang Hyang Tunggal. Penataan dunia Sunda dimulai dari munculnya keberadaan empirik yang pertama yaitu munculnya Sang Hyang Tunggal. Karena Sang Hyang Tunggal ini muncul dari tiga kemampuan atau potensi, yakni Keresa, Kawasa dan Karana (kehendak, kuasa dan sebab). Maka sekarang mucul sebuah pertanyaan bagaiman sistem hubungan ketiganya itu yaitu, hukum sebab akibat atau kausalitas.

Sebagian orang menggap bahwa apa yang ada sekarang ini hanya merupakan sebuah kebetulan saja, sebab awalnya adalah karena kebetulan atau hukum alam, tidak ada yang menciptakan atau mengendalikan. Apakah itu semua dibenarkan dalam kosmologi sunda? Sebelumnya telah dibahas bahwa dalam kosmologi sunda mengenal adanya awing-awang uwung-uwung (kosong) yang di dalamnya ada kehendak, pikiran dan kekuata ketiganya ini ada dalam satu kesatuan yaitu Sang Hyang Tunggal. Dalam kitab jatirasa sendiri mengenal adanya Alam Jati Niskala (Sang Hyang Tunggal/Si Ijuna Jati), Alam Niskala (Alam Kedewaan) dan alam sakala (Alam manusia).

Dari keterangan yang sudah dijelaskan diatas ini jelas bahwa dunia ini muncul dari sebuah kekosongan, kosong ini muncul karena dirinya, kemudian dia mengadakan alam Niskala dan alam Sakala. Ini semua menandakan bahwa apa yang ada, dimunculkan atau berasal dari sebuah kekosongan (tidak ada) dan kekosongan itu sendiri sebenarnya yang benar-benar ada (mutlak keberadaanya).

Penutup

Keberadaan yang tidak mungkin didekati oleh manusia adalah alam kekosongan, yang dalam kitab jatiraga disebut alam ketiadaan yang ditempati oleh Sang Hyang Tunggal. Dalam Kosmologi sunda selain kehendak secara serentak juga bereksisteni pikiran ( Ucapan, logos) dan tenaga (kekuata, kawasa, kuasa, perbuatan lahir). Ketiganya ini menyatau atau ada dalam Sang Hyang Tunggal. Penataan dunia Sunda dimulai dari munculnya keberadaan empirik yang pertama yaitu munculnya Sang Hyang Tungga. Karena Sang Hyang Tunggal ini muncul dari tiga kemampuan atau potensi, yakni Keresa, Kawasa dan Karana (kehendak, kuasa dan sebab). Maka sekarang mucul sebuah pertanyaa bagaiman sistem hubungan ketiganya itu yaitu, hukum sebab akibat atau kausalitas.

Sebagian orang menggap bahwa apa yang ada sekarang ini hanya merupakan sebuah kebetulan saja, sebab awalnya adalah karena kebetulan atau hukum alam, tidak ada yang menciptakan atau mengendalikan. Apakah itu semua dibenarkan dalam kosmologi sunda? Sebelumnya telah dibahasa bahwa dalam kosmologi sunda mengenal adanya awing-awang uwung-uwung (kosong) yang di dalamnya ada kehendak, pikiran dan kekuata ketiganya ini ada dalam satu kesatuan yaitu Sang Hyang Tunggal. Dalam kitab jatirasa sendiri mengenal adanya Alam Jati Niskala (Sang Hyang Tunggal/Si Ijuna Jati), Alam Niskala (Alam Kedewaan) dan alam sakala (Alam manusia).

Dari keterangan yang sudah dijelaskan diatas ini jelas bahwa dunia ini muncul dari sebuah kekosongan, kosong ini muncul karena dirinya, kemudian dia mengadakan alam Niskala dan alam Sakala. Ini semua menandakan bahwa apa yang ada, dimunculkan atau berasal dari sebuah kekosongan (tidak ada) dan kekosongan itu sendiri sebenarnya yang benar-benar ada (mutlak keberadaanya).

0 komentar:

Posting Komentar